periskop.id - Optimisme Menteri Keuangan terhadap potensi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada akhir 2026 memicu beragam respons dari analis pasar modal. Sejumlah pengamat menilai target tersebut memang ambisius, namun masih berada dalam koridor realistis apabila ditopang fundamental yang solid dan sentimen yang berkelanjutan.

Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana menilai proyeksi IHSG ke level 10.000 bukan sekadar optimisme berlebihan. Ia menilai fondasi pasar modal nasional saat ini sudah jauh lebih matang dibanding beberapa tahun sebelumnya, tercermin dari kinerja IHSG sepanjang 2025 yang mampu mencetak rekor baru.

“Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada akhir 2026 memang terkesan ambisius, namun masih berada dalam koridor realistis jika dikaitkan dengan fondasi pasar modal nasional saat ini,” ujar Hendra kepada Periskop, dikutip Rabu (7/1).

Menurutnya, kapitalisasi pasar yang telah menembus kisaran Rp16.000 triliun, pertumbuhan investor domestik yang konsisten, serta likuiditas pasar yang tetap terjaga menjadi penopang penting. Ketahanan IHSG di tengah tekanan global seperti suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik juga mencerminkan struktur pasar yang semakin solid.

Memasuki awal 2026, sentimen positif kembali menguat seiring kenaikan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama tahun ini dengan nilai transaksi yang besar. Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa penguatan menuju level psikologis 10.000 tidak bisa hanya mengandalkan sentimen jangka pendek.

“Meski demikian, untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan indeks tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan, bukan sekadar dorongan sentimen jangka pendek,” tegasnya.

Ia menilai sejumlah faktor utama berpotensi menjadi motor penggerak IHSG, antara lain pertumbuhan laba emiten, khususnya saham berkapitalisasi besar, serta peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global. Stabilitas makroekonomi domestik, seperti inflasi yang terkendali, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, dan kebijakan fiskal yang kredibel, juga dinilai krusial.

Dari sisi sektoral, Hendra memperkirakan penguatan IHSG sepanjang 2026 masih akan ditopang sektor energi dan sumber daya alam, perbankan, infrastruktur, serta media dan konsumsi. Ia juga menilai sejumlah saham memiliki prospek menarik secara selektif karena kombinasi valuasi, katalis korporasi, dan sentimen yang mendukung.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa turut menyampaikan pandangan optimistis terhadap peluang IHSG menembus level 10.000 pada 2026. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian tersebut membutuhkan kombinasi sentimen yang kuat dan konsisten sepanjang tahun.

“Saya secara pribadi juga optimis IHSG bisa ke 10.000 di tahun 2026, tetapi dengan kombinasi sentimen yang kuat dan konsisten sepanjang tahun,” kata Reydi.

Sentimen pertama adalah kebijakan moneter global dan domestik yang memasuki fase penurunan suku bunga, maka arus dana asing cenderung akan mengalir ke emerging market. Kinerja laba emiten kedepan juga akan mendukung kenaikan IHSG.

“Kembalinya dana asing semenjak IHSG tidak didominasi asing didukung oleh stabilitas politik dan perekonomian,” imbuh Reydi.

Ia menambahkan, sektor-sektor dengan bobot besar dalam indeks masih patut dicermati, terutama perbankan dan saham-saham likuid yang berpotensi menjadi sasaran akumulasi investor asing. Sektor yang memiliki bobot besar seperti perbankan yang patut dicermati, selain itu shaam-saham yang likuid yang bisa di akumulasi asing. 

“Tahun 2026 ini anggara MBG lebih besar dari sebelumnya, sehingga sektor-sektor yang terkait penyediaan bahan pangan MBG bisa dicermati,” lanjutnya.

Dari sisi teknikal dan struktur indeks, Retail Research Analyst BNI Sekuritas Muhammad Lutfi Permana menilai peluang IHSG menuju level 10.000 masih terbuka selama ditopang saham-saham dari grup konglomerasi. Ia mencermati bahwa sepanjang 2025, saham-saham tersebut menjadi penopang baru IHSG ketika saham bank besar dan emiten LQ45 cenderung stagnan.

Dalam analisanya, Lutfi memproyeksikan IHSG berpotensi menembus level 10.013 dalam kondisi bullish. Sementara dalam skenario bearish, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran terendah 7.549 dengan level dasar di 9.115.

“Sentimen yang direncanakan oleh pemerintah, kalau misalnya memang masih jalan dan ini berjalan lancar, mungkin katalisnya akan positif ke pasar. Begitu juga dengan suku bunga The Fed... memutuskan untuk pangkas suku bunga sebanyak 100 bps, ini juga akan bullish ke pasar,” jelas Lutfi dalam kanal YouTube BNI Sekuritas 46 bertajuk “Welcome 2026! IHSG Rp10.000 Apakah Possible?”.

Meski prospek IHSG dinilai masih konstruktif, Lutfi mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan katalis fundamental, teknikal, serta berbagai isu yang dapat mendorong penguatan maupun pelemahan harga saham, termasuk isu yang berdampak pada emiten-emiten konglomerasi.

Secara keseluruhan, target IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 dinilai bukan sekadar optimisme, melainkan skenario yang bisa terwujud apabila pertumbuhan laba emiten berkelanjutan, arus dana asing kembali masuk secara konsisten, dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.