Periskop.id - Istana Kepresidenan merespons hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan penurunan kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pemerintah tidak bekerja demi mengejar angka survei semata.
Prasetyo menjelaskan, sikap tersebut sudah disampaikan sejak awal pemerintahan berjalan. Ia menegaskan kinerja kabinet tidak diukur dari hasil jajak pendapat, melainkan dari dampak nyata program terhadap masyarakat.
"Sejak awal selalu kami sampaikan bahwa kami bekerja bukan dalam rangka mencari survei," kata Prasetyo dalam keterangan video Sekretariat Presiden, Kamis malam (30/7).
Prasetyo memaparkan, pemerintah yakin program-program yang dibawa Prabowo membawa manfaat bagi masyarakat. Karena itu, seluruh kementerian dan lembaga diminta terus menjalankan program yang diusulkan presiden.
"Kami tidak pernah melihat atau bekerja hanya untuk mengejar sebuah survei. Tapi dari apa yang kami kerjakan, kami yakin rakyat akan bisa menerima apa yang sudah kita jalankan sebagai janji kampanye," ucap Prasetyo.
Ia menambahkan, pemerintah memahami bangsa Indonesia punya cita-cita bersama untuk semakin maju, sejahtera, dan mandiri di berbagai bidang. Ketahanan pangan, energi, industrialisasi, hingga hilirisasi disebut jadi fokus capaian tersebut.
Tanggapan Istana ini muncul setelah SMRC merilis hasil survei elektabilitas calon presiden pada Rabu (29/7). Hasil survei tersebut menunjukkan Prabowo berpotensi kalah jika pemilihan presiden digelar saat ini.
Dalam simulasi pemilu semi terbuka, Prabowo hanya menempati posisi kedua. Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani memaparkan, Prabowo memperoleh 14,5% suara responden, kalah dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang meraih 35%.
Elektabilitas Prabowo dalam simulasi tersebut disebut terus tergerus selama sembilan bulan terakhir, dari 34,9% pada November 2026 menjadi 14,5% pada Juli 2026. Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi melonjak dari 19,7% ke 35% dalam periode yang sama, menurut Deni.
Deni menjelaskan, survei ini melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak dari populasi warga Indonesia pemilik hak pilih. Sebanyak 83,8% responden diwawancarai lewat telepon, sedangkan 16,2% sisanya diwawancarai secara tatap muka sesuai proporsi populasi pengguna ponsel.
Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 3,7% dan dilaksanakan pada 5-19 Juli 2026.
"Bila pemilihan presiden dilakukan sekarang dan Prabowo maju sebagai calon, kemungkinan dia tidak akan terpilih kembali," kata Deni.
Tinggalkan Komentar
Komentar