periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal menembus ke level 9.000 hingga akhir 2025 meski ditutup menguat. Berdasarkan data penutupan perdagangan terakhir tahun ini, IHSG naik tipis 0,03% atau sekitar 2,68 poin ke level 8.646,93, sekaligus mengakhiri harapan pasar yang sempat membidik indeks menyentuh level 9.000.

Meski belum mencapai target tersebut, Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Armand Wahyudi Hartono menilai pergerakan IHSG bukan sesuatu yang bisa diramal ataupun dikendalikan oleh pelaku pasar. Menurutnya, dinamika indeks sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, sementara asosiasi dan pelaku industri hanya dapat memastikan ekosistem pasar modal tetap berjalan dengan baik dan sehat.

"Kita bukan peramal, nggak tahu. Kita kerja saja,” kata Armand kepada wartawan usai menghadiri agenda penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (31/12).

Meski IHSG belum berhasil menyentuh level 9.000, Armand mengklaim capaian tersebut tetap patut diapresiasi. Ia menegaskan angka indeks bukan satu-satunya indikator untuk menilai keberhasilan pasar modal, selama pertumbuhan ekosistem dan kepercayaan investor terus terjaga.

Armand mengakui belum tercapaianya target di tahun 2025 ini dipicu oleh pasar modal yang menghadapi tekanan cukup besar, terutama pada semester pertama. Berbagai tantangan tersebut sempat membebani pergerakan indeks. Namun, kondisi pasar mulai membaik memasuki paruh kedua tahun, yang tercermin dari penguatan IHSG hingga penutupan akhir tahun.

“Awal-awal memang cukup menantang, tapi di semester kedua bisa balik lagi. Tutup di 8.646,93 itu sudah mencerminkan resiliensi,” sambung dia.

Kendati demikian dikatakan Armand di tengah fluktuasi indeks pasar modal Indonesia justru mencatatkan pencapaian signifikan dari sisi partisipasi investor. Jumlah investor ritel saat ini telah menembus angka 20 juta, jauh lebih cepat dari target awal yang sebelumnya diproyeksikan tercapai pada 2027.

Lonjakan investor ritel menjadi fondasi penting bagi pengembangan pasar modal nasional ke depan. Basis investor yang semakin luas dinilai akan memperkuat pasar, meski ia mengakui masih diperlukan peran yang lebih besar dari investor institusi.

“Masih banyak peluang ke depan. Kalau investor institusi bisa masuk lebih banyak, pasar modal juga akan jauh lebih berkembang,” lanjut Armand.

Selain mendorong peningkatan peran investor di pasar modal, Armand juga menyoroti kebijakan peningkatan free float emiten. Menurutnya, saham dengan porsi free float yang lebih besar akan berdampak positif terhadap likuiditas pasar serta membuka ruang partisipasi investor yang lebih luas.

Free float yang besar itu bagus. Jumlah investornya bisa lebih banyak, pasar modalnya berkembang,” ujarnya.

Armand menegaskan, perkembangan pasar modal tidak semestinya hanya diukur dari pencapaian satu level indeks tertentu. Selama ekosistem terus tumbuh, kualitas emiten terjaga, dan partisipasi investor semakin meluas, ia menilai arah pasar modal Indonesia sudah berada di jalur yang tepat.

“Semakin besar pasar modal, semakin besar juga kontribusinya untuk negara. Kita jalan saja, kerja saja,” tutup Armand.