periskop.id - Siapa sangka selera politik Gen Z telah bergeser drastis? Hal ini terungkap saat Muda Bicara merilis hasil Survei Nasional Q4 mengenai persepsi akhir tahun kelompok muda terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam segmen Pandangan Kelompok Muda terhadap Bursa Calon Wakil Presiden (Cawapres) Pemilu 2029, terlihat jelas bahwa popularitas saja tidak lagi cukup. Lantas, siapa saja 10 nama yang menurut kelompok muda layak menjadi cawapres di pemilu 2029? Mari kita bedah satu per satu.

1. Dedi Mulyadi (18,38%)

Menduduki peringkat pertama, Dedi membuktikan bahwa gaya politik jemput bola masih menjadi primadona. Gubernur Jawa Barat ini sangat cerdik memanfaatkan media sosial bukan sekadar untuk pencitraan kaku, melainkan menampilkan dirinya sebagai problem solver atas masalah-masalah rakyat kecil yang relatable. Bagi anak muda yang lelah dengan birokrasi rumit, sosok Dedi yang terlihat turun langsung, mendamaikan sengketa warga, dan berbicara dengan bahasa sederhana, dianggap sebagai figur pemimpin yang membumi. Tingginya angka ini adalah sinyal bahwa gen Z merindukan pejabat yang mudah dijangkau, serta responsif terhadap isu-isu mikro di lapangan.

2. Purbaya Yudhi Sadewa (14,00%)

Munculnya nama Purbaya di posisi runner-up menjadi temuan yang menarik. Capaian ini menunjukkan ketertarikan sebagian pemilih muda terhadap figur berlatar belakang teknokratis dan profesional. Purbaya dikenal memiliki pengalaman kuat di bidang ekonomi dan kebijakan publik, sehingga dipersepsikan merepresentasikan kompetensi dan stabilitas. Dukungan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa sebagian generasi muda mulai mempertimbangkan kepemimpinan berbasis data dan keahlian sebagai alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar kerja yang mereka hadapi.

3. Muzakir Manaf (13,50%)

Posisi ketiga ditempati oleh Muzakir Manaf, tokoh sentral dari Aceh. Tingginya elektabilitas Muzakir berkaitan erat dengan persepsi positif atas kinerjanya dalam penanganan bencana dan rekonstruksi pascagempa di Aceh. Bagi generasi muda, kemampuan crisis management adalah indikator vital kepemimpinan. Mereka melihat Muzakir bukan hanya sebagai tokoh daerah, tetapi pemimpin yang teruji mentalitas dan manajerialnya saat situasi genting.

4. Agus Harimurti Yudhoyono (11,88%)

AHY tetap menjadi figur yang stabil di mata anak muda. Sebagai ketua umum partai dan menteri di kabinet, AHY memiliki brand awareness yang sangat kuat. Dukungan tersebut mengindikasikan bahwa AHY menarik bagi pemilih muda yang cenderung moderat dan menghargai gaya kepemimpinan yang terstruktur serta disiplin. Namun, capaian ini juga menunjukkan tantangan bagi AHY untuk memperluas dukungan di tengah persaingan dengan figur lain yang lebih aktif dan ekspresif di media digital.

5. Pramono Anung (8,88%)

Keberadaan politisi senior PDIP ini di lima besar cukup menarik. Anak muda sepertinya mulai melihat sisi lain Pramono yang lebih cair dan komunikatif, lepas dari kesan kaku elit partai. Analisis sederhananya, Pramono dianggap sebagai figur jalan tengah atau mediator yang ulung. Pengalamannya yang panjang di pemerintahan memberikan jaminan stabilitas politik. Bagi sebagian anak muda yang pragmatis, sosok berpengalaman seperti Pramono adalah opsi aman di tengah gejolak politik yang sering kali bising tanpa solusi.

6. Anies Baswedan (8,63%)

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengalami penurunan posisi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan masa pemilihan presiden 2024 lalu. Anies tampaknya kehilangan momentum pascapemilu karena tidak adanya panggung jabatan publik saat ini. Namun, basis pendukung setianya di kalangan anak muda masih terjaga. Tantangan bagi Anies ke depan adalah menjaga relevansi isu. Anak muda menyukai gagasan perubahan yang ia bawa, tetapi tanpa instrumen jabatan untuk mengeksekusi ide tersebut, pesonanya berisiko perlahan memudar dimakan waktu menuju 2029.

7. Sherly Tjoanda (7,25%)

Masuknya nama Sherly memberikan warna tersendiri dalam daftar ini. Sosok perempuan yang memiliki latar belakang kuat di wilayah Indonesia Timur (Maluku Utara) ini merepresentasikan suara dari luar Jawa serta keterwakilan perempuan. Dukungan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa sebagian generasi muda mulai menilai figur kepemimpinan berdasarkan keterbukaan pemilih muda terhadap representasi perempuan dalam kepemimpinan politik, dengan penekanan pada hasil kerja dan kemampuan menghadapi kompleksitas daerah.

8. Mahfud MD (6,63%)

Dikenal sebagai pendekar hukum, Mahfud MD memiliki segmen pemilih yang sangat spesifik, mereka yang peduli pada isu penegakan hukum dan anti-korupsi. Namun, posisi di angka 6,63% mengindikasikan bahwa isu integritas saja belum cukup untuk mendongkrak elektabilitas secara masif di kalangan anak muda untuk tahun 2029. Gaya komunikasi Mahfud yang to the point dan tanpa kompromi memang disukai, tetapi mungkin dianggap terlalu kaku atau kurang menawarkan visi ekonomi yang menjadi keresahan utama Gen Z saat ini. Mahfud tetap dihormati, namun belum tentu dipilih sebagai eksekutif utama.

9. Gibran Rakabuming Raka (6,13%)

Hasil survei ini menempatkan Gibran Rakabuming di posisi ke-9, sebuah catatan penting mengingat statusnya sebagai Wakil Presiden. Temuan ini menunjukkan bahwa jabatan tinggi tidak otomatis menjamin dukungan kuat dari generasi muda. Justru sebaliknya, anak muda cenderung semakin kritis ketika seseorang berada di puncak kekuasaan. Bagi pemilih muda, yang dinilai bukanlah status atau latar belakang keluarga, melainkan kinerja dan dampak nyata kebijakan. Jika hasil kepemimpinan belum dirasakan langsung atau memunculkan polemik, dukungan bisa dengan cepat berubah. 

10. Ferry Irwandi (4,75%)

Nama Ferry menjadi sinyal penting yang patut dicermati partai politik. Meski bukan berasal dari dunia politik, ia dikenal sebagai kreator konten dan aktivis yang kerap mengajak publik berpikir kritis dengan pendekatan rasional dan berbasis logika. Angka 4,75% ini bukan sekadar angka kecil, melainkan simbol perlawanan dan alternatif. Kehadirannya menandakan bahwa sebagian anak muda mulai mencari alternatif di luar politisi konvensional. Ferry mewakili aspirasi pemuda yang ingin politik masuk akal, edukatif, dan jujur, bukan sekadar deretan janji kampanye.