periskop.id - Kehidupan seorang astronaut sering terlihat glamor dari jauh. Namun, bagi mereka yang benar-benar pernah tinggal di luar angkasa, kenyataannya jauh dari kata indah. Banyak aspek perjalanan luar angkasa yang justru terasa jorok dan tidak nyaman.

Salah satu contohnya adalah fakta bahwa astronaut tidak bisa mandi seperti di Bumi. Selama misi panjang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), mereka hanya mengandalkan tisu basah dan sistem kebersihan khusus.

Mengutip Sciencing, tubuh manusia memang dirancang untuk hidup di Bumi. Ketika dipisahkan dari gravitasi, muncul konsekuensi aneh. Salah satunya: astronaut tidak bisa bersendawa.

Untuk memahami hal ini, kita perlu tahu bagaimana mekanisme bersendawa bekerja. Saat makanan dan minuman masuk ke lambung, mereka diurai oleh asam lambung dan enzim pencernaan. Proses ini menghasilkan gas. Ditambah lagi, udara yang ikut tertelan saat makan memperbanyak gas di perut.

Di Bumi, gravitasi membantu memisahkan isi lambung: cairan dan makanan padat turun ke bawah, sementara gas naik ke atas. Tekanan gas ini mendorong katup antara lambung dan kerongkongan terbuka, sehingga gas keluar sebagai sendawa.

Di luar angkasa, gravitasi tidak ada. Akibatnya, gas tidak bisa naik ke atas. Isi lambung bercampur rata, sehingga sendawa tidak bisa terjadi. Jika dipaksa, yang keluar bukan hanya gas, melainkan campuran cairan dan makanan, fenomena ini disebut wet burp.

Selain tidak bisa bersendawa, menangis di luar angkasa juga berbeda. Astronaut Kanada, Chris Hadfield, pernah menjawab pertanyaan di X (Twitter) pada 2013: “Bisakah menangis di luar angkasa? Mata memang menghasilkan air mata, tapi mereka menempel seperti bola cair. Bahkan terasa perih. Jadi—air mata di luar angkasa tidak jatuh.”

Hadfield juga membuat video demonstrasi. Ia meneteskan air ke matanya, lalu cairan itu menempel dan membentuk bola yang semakin besar. 

“Jika terus menangis, bola air makin besar hingga menyeberang ke hidung atau mata lain, atau menguap, atau menyebar ke pipi. Atau kamu harus mengelapnya dengan handuk,” jelasnya.

Penelitian tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 30% kru ISS mengalami iritasi mata dan sensasi seperti ada benda asing. Air mata yang menempel di kornea kering bisa menjelaskan rasa perih yang disebut Hadfield.

Astronaut Ron Parise menambahkan, jika bola air mata dibiarkan, ukurannya bisa membesar lalu lepas dari wajah dan melayang bebas di kabin. Bayangkan tetesan air mata yang berubah menjadi bola kecil mengambang di udara.

Air mata manusia terdiri dari tiga lapisan: minyak di luar untuk mencegah penguapan, air di tengah untuk melembapkan, dan lendir di dalam agar menempel di permukaan mata. Karena sebagian besar berupa air, air mata mengikuti hukum gravitasi. Di Bumi, gravitasi menariknya turun. Di luar angkasa, cairan hanya mengambang.

Selain sendawa dan menangis, ada hal-hal aneh lain yang dialami astronaut. Misalnya, wajah mereka tampak lebih bulat karena cairan tubuh terdorong ke atas akibat hilangnya gravitasi. Tinggi badan mereka juga bisa bertambah beberapa sentimeter karena tulang belakang meregang. Bahkan, rasa makanan bisa berubah karena hidung tersumbat akibat pergeseran cairan tubuh.

Semua fenomena ini menunjukkan bahwa tubuh manusia pada dasarnya bergantung pada gravitasi. Di luar angkasa, setiap fungsi tubuh bisa berubah drastis. Jadi, meski perjalanan ke luar angkasa terdengar menakjubkan, ragam tantangan biologis juga tetap harus masuk dalam paket bayangan kita. Masih terasa seru menjadi astronaut?