periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan risiko eskalasi konflik Iran-Israel terhadap sektor keuangan Indonesia, terutama melalui kenaikan harga energi dan volatilitas pasar.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan risiko ini menyalur melalui tiga kanal utama, yaitu financial market channel, kenaikan harga energi, serta direct channel melalui perdagangan dan eksposur investasi.
“Mengingat eskalasi konflik Iran dengan AS-Israel, risiko transmisi ke sektor keuangan dapat terjadi melalui tiga kanal utama tersebut,” ujarnya dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret, Senin (6/4).
Sebelum ketegangan geopolitik meningkat, prospek ekonomi global menunjukkan perbaikan seiring meredanya tekanan inflasi dan membaiknya permintaan. Namun, konflik yang terjadi sejak akhir Februari 2026 mengganggu jalur pemulihan ekonomi secara signifikan.
Friderica menambahkan, situasi di Timur Tengah memicu disrupsi rantai pasok energi, yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas energi lainnya. Dampak lanjutan (second round impact) dapat menekan inflasi global dan memengaruhi permintaan agregat.
Meski tekanan eksternal meningkat, OJK mencatat kinerja sektor jasa keuangan domestik masih stabil. Hal ini tercermin dari permodalan yang kuat, likuiditas memadai, dan risiko yang terjaga, sehingga sektor keuangan siap menghadapi ketidakpastian global.
Untuk mengantisipasi risiko, OJK mendorong lembaga jasa keuangan memperkuat manajemen risiko, mencermati kinerja pasar secara intensif, serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan.
“Kami mendorong seluruh lembaga jasa keuangan melakukan asesmen lanjutan secara forward-looking dan memperkuat langkah-langkah antisipatif, termasuk menjaga permodalan dan likuiditas,” kata Friderica.
OJK juga menekankan koordinasi dengan self-regulatory organization untuk menjaga stabilitas pasar saham. Beberapa kebijakan yang dinilai tetap relevan antara lain buyback saham tanpa RUPS, penundaan pembiayaan transaksi short selling, trading halt, dan batasan auto-rejection.
Kondisi global yang kompleks, termasuk inflasi tinggi dan pengangguran meningkat di Amerika Serikat serta dinamika pertumbuhan Tiongkok yang berbeda dari ekspektasi, menuntut kewaspadaan ekstra. OJK menegaskan kesiapan sektor keuangan domestik untuk tetap stabil di tengah gelombang ketidakpastian internasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar