periskop.id – Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menilai pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya pikat kuat bagi investor instrumen obligasi, dengan catatan pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah ambang batas 3 persen.

“Selama fiskal kita sehat, peluang untuk menarik investor asing tetap terbuka, terutama di obligasi,” ujar Hans dalam acara edukasi wartawan secara daring, Jumat (23/1).

Hans menekankan bahwa minat pemodal asing sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengendalikan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kredibilitas anggaran negara menjadi pertaruhan utama dalam menjaga arus modal masuk.

Kendati peluang terbuka, Hans mengingatkan risiko pasar tetap mengintai, terutama dari sisi fluktuasi nilai tukar rupiah. Dinamika kebijakan suku bunga global yang belum stabil dapat memicu volatilitas mata uang garuda sewaktu-waktu.

Pelaku pasar juga perlu mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter di dalam negeri yang dinilai mulai melemah. Hal ini menuntut antisipasi cepat terhadap perubahan sentimen pasar.

Menariknya, Hans melihat adanya perbedaan proyeksi arus dana antara pasar saham dan pasar surat utang. Pasar ekuitas atau saham dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan suntikan dana asing (capital inflow).

"Potensi ada di pasar saham seperti inflow, tapi di obligasi justru kemungkinan terjadi outflow,” paparnya.

Dampak spekulasi asing terkait risiko fiskal bahkan sudah mulai terasa di pasar obligasi saat ini. Tekanan tersebut terlihat dari pelemahan harga obligasi yang diikuti oleh kenaikan imbal hasil (yield).

Menatap tahun 2026, Hans memprediksi pasar saham akan menghadapi tantangan volatilitas yang lebih tinggi. Ketidakpastian ekonomi global serta dinamika kebijakan domestik akan menjadi faktor penggerak utama indeks.

Oleh karena itu, strategi investasi yang matang sangat diperlukan. Investor wajib memantau indikator makroekonomi seperti risiko fiskal dan arah kebijakan moneter sebagai kompas dalam mengambil keputusan.

“Intinya, pasar kita masih menarik, tapi pelaku pasar harus pintar membaca sinyal risiko agar tidak terjebak dalam volatilitas yang tinggi,” tutup Hans.