periskop.id - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menutup sembilan bulan pertama 2025 dengan kinerja operasional yang solid, meski industri batu bara global masih dibayangi tekanan harga. Di tengah kondisi industri yang menantang, AADI berhasil mencatatkan volume penjualan sebesar 52,69 juta ton hingga sembilan bulan pertama 2025 (9M25), dengan nisbah kupas mencapai 4,2 kali.
Capaian ini dinilai masih berada di jalur yang tepat untuk memenuhi panduan kinerja tahun 2025. Perusahaan sendiri menargetkan penjualan batu bara sebesar 65 hingga 67 juta ton dengan panduan nisbah kupas sekitar 4,3 kali.
“Hingga 9M25, volume penjualan Perusahaan telah mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas 4.2x. Hasil kinerja ini sejalan dengan panduan penjualan Perusahaan di tahun 2025 yang sebesar 65-67 juta ton batu bara dan panduan nisbah kupas sebesar 4.3x,” ungkap Direktur PT Adaro Andalan Indonesia Tbk Lie Luckman dalam keterangan resmi, Selasa (23/12).
Sepanjang 2025, AADI mencermati pasar batu bara termal masih menghadapi tantangan dari sisi harga. Melimpahnya pasokan akibat peningkatan produksi dari sejumlah negara produsen utama, yang dibarengi dengan penurunan permintaan musiman, memberikan tekanan terhadap harga jual batu bara di pasar global.
Meski berada di tengah tekanan tersebut, AADI optimistis batu bara diproyeksikan tetap memainkan peran penting dalam bauran energi global. Hal ini seiring dengan pertumbuhan kebutuhan energi dalam jangka panjang, terutama di negara-negara berkembang yang masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama.
Dari sisi pasar, Indonesia masih menjadi tujuan penjualan terbesar perusahaan. Hal ini mencerminkan kuatnya permintaan domestik, khususnya dari sektor pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Selain pasar dalam negeri, AADI juga melayani sejumlah negara tujuan ekspor utama, antara lain Malaysia, India, dan China, dengan basis pelanggan yang didominasi oleh PLTU dan end-user industri lainnya.
Tekanan harga batu bara turut berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Hingga September 2025, AADI membukukan pendapatan sebesar US$3,609 miliar, atau turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, laba bersih perusahaan tercatat sebesar US$655 juta, terkoreksi 44% secara tahunan seiring dengan normalisasi harga batu bara dari level tinggi sebelumnya.
Realisasi Capex
Di sisi lain, AADI tetap melanjutkan investasi strategis untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Hingga September 2025, belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan telah mencapai US$243 juta.
Belanja modal tersebut terutama dialokasikan untuk pengembangan pembangkit listrik guna mendukung aktivitas industri di Kalimantan Utara, pembelian armada tongkang, serta penguatan sarana pendukung di sepanjang rantai pasok perusahaan. Realisasi belanja modal ini masih berada dalam koridor panduan awal tahun sebesar US$250 hingga US$300 juta.
“Belanja modal ini sejalan dengan panduan Perusahaan di awal tahun yang sebesar AS$250-AS$300 juta.
Perusahaan terus berupaya menerapkan tata kelola yang baik, disiplin keuangan, upaya-upaya peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya di tengah volatilitas pasar,” kata Lie.
Tinggalkan Komentar
Komentar