periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memasuki tahap ketiga penanganan pasca bencana di wilayah Sumatra, yakni normalisasi layanan kesehatan. Tahap ini dinilai menjadi fase paling berat karena mencakup pemulihan jangka panjang fasilitas, peralatan medis, hingga sistem pendukung layanan kesehatan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, tahap ketiga dimulai sejak pekan pertama Januari 2026 setelah pemulihan rumah sakit dan puskesmas pada tahap sebelumnya dinyatakan berjalan.
“Sejak minggu pertama Januari, kita masuk ke tahap ketiga, yaitu memulihkan kembali ke kondisi normal. Ini yang paling berat,” kata Budi saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).
Menurut Budi, tantangan utama pada fase ini adalah memastikan seluruh peralatan medis kembali berfungsi optimal. Banyak fasilitas kesehatan kehilangan atau mengalami kerusakan berat pada peralatan penting akibat banjir, termasuk komputer, peralatan medis bernilai tinggi, hingga sarana pendukung layanan.
“Alat-alat rumah sakit itu mahal. Di posko-posko pengungsian, komputernya hilang semua. Ada rumah sakit yang kehilangan 100 sampai 150 unit komputer. Kursi, alat pendukung, semuanya rusak,” ujarnya.
Budi mencontohkan pemulihan di sejumlah rumah sakit yang sempat viral akibat terendam banjir, salah satunya Rumah Sakit di Tamiang, Aceh, yang sebelumnya mengalami kerusakan parah pada instalasi farmasi. Rumah sakit tersebut kembali beroperasi hanya dalam waktu tiga hari setelah dilakukan pembersihan dan perbaikan.
“Kita bisa lihat respons cepat. Dalam tiga hari, farmasinya sudah bersih dan bisa digunakan kembali,” katanya.
Pemulihan serupa juga dilakukan di Rumah Sakit Sultan Aziz di Peureulak, Aceh Timur, yang sebelumnya terendam banjir hingga merusak hampir seluruh peralatan medis. Saat ini, rumah sakit tersebut telah kembali melayani pasien, meski baru satu dari tiga ruang operasi yang berfungsi.
“Dua ruang operasi lainnya rusak berat sehingga kita harus kirim alat-alat baru, yang sekarang sedang dalam perjalanan,” jelas Budi.
Sementara itu, sejumlah rumah sakit rujukan besar yang terdampak banjir dilaporkan dapat kembali beroperasi lebih cepat karena tingkat kerusakan relatif lebih ringan. Dalam beberapa kasus, layanan rumah sakit sudah pulih dalam waktu tiga hingga empat hari setelah pembersihan.
Budi mengapresiasi dukungan lintas sektor, khususnya TNI dan Polri, yang turut membantu percepatan pemulihan fasilitas kesehatan di daerah terdampak bencana.
Ia menambahkan, rumah sakit dan puskesmas menjadi fasilitas yang paling cepat dipulihkan dalam setiap penanganan bencana, karena perannya yang vital bagi masyarakat.
“Kalau teman-teman datang ke daerah bencana dan melihat tempat yang paling bersih, nomor satu pasti rumah sakit dan puskesmas,” ujar Budi.
Kemenkes menargetkan proses pemulihan menyeluruh dapat diselesaikan paling lambat akhir Maret 2026. Pemerintah saat ini terus melakukan pengadaan dan distribusi peralatan kesehatan untuk menggantikan fasilitas yang rusak maupun hilang.
“Saya berdoa mudah-mudahan akhir Maret ini semua bisa pulih kembali,” pungkas Budi.
Tinggalkan Komentar
Komentar