Periskop.id - Piala Dunia 2026 segera memasuki laga terakhir fase grup. Di tengah persaingan menuju babak 32 besar yang masih terbuka, lima negara sudah lebih dulu dipastikan tersingkir dan tidak lagi memiliki peluang melaju, bahkan lewat jalur peringkat ketiga terbaik.
Kelima tim tersebut adalah Yordania, Tunisia, Turki, Panama, dan Haiti. Mereka gagal menjaga peluang setelah menelan dua kekalahan beruntun pada dua laga awal fase grup.
Hasil itu menjadi pukulan bagi sejumlah tim yang sempat digadang-gadang bisa memberi kejutan. Turki datang dengan materi pemain muda berbakat seperti Arda Guler. Yordania tampil sebagai salah satu debutan yang membawa harapan Asia. Haiti kembali ke Piala Dunia setelah absen sangat lama. Namun, semuanya harus menghadapi kenyataan pahit: perjalanan mereka selesai lebih cepat.
Laga Terakhir Fase Grup Jadi Penentu
Matchday ketiga Piala Dunia 2026 akan berlangsung mulai Kamis (25/6) hingga Minggu (28/6). Setiap grup akan memainkan dua laga terakhir pada jam yang sama untuk menjaga keadilan persaingan.
Format Piala Dunia 2026 berbeda dari edisi sebelumnya. Turnamen kini diikuti 48 tim yang terbagi ke dalam 12 grup berisi empat negara. Dua tim teratas dari setiap grup lolos langsung ke babak 32 besar, sementara delapan tiket tambahan diberikan kepada peringkat ketiga terbaik.
Dengan format tersebut, banyak tim yang masih punya peluang meski tidak berada di dua besar grup. Namun, bagi lima negara yang sudah tersingkir, skenario peringkat ketiga terbaik pun tidak lagi cukup untuk menyelamatkan mereka.
Artinya, laga terakhir mereka hanya akan menjadi pertandingan kehormatan. Mereka masih bisa mengejar kemenangan, tetapi tidak bisa lagi mengubah nasib di turnamen.
Daftar Negara yang Sudah Tersingkir
Berikut lima negara yang sudah dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026:
-Haiti
-Turki
-Tunisia
-Yordania
-Panama
Kelima tim ini punya cerita berbeda. Ada yang datang sebagai debutan, ada yang membawa status kuda hitam, ada pula yang kembali ke Piala Dunia setelah penantian panjang.
Namun, pola besarnya sama: dua kekalahan awal membuat mereka kehabisan ruang. Dalam format baru sekalipun, nol poin dari dua laga membuat jalan ke babak 32 besar hampir tertutup total, terutama ketika posisi grup dan hitung-hitungan head-to-head tidak lagi memungkinkan.
Haiti Jadi Tim Pertama yang Tersingkir
Haiti menjadi tim pertama yang dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026. Mereka kalah dalam dua laga awal Grup C, termasuk saat takluk 0-3 dari Brasil.
Sebelumnya, Haiti juga kalah 0-1 dari Skotlandia. Dua kekalahan itu membuat mereka tidak lagi memiliki peluang untuk mengejar posisi aman di grup.
Kegagalan Haiti terasa menyakitkan karena mereka kembali tampil di Piala Dunia setelah absen 52 tahun. Namun, comeback panjang itu tidak berakhir manis. Mereka belum mampu mengimbangi ketatnya persaingan Grup C yang dihuni Brasil, Skotlandia, dan Maroko.
Meski tersingkir, laga terakhir melawan Maroko tetap penting bagi Haiti. Selain untuk menjaga harga diri, pertandingan itu bisa menjadi kesempatan terakhir mereka mencetak gol dan meninggalkan kesan positif setelah penantian panjang menuju panggung dunia.
Turki Antiklimaks meski Bawa Generasi Emas
Turki menjadi salah satu kekecewaan besar di fase grup. Tim ini datang dengan ekspektasi tinggi karena memiliki generasi muda menjanjikan, termasuk Arda Guler yang disebut sebagai salah satu talenta paling menarik di Eropa.
Namun, hasil di lapangan jauh dari harapan. Turki kalah 0-2 dari Australia pada laga pertama Grup D, lalu kembali tumbang 0-1 dari Paraguay pada pertandingan kedua.
Kekalahan dari Paraguay terasa makin pahit karena gol Matías Galarza lahir sangat cepat pada menit kedua. Turki tidak mampu membalas meski Paraguay sempat bermain dengan 10 orang setelah Miguel Almiron mendapat kartu merah.
Dengan dua kekalahan itu, Turki menjadi tim kedua yang dipastikan tersingkir setelah Haiti. Perjalanan mereka yang panjang di kualifikasi, termasuk melalui jalur play-off, tidak berbuah hasil di putaran final.
Kegagalan ini membuat label generasi emas Turki kembali dipertanyakan. Nama besar dan bakat individu ternyata tidak cukup jika tim gagal mengeksekusi peluang dan tidak mampu menjaga ritme dalam laga penting.
Tunisia Kena Drama Ganti Pelatih
Tunisia juga mengalami nasib serupa. Wakil Afrika Utara itu tersingkir setelah dua kekalahan telak di Grup F. Pada laga pertama, Tunisia dihajar Swedia 1-5. Hasil itu langsung memicu perubahan besar di kursi pelatih. Federasi Sepak Bola Tunisia kemudian menunjuk Herve Renard untuk menggantikan Sabri Lamouchi.
“Federasi Sepak Bola Tunisia mengumumkan penunjukkan Herve Renard sebagai pelatih tim nasional hingga akhir Piala Dunia 2026,” kata Federasi Sepak Bola Tunisia dalam laman media sosialnya.
Namun, pergantian pelatih tidak langsung menyelamatkan Tunisia. Mereka kembali kalah telak 0-4 dari Jepang. Kekalahan itu memastikan Tunisia angkat koper dari Piala Dunia 2026 setelah dua laga.
Sebelumnya, Sabri Lamouchi sempat menggambarkan beratnya kekalahan pembuka Tunisia.
"Memulai turnamen dengan kekalahan sebanyak ini tentu sangat sulit," kata dia.
Pernyataan itu terbukti menjadi gambaran awal dari kampanye buruk Tunisia. Mereka kebobolan banyak gol, gagal menemukan stabilitas, dan akhirnya tersingkir sebelum laga terakhir.
Yordania Gagal Mencuri Panggung Debut
Yordania juga menjadi tim Asia pertama yang dipastikan tersingkir. Status debutan membuat perjalanan mereka awalnya menarik perhatian. Namun, dua kekalahan beruntun membuat mimpi mereka di Piala Dunia 2026 berakhir cepat.
Yordania kalah 1-3 dari Austria pada laga pertama Grup J. Pada pertandingan kedua, mereka sempat memberi perlawanan dan unggul lebih dulu atas Aljazair, tetapi akhirnya kalah 1-2 setelah Les Fennecs melakukan comeback.
Secara hitung-hitungan, Yordania tidak bisa lagi menggeser Austria atau Aljazair karena sudah kalah dari kedua tim tersebut. Karena itu, meski masih menyisakan laga melawan Argentina, peluang mereka menuju babak 32 besar sudah tertutup.
Sebelum turnamen, pelatih Jamal Sellami sempat menegaskan bahwa tampil di Piala Dunia adalah kebanggaan besar bagi Yordania. "Kami berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam sejarah kami," serunya.
Bagi Yordania, Piala Dunia 2026 tetap menjadi tonggak sejarah. Namun, dari sisi hasil, debut mereka belum mampu berlanjut ke fase gugur.
Panama Juga Harus Pulang Lebih Cepat
Panama menjadi tim terbaru yang masuk daftar tersingkir setelah kalah 0-1 dari Kroasia di Grup L. Gol Ante Budimir pada menit ke-54 membuat Panama gagal meraih poin dan tidak lagi memiliki peluang melaju.
Panama sebenarnya dikenal sebagai tim yang keras, disiplin, dan mampu membuat lawan frustrasi. Mereka pernah mencuri perhatian di kawasan CONCACAF dan tidak datang tanpa modal.
Namun, di Piala Dunia 2026, Panama belum mampu mencetak gol dan masih belum meraih poin. Setelah kalah dari Ghana pada laga pembuka dan tumbang dari Kroasia, mereka dipastikan tersingkir.
Pelatih Panama Thomas Christiansen sempat menunjukkan optimisme sebelum turnamen.
“Our faith moves mountains.”
Namun, keyakinan itu belum cukup untuk mengubah nasib di fase grup. Panama masih menyisakan laga terakhir melawan Inggris, tetapi pertandingan itu tidak lagi menentukan kelolosan mereka.
Wakil Asia Masih Punya Harapan
Meski Yordania sudah tersingkir, peluang wakil Asia belum habis. Beberapa tim Asia masih memiliki kesempatan untuk lolos, terutama lewat jalur peringkat ketiga terbaik.
Qatar, Arab Saudi, Irak, dan Uzbekistan masih berada di posisi sulit karena duduk di dasar grup masing-masing. Namun, mereka masih punya peluang jika mampu menang pada laga terakhir.
Skenarionya tidak sederhana. Selain wajib menang, mereka juga harus memperhatikan selisih gol, jumlah gol, dan hasil tim lain yang bersaing di klasemen peringkat ketiga terbaik.
Sementara Korea Selatan, Australia, Jepang, dan Iran juga masih memiliki peluang besar untuk melaju, tergantung hasil laga terakhir di grup masing-masing. Jepang bahkan berada dalam posisi yang lebih kuat setelah menang telak 4-0 atas Tunisia.
Dengan format delapan peringkat ketiga terbaik, wakil Asia masih bisa menyelamatkan banyak tempat. Namun, laga terakhir akan menjadi ujian mental karena satu kesalahan kecil bisa menentukan nasib.
Format Baru Bikin Hitung-hitungan Lebih Rumit
Seperti diketahui, Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama dengan 48 tim. Perubahan format ini membuat fase grup lebih luas, tetapi juga membuat skenario kelolosan lebih rumit.
Jika dulu hanya juara dan runner-up grup yang lolos ke babak 16 besar, kini ada tambahan jalur bagi delapan peringkat ketiga terbaik. Artinya, tim yang finis ketiga masih bisa melaju, selama punya poin, selisih gol, dan produktivitas yang cukup baik dibanding peringkat ketiga dari grup lain.
Namun, format ini juga membuat beberapa tim tersingkir lebih cepat meski masih menyisakan satu pertandingan. Jika sebuah tim kalah dua kali dan kalah head-to-head dari pesaing langsung, peluangnya bisa tertutup sebelum laga ketiga dimainkan.
Hal itulah yang menimpa Haiti, Turki, Tunisia, Yordania, dan Panama. Mereka masih punya jadwal tersisa, tetapi secara matematis tidak lagi bisa mencapai posisi yang cukup untuk lolos.
Kuda Hitam Tumbang Lebih Cepat
Hal yang menarik, daftar lima tim tersingkir berisi beberapa tim yang sempat dinilai bisa memberi kejutan. Turki dianggap punya skuad generasi baru yang menarik. Yordania datang sebagai debutan yang sebelumnya mencuri perhatian di level Asia.
Haiti juga membawa cerita romantis setelah kembali ke Piala Dunia usai penantian panjang. Panama juga punya reputasi sebagai tim pekerja keras yang tidak mudah ditaklukkan.
Namun, Piala Dunia menunjukkan standar yang lebih keras. Tim yang kurang efektif di depan gawang, tidak cukup kuat bertahan, atau gagal menjaga momentum langsung dihukum.
Kuda hitam hanya bisa menjadi ancaman jika mampu mengambil poin sejak awal. Begitu dua laga pertama berakhir dengan kekalahan, status kejutan berubah menjadi cerita pulang lebih cepat.
Laga Terakhir Tetap Penting
Meski lima tim sudah tersingkir, laga terakhir mereka tetap tidak bisa dianggap kosong. Ada reputasi, ranking FIFA, pengalaman pemain, dan kehormatan negara yang masih dipertaruhkan.
Bagi tim debutan seperti Yordania, pertandingan terakhir melawan Argentina bisa menjadi pengalaman bersejarah. Bagi Haiti, laga kontra Maroko bisa menjadi kesempatan mencetak gol pertama setelah kembali ke Piala Dunia. Bagi Turki, pertandingan terakhir dapat menjadi bahan evaluasi generasi mudanya.
Untuk Panama dan Tunisia, laga terakhir juga menjadi ruang memperbaiki citra setelah hasil buruk di dua pertandingan awal.
Di sisi lain, hasil mereka tetap bisa memengaruhi nasib tim lain. Tim yang sudah tersingkir masih mungkin menjadi batu sandungan bagi lawan yang sedang memburu tiket 32 besar atau posisi juara grup.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar