periskop.id – Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang besar untuk menembus level psikologis 10.000 dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, meskipun dibayangi oleh risiko volatilitas yang tinggi.

“Arah jangka menengah IHSG tetap menuju 10.000. Tetapi dengan volatilitas yang sangat tinggi. Karena itu, kita juga harus menyiapkan skenario ke 7.500 sebagai antisipasi,” tegas Hans dalam acara Edukasi Wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (23/1).

Hans menilai pasar saham Indonesia tahun ini menghadapi dua skenario ekstrem akibat tekanan global dan dinamika domestik. Investor perlu cermat melihat peluang penguatan (bull case) sekaligus bersiap menghadapi risiko koreksi tajam (bear case).

Guna menopang optimisme pasar menuju level 10.000, Hans merekomendasikan sejumlah sektor yang dinilai tangguh. Sektor barang konsumsi menjadi sorotan utama karena karakteristiknya yang dekat dengan kebutuhan harian masyarakat.

"Saham-saham seperti CMRY, MYOR, MAPI, ICBP, dan AMRT dipandang memiliki ketahanan bisnis yang baik, didukung oleh permintaan yang relatif stabil serta kemampuan menjaga kinerja di tengah dinamika ekonomi," paparnya.

Selain konsumsi, sektor logam dan mineral juga masuk dalam radar pengamatan Hans. Emiten seperti ANTM, BRMS, MDKA, dan MBMA dinilai memiliki prospek cerah berkat dorongan kebutuhan bahan baku industri serta konsistensi kebijakan hilirisasi pemerintah.

Sektor energi, khususnya batu bara, yang sempat meredup kini mulai menunjukkan sinyal pemulihan positif. Hans melirik saham ITMG, AADI, dan PTBA sebagai pilihan menarik karena komoditas ini masih memegang peranan vital dalam bauran energi nasional.

Tidak hanya itu, emiten batu bara lainnya seperti ADMR dan ADRO juga dinilai layak masuk dalam daftar pantau investor (watchlist) seiring dengan perbaikan sentimen di sektor tersebut.

Sebagai penyeimbang portofolio di tengah fluktuasi, Hans menekankan pentingnya peran saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) sebagai jangkar. Ia menyebut nama-nama raksasa seperti BCA, Astra International, dan Telkom Indonesia masih sangat atraktif.

"Saham ini berpotensi menjadi motor penggerak IHSG di tengah fluktuasi pasar,” pungkas Hans menutup analisanya.