periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Selasa (20/1), mencatat rekor tertinggi intraday di level 9.174,474 sebelum ditutup sementara di 9.155,408. Kenaikan sebesar 21,534 poin atau 0,24% ini menandai pencapaian baru bagi Bursa Efek Indonesia.

Melansir dara RTI, IHSG dibuka di 9.156,189 dan sempat menyentuh titik terendah di 9.126,844, menunjukkan pergerakan dinamis sepanjang pagi. Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 46,613 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp16,073 triliun.

Frekuensi perdagangan mencapai 2.336.785 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 382 saham mengalami kenaikan, 287 saham melemah, dan 131 saham stagnan.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia kini berada di level Rp16.643,246 triliun. Dengan pencapaian ini, IHSG berhasil mempertahankan tren positif sejak awal tahun, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu indeks dengan performa impresif di kawasan Asia.

Sementara IHSG ngacir, nilai tukar tupiah justru merosot. Berdasarkan data kurs Bank Indonesia, rupiah tercatat melemah terhadap hampir seluruh mata uang yang dipantau. Dolar Amerika Serikat berada di posisi kurs jual Rp17.019,67 per dolar AS, naik dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat di Rp16.964,40. 

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pelemahan Rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global, khususnya penguatan dolar AS dalam sebulan terakhir. Sementara IHSG juga terpengaruh hal tersebut, namun memiliki faktor pengaruh lain seperti likuiditas domestik yang masih kuat, kinerja emiten yang baik, dan arus dana asing yang mulai masuk ke saham-saham berfundamental solid.

Reydi menambahkan bahwa emiten konglomerasi masih menopang indeks dan menjaga momentum penguatan. 

“Emiten-emiten konglomerasi masih menopang dan terus mendorong indeks tetap menguat. Kondisi IHSG menguat padahal Rupiah melemah tergolong wajar, selama Rupiah tidak melemah terlalu jauh dan berkelanjutan, karena akan merembet ke pasar keuangan lebih luas,” jelas Reydi, Selasa (20/1).

Senada, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang didorong sentimen eksternal. Ibrahim menjelaskan, faktor eksternal termasuk rencana tarif baru AS terhadap sejumlah negara Eropa serta data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan menambah tekanan terhadap Rupiah.

Dari dalam negeri, kekhawatiran fiskal turut menekan nilai tukar setelah defisit anggaran tahun lalu mendekati batas maksimal 3 persen. Ibrahim menilai Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, pembelian obligasi pemerintah, serta penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral.

“Kondisi fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap defisit anggaran tahun lalu mendekati batas maksimal 3 persen, di tengah penerimaan negara yang belum optimal. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ujarnya.

Bank Indonesia disebut aktif melakukan intervensi di pasar DNDF dan NDF, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder. Ibrahim memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan mendatang. Guna untuk menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu.

”Bank Indonesia juga telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah,” kata Ibrahim.