periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Ia menegaskan kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada dalam kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral.
Berdasarkan data kurs Bank Indonesia, rupiah tercatat melemah terhadap hampir seluruh mata uang yang dipantau. Dolar Amerika Serikat berada di posisi kurs jual Rp17.019,67 per dolar AS, naik dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat di Rp16.964,40.
Purbaya menjelaskan, meskipun rupiah sempat tertekan, pelemahan tersebut relatif terbatas jika dilihat secara persentase dan dinilai tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian secara keseluruhan.
"Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Coba tanya mereka deh, karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar. Itu otoritas bank sentral," kata Purbaya saat ditemui, Jakarta, Selasa (20/1).
Ia menekankan, selama fundamental ekonomi terus membaik dan aktivitas ekonomi domestik meningkat, kepercayaan investor akan tetap terjaga. Hal tersebut tercermin dari kinerja pasar modal yang terus menguat hingga mencetak rekor tertinggi.
"Tapi yang penting adalah gini, ketika pondasi ekonomi kita terus membaik, aktivitas ekonomi dalam negeri akan meningkat, orang akan melihat ekonomi kita bagus, investor akan balik lagi ke sini termasuk investor asing," jelasnya.
Bendahara negara itu juga meyakini bahwa dari sisi pasokan devisa, seharusnya tidak terjadi kekurangan dolar AS seiring masuknya arus modal ke dalam negeri. Menurutnya, apabila fundamental ekonomi tetap terjaga, nilai tukar rupiah pada akhirnya akan bergerak menguat secara bertahap.
"Jadi untuk yang spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long. Long itu beli di depan ya. Kira-kira pondasi ekonomi kita enggak akan terganggu dan akan terus membaik," tambahnya.
Lebih lanjut, terkait koordinasi kebijakan, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah telah memperkuat sinergi dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), termasuk dalam rapat bersama DPR RI.
"Jadi mesin-mesin ekonomi dengan kebijakan yang sinergis antara kita, Bank Sentral, OJK, dan LPS, harusnya mesin-mesin ekonomi kita akan bergerak semua. Pemerintah, swasta, akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar