periskop.id - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir memastikan pemangkasan 191 regulasi olahraga menjadi lima aturan pokok lewat skema omnibus law tuntas Maret nanti.
"Kami melakukan percepatan deregulasi 191 aturan dan pencabutan Permen 14 Tahun 2024 dengan pendekatan Omnibus Law yang mungkin bulan Maret ini bisa tuntas," kata Erick dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Selasa (27/1).
Penyederhanaan regulasi ini bertujuan mempermudah mitra kerja kementerian dalam memahami aturan main. Ratusan aturan lama dinilai terlalu gemuk dan menyulitkan fleksibilitas kerja sama di sektor kepemudaan maupun olahraga.
Erick menyebut perampingan birokrasi menjadi kunci kecepatan eksekusi program. "Dari 191 aturan mungkin akan menjadi 4-5 aturan saja, sehingga ini mudah untuk dibaca dengan semua partner-partner yang kita bisa libatkan untuk pengembangan pemuda dan olahraga ke depan," ujarnya.
Langkah deregulasi ini berjalan paralel dengan upaya pembersihan tata kelola internal. Kemenpora ingin menghapus stigma birokrasi lambat dan potensi penyelewengan anggaran yang kerap menjadi sorotan publik.
Kerja sama dengan Kejaksaan Agung dan BPKP diperkuat untuk mengawal proses transformasi ini. Erick ingin memastikan setiap rupiah anggaran negara terlindungi sistem pengawasan ketat, sekaligus memulihkan kepercayaan Kementerian Keuangan.
Pemangkasan aturan juga menyasar pembenahan organisasi cabang olahraga (cabor). Regulasi baru diharapkan mampu menekan potensi dualisme kepengurusan yang selama ini mengorbankan karier atlet nasional.
Kemenpora mencatat keberhasilan penyelesaian konflik di tubuh Federasi Sepak Takraw. Kini, pemerintah fokus menyelesaikan sengketa di tiga cabang lain, yakni anggar, tenis meja, dan tinju agar segera memiliki kepengurusan tunggal.
Erick pun menetapkan standar tinggi bagi calon ketua umum cabor. Figur pemimpin olahraga tidak boleh hanya mencari panggung, tetapi harus siap berkorban waktu dan materi demi prestasi atlet.
"Kalau ingin jadi ketua cabor, nomor satu memang dia suka olahraganya. Yang kedua, mereka ada waktu untuk membinanya. Dan ketiga, cari duitnya, paling penting," tegasnya di hadapan para legislator.
Transformasi aturan lewat omnibus law ini diharapkan menjadi warisan sistem yang memudahkan siapapun pemimpin olahraga kelak. Ekosistem yang sederhana dan transparan akan mempercepat kemajuan industri olahraga Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar