periskop.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah memasuki dunia pasar modal. Dalam hal ini Danantara akan menjalankan strategi investasi dengan tetap berfokus pada saham-saham dengan dengan ciri-ciri memiliki fundamental kuat.

"Kami aktif membeli saham dengan valuasi menarik, fundamental yang solid, likuiditas baik, dan cashflow yang sehat,” ujar Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (3/2).

Menurutnya, indikator ini terlihat dari pergerakan top 20 saham yang mengalami kenaikan maupun penurunan, dan keputusan investasi ini harus dilihat secara makro dan tidak hanya di level domestik.

Di sisi lain, Pandu juga menyoroti kecepatan proses respon MSCI terkait kondisi pasar modal Indonesia

"Untuk banyak negara yang masuk dalam pemantauan MSCI, proses regulasi dan pengumuman di sini termasuk yang tercepat, baik dari sisi regulator maupun bursa,” bebernya.

Menurut Pandu, hal ini menjadi sinyal positif dan memberikan dorongan optimisme bagi pasar. Dengan pendekatan yang sistematis dan berfokus pada saham berkualitas, BPI Danantara berharap strategi dan pertemuam dengan MSCI ini akan memberikan dampak positif jangka menengah hingga panjang, sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin 2 Februari 2026. IHSG ambles 406,88 poin atau 4,88% ke level 7.922,73. Hal ini seiring berlangsungnya pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia.

Ketidakpastian keputusan MSCI yang dinilai dapat memengaruhi aliran modal asing memicu aksi jual besar-besaran di seluruh sektor, menekan IHSG ke zona merah. Pelaku pasar terlihat berhati-hati, sementara sentimen global dan domestik turut menambah tekanan pada bursa.