Periskop.id - Olahraga padel belakangan ini kian digandrungi oleh masyarakat perkotaan di Indonesia. Lebih dari sekadar aktivitas fisik untuk membakar kalori, cabang olahraga raket ini rupanya telah berkembang menjadi simbol gaya hidup baru yang sarat akan makna sosial dan budaya.
Pergeseran makna padel ini terpotret jelas dalam riset ilmiah berjudul Makna dan Gaya Hidup: Studi Fenomenologi Olahraga Padel pada Masyarakat Kota Bandung. Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa konstruksi makna padel terbentuk dari empat dimensi utama, yakni kesehatan, rekreasi, ruang sosial, serta identitas gaya hidup urban.
Dari sudut pandang kebugaran, para pemain aktif merasakan dampak langsung pada stamina, kualitas tidur yang membaik, hingga tambahan energi untuk aktivitas kerja harian. Lapangan padel juga berfungsi sebagai ruang pemulihan mental, tempat para pemain sejenak melepas penat dan melepaskan beban pikiran dari tekanan pekerjaan.
Wadah Networking dan Personal Branding
Kombinasi antara manfaat kesehatan dan suasana yang luwes ini perlahan mengubah alasan utama mengapa seseorang terus kembali ke lapangan.
Proses keterlibatan seseorang dalam olahraga ini umumnya dibangun melalui interaksi sosial yang teratur hingga akhirnya terinternalisasi sebagai bagian dari rutinitas mingguan.
Karakter permainan padel yang dimainkan secara ganda dan membutuhkan setidaknya empat orang menciptakan komunikasi yang intens. Interaksi ini bahkan kerap berlanjut di area kafe setelah pertandingan usai.
Dalam studi yang sama dijelaskan bahwa motivasi awal seseorang menjajal padel sering kali didorong oleh faktor because motive, yaitu alasan yang muncul berdasarkan pengalaman dan kondisi sosial sebelumnya, seperti adanya kesamaan latar belakang sosial atau sekadar rasa khawatir ketinggalan tren alias fear of missing out (FOMO).
Namun, seiring berjalannya waktu, motivasi tersebut bertransformasi menjadi in-order-to motive, yakni aktivitas padel kemudian dilakukan untuk mencapai manfaat yang dianggap lebih jelas dan terarah.
Para pemain mulai memanfaatkan rutinitas bermain padel untuk tujuan yang lebih berjangka panjang, seperti memperluas jejaring bisnis (networking), menjaga kebugaran tubuh, hingga memperkuat citra diri (personal branding).
Gaya Hidup Simbolik dan Struktur Biaya yang Eksklusif
Pergeseran pendorong aktivitas ini pada akhirnya berimbas pada bagaimana olahraga ini dipersepsikan secara ekonomis dan nilai simbolisnya di ruang publik.
Pada tataran nilai simbolik, aktivitas bermain padel membawa pesan implisit bagi pelakunya. Seseorang yang bermain padel secara tidak langsung ingin menunjukkan citra diri sebagai pribadi yang aktif, modern, mengikuti tren global, serta memiliki jejaring sosial berkualifikasi tinggi.
Penjelasan ini sejalan dengan temuan dalam artikel jurnal bertajuk Playing Up: Padel, Neoliberal Leisure, and The Production of Middle-Class Distinction in Urban Indonesia. Studi ini mengidentifikasi tiga mekanisme yang saling terhubung dalam fenomena padel di tanah air.
Pertama, padel bertindak sebagai teknologi diri, yakni sarana bagi pemain untuk mengoptimalkan potensi diri di waktu luang.
Kedua, adanya struktur harga yang memilah akses pemain berdasarkan kelas sosial. Meski sering dipromosikan sebagai olahraga yang ramah pemula dan terbuka bagi siapa saja, tarif sewa lapangan padel tergolong tinggi.
Merujuk data dari berbagai sumber, tarif sewa lapangan padel berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp450 ribu per jam. Angka ini jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan tarif sewa lapangan futsal yang berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per jam.
Struktur biaya ini secara tidak langsung menyaring pemain dan membuat padel lebih didominasi oleh kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke atas.
Mekanisme ketiga adalah panoptisisme komunitarian, yaitu bentuk pengawasan diri di waktu luang yang berorientasi pada rasa memiliki secara kelompok. Kelompok yang terbentuk di dalam ekosistem ini merupakan kelas menengah profesional perkotaan dengan usia yang lebih matang serta kemampuan finansial yang mapan.
Melalui tempat mereka bermain, cara bertanding, hingga dengan siapa mereka berinteraksi di lapangan, kelompok ini secara sadar membedakan dirinya dari publik muda kelas pekerja yang selama ini lebih identik dengan olahraga seperti futsal.
Pada akhirnya, studi tersebut menyimpulkan bahwa padel bukan sekadar tren olahraga sesaat, melainkan arena komersialisasi gaya hidup yang mempertegas batas-batas sosial masyarakat perkotaan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar