periskop.id - Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin (26/1) pagi. Harga emas di pasar spot naik 1,25% ke level US$5.049,9 per ounce (oz), menembus level psikologis US$5.000/oz.

Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kebijakan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sejumlah isu yang menjadi perhatian pasar antara lain ancaman terhadap independensi bank sentral AS (The Fed), wacana pencaplokan Greenland, hingga potensi intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela.

Sentimen pasar kembali memanas setelah Trump pada Sabtu (24/1) menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 100% terhadap Kanada apabila negara tersebut tetap melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran investor terhadap eskalasi tensi geopolitik dan perdagangan global.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati keputusan Trump terkait penunjukan calon ketua The Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell, yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei 2026. Pada pekan lalu, Trump mengklaim telah mewawancarai sejumlah kandidat dan sudah memiliki pilihan. Penunjukan ketua The Fed dengan kecenderungan kebijakan moneter dovish berpotensi memperbesar ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan pada tahun ini.

Investment Analyst Stockbit, Theodorus Melvin, menyampaikan bahwa penguatan harga emas berpotensi berdampak terhadap kinerja jangka pendek pada sejumlah emiten emas. 

“Kenaikan harga emas berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten di sektor emas karena berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan volume transaksi perseroan,” ujar Theodorus, Senin (26/1).

Sejumlah saham emiten emas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dan dapat dicermati seiring kenaikan harga emas dunia antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).

Harga emas dunia diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan sepekan ke depan di tengah tingginya ketidakpastian global. Pada penutupan Sabtu pagi, harga emas dunia tercatat berada di level US$4.985 per troy ounce, yang menjadi posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan, apabila harga emas dunia mengalami koreksi, terdapat sejumlah area support yang perlu dicermati, yakni di level US$4.960 dan US$4.904 per troy ounce.

“Jika harga emas dunia terkoreksi, maka level support pertama berada di US$4.960. Apabila tekanan berlanjut, support berikutnya ada di US$4.904 per troy ounce,” ujarnya.

Sebaliknya, apabila harga emas dunia menguat pada awal pekan depan, Ibrahim menilai terdapat peluang bagi harga emas untuk bergerak ke level yang lebih tinggi.

“Jika tren penguatan berlanjut, harga emas dunia berpotensi menuju US$5.020 per troy ounce,” kata Ibrahim. Pada skenario penguatan lanjutan, harga emas dunia bahkan berpeluang menguji area resisten di US$5.100 per troy ounce.

Ibrahim menambahkan, pergerakan harga emas dunia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik, eskalasi perang dagang, hingga dinamika politik di Amerika Serikat.