periskop.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arief Satria mengungkapkan keberhasilan teknologi Arsinum (Air Siap Minum) yang mampu mengubah air banjir keruh menjadi air layak konsumsi, sehingga alat tersebut kini menjadi rebutan warga yang kesulitan air bersih di lokasi bencana.

“Satu alat itu bisa menghasilkan 10.000 liter air minum per hari dan 30.000 liter air bersih. Jadi air banjir yang keruh itu masuk alat ini, keluar langsung bisa menjadi air minum,” kata Arief Satria dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Rabu (28/1).

Arief menjelaskan urgensi alat ini. Kebutuhan air minum adalah hal paling krusial saat bencana terjadi. Seringkali, pasokan air bersih terputus total.

BRIN merespons cepat kondisi tersebut. Pihaknya telah mengirimkan unit Arsinum ke beberapa titik bencana di Sumatera.

Lokasi pemasangan mencakup Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah. Sebanyak dua unit dipasang di Aceh Tamiang dan satu unit di Tapanuli Tengah.

Dampak alat ini sangat signifikan. Dengan tiga unit yang beroperasi, BRIN menyuplai total 30.000 liter air minum per hari bagi para korban.

Respons masyarakat di lapangan sangat antusias. Arief menceritakan kondisi di Tapanuli Tengah saat alat baru terpasang.

“Di Tapanuli Tengah sudah kita pasang satu. Itu langsung ramai sekali orang-orang ke sana untuk mengambil air minum kita,” ujarnya.

Teknologi ini bekerja dengan sistem filtrasi canggih. Air baku yang diambil langsung dari genangan banjir diproses hingga aman diminum tanpa dimasak.

Ke depan, BRIN akan mengubah strategi. Fokus pengembangan tidak lagi hanya pada unit mobile atau bergerak.

Pada tahun 2026, BRIN menargetkan pembangunan Arsinum stasioner (permanen). Target lokasinya adalah 16 kota yang dinilai rawan bencana.

“Kita akan bangun di titik-titik bencana, di kota-kota setiap kota bencana itu yang prioritas 16 dulu. Itu Arsinum stasioner, jadi bukan lagi yang sifatnya mobile,” jelas Arief.

Langkah ini bertujuan agar kesiapsiagaan daerah lebih terjamin. Alat sudah tersedia di lokasi sebelum bencana terjadi.

BRIN juga menyiapkan program pelatihan. Kapasitas sumber daya manusia di daerah akan ditingkatkan untuk perawatan alat.

Arief mencontohkan kerja sama dengan petugas pemadam kebakaran (Damkar) di Aceh. Petugas lokal dilatih mengoperasikan dan merawat filter alat tersebut agar berumur panjang.