periskop.id - Indeks acuan Kospi di Korea Selatan jatuh lebih dari 7% pada Selasa (3/3/2026), mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari 18 bulan, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan AS terhadap Iran sejak akhir pekan lalu.
Mata uang Korea, won, juga melemah lebih dari 26 won terhadap dolar AS dalam perdagangan onshore, mencatat penurunan terparah tahun ini dan menimbulkan kekhawatiran bahwa kurs bisa menembus level kritis 1.500 won per dolar AS.
Pasar keuangan Seoul kembali bergejolak setelah libur panjang akhir pekan, mengikuti pasar Asia lainnya yang terdampak konflik Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak internasional, yang kini mendekati US$80 per barel.
Melansir The Korea Times, Selasa (3/3), Kospi ditutup di level 5.791,91 poin, turun 452,22 poin atau 7,24 persen dibandingkan sesi Jumat sebelumnya sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran. Penurunan ini adalah yang terdalam sejak 5 Agustus 2024, saat indeks anjlok 8,77 persen karena kekhawatiran resesi AS.
Indeks utama memulai perdagangan 1,26 persen lebih rendah di 6.165 poin dan sempat bangkit di atas 6.180 poin sebelum penurunan kembali melaju cepat. Penurunan tajam ini memicu sistem sidecar di perdagangan berjangka Kospi 200, yang terdiri dari 200 saham terbesar, turun 5,09 persen pada siang hari waktu setempat.
Penurunan melampaui ambang batas 5 persen, sehingga terjadi penghentian sementara selama lima menit pada program jual otomatis sebelum perdagangan dilanjutkan. Ini merupakan pertama kalinya dalam sebulan sistem sidecar Kospi diaktifkan sejak 6 Februari 2026.
Penurunan ini didorong oleh investor asing dan institusi, yang masing-masing melakukan net sell sebesar 5,14 triliun won (US$3,5 miliar) dan 891 miliar won, meski investor ritel membeli bersih saham senilai 5,75 triliun won.
Di antara saham berkapitalisasi pasar terbesar, Samsung Electronics turun 9,88 persen menjadi 195.100 won, SK hynixmerosot 11,5 persen ke 939.000 won, dan Hyundai Motor jatuh 11,72 persen menjadi 595.000 won. Analis menyebut lonjakan harga minyak internasional dan dampaknya terhadap sektor energi sebagai faktor utama penurunan Kospi.
Menurut situs Opinet Korea National Oil Corp., harga tiga acuan minyak dunia, Dubai, Brent, dan West Texas Intermediate, masing-masing US$80,79, US$77,74, dan US$71,23 per barel. Harga ini naik signifikan dibanding Jumat lalu, yakni US$71,24, US$71,28, dan US$67,02 per barel.
“Arah pasar saham kemungkinan besar akan bergantung pada fluktuasi harga minyak,” kata Lee Jae-won, peneliti di Korea Investment & Securities. Menurut dia, ancaman Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional utama, memperkuat kekhawatiran ini.
Ancaman tersebut mendorong saham minyak dan transportasi naik tajam, sementara saham maskapai, kimia, dan baja melemah karena kekhawatiran biaya bahan bakar dan bahan baku yang meningkat. Sementara itu, won Korea melemah 26,4 won menjadi 1.466,1 per dolar AS dalam perdagangan onshore, menghentikan tren dua hari penguatan dan menandai kerugian terbesar tahun ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar