Periskop.id - Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan pesan mendalam dan penuh kekhawatiran melalui akun resmi X miliknya pada Senin (19/1). 

Dalam serangkaian pemikirannya, tokoh yang dikenal memiliki latar belakang militer dan diplomasi internasional ini menyoroti dinamika global yang kian memanas, bahkan menyebut dunia saat ini sedang berada pada titik yang menyerupai situasi menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Selama tiga tahun terakhir, SBY mengaku terus memantau perkembangan dunia dengan seksama. Sebagai sosok yang puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian, serta sejarah peperangan, ia merasakan adanya kecemasan besar bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

"Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," tulis SBY.

Meskipun ia meyakini perang besar masih bisa dicegah, ia memberikan catatan kritis bahwa ruang dan waktu untuk melakukan pencegahan tersebut semakin hari semakin menyempit. 

SBY menggarisbawahi beberapa kemiripan situasi saat ini dengan periode tahun 1914 dan 1939, di antaranya adalah munculnya pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya blok persekutuan yang saling berhadapan, hingga pembangunan militer serta mesin perang secara besar-besaran.

Kekhawatiran utama SBY tidak hanya terletak pada konflik konvensional, melainkan penggunaan senjata nuklir yang dapat mengakhiri peradaban manusia. Mengutip berbagai studi, SBY memaparkan dampak mengerikan jika perang total terjadi.

"Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa doa dari 8,3 miliar penduduk bumi saja tidak cukup. Menurutnya, Tuhan tidak akan mengabulkan keselamatan dunia jika manusia dan bangsa-bangsa di dalamnya tidak bekerja nyata untuk menyelamatkan buminya sendiri.

SBY secara spesifik menunjuk konflik Iran dan Israel sebagai pemicu yang sangat berbahaya. Jika konflik ini menjadi tidak terkendali (out of control), maka malapetaka global tidak akan terhindarkan. Dalam pandangannya, masa depan perdamaian dunia kini berada di tangan lima pemimpin kuat.

"Masa depan dunia, dari sisi perdamaian dan keamanan, ke depan ini akan ditentukan oleh lima orang kuat (strong men). Yang pertama dan kedua adalah Benjamin Netanyahu dan Ali Khamenei. Sedangkan yang ketiga, keempat dan kelima (yang lebih kuat lagi) adalah Donald Trump, Vladimir Putin dan Xi Jinping," jelas SBY dalam tulisannya.

SBY berharap kelima pemimpin ini diberikan kearifan jiwa agar tidak melakukan salah hitung atau miscalculation yang bisa berujung pada kematian massal di banyak negara.

Sebagai langkah konkret, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif. Ia menyadari bahwa saat ini PBB mungkin terlihat tidak berdaya, namun ia mendesak agar organisasi internasional tersebut tidak diam saja.

"Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly)," tulisnya.

Tujuannya adalah untuk merumuskan langkah nyata mencegah krisis skala besar. SBY menutup pesannya dengan mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein, yang menekankan bahwa kehancuran dunia terjadi karena orang-orang baik memilih untuk diam dan membiarkan kejahatan menang.

"Perang besar, apalagi Perang Dunia ke-3, masih bisa dicegah. Harus bisa dicegah. Waktu dan jalan masih ada," pungkasnya dengan nada optimistis namun tetap waspada.