Periskop.id - Kamu pernah nggak, udah rajin skincare-an biar kulit makin glowing, tapi yang terjadi malah perih, merah, atau tiba-tiba muncul banyak jerawat? Mungkin aja bukan salah produknya, tapi kombinasi bahan aktif skincare yang kamu pakai kurang tepat. Meski terdengar sepele, salah layering bahan aktif bisa jadi bumerang buat kulit kamu kalau nggak dipahami dengan benar.

Apa Itu Bahan Aktif Skincare?

Bahan aktif skincare adalah kandungan dalam produk perawatan kulit yang benar-benar bekerja langsung di kulit. Bahan inilah yang punya peran utama buat mengatasi masalah kulit, mulai dari jerawat, kusam, sampai tanda penuaan.

Contoh bahan aktif yang sering ditemui, antara lain AHA, BHA, retinol, niacinamide, dan vitamin C. Masing-masing punya fungsi berbeda dan nggak semuanya bisa dipakai sembarangan.

Fungsi utama bahan aktif skincare adalah untuk membantu memperbaiki kondisi kulit, seperti membersihkan pori-pori, mengangkat sel kulit mati, melembapkan, mencerahkan, dan membuat kulit terlihat lebih sehat dan terawat.

10 Bahan Aktif Skincare yang Tidak Boleh Dipakai Bersamaan

1. Niacinamide dan AHA

Niacinamide (vitamin B3) sebaiknya nggak dipakai barengan dengan AHA. Niacinamide berfungsi untuk membantu memperbaiki kulit yang kering atau rusak dengan cara meningkatkan elastisitas dan menjaga skin barrier tetap sehat. Namun, masalah bisa muncul kalau niacinamide digunakan barengan dengan AHA.

Kalau dipaksa dipakai bersamaan, niacinamide bisa berubah jadi asam nikotinat yang berisiko bikin kulit perih, merah, atau iritasi. Biar aman, pakai AHA dan niacinamide di waktu yang berbeda aja, ya.

2. Vitamin C dan Retinol

Produk skincare dengan kandungan vitamin C dan retinol memang sama-sama bagus untuk merawat kulit dan membantu mengatasi jerawat. Namun, keduanya nggak disarankan dipakai bersamaan.

Vitamin C dan retinol bisa memicu kemerahan dan iritasi, terutama pada kulit sensitif. Biar tetap aman dan hasilnya maksimal, kamu bisa pakai vitamin C di pagi hari untuk melindungi kulit dari sinar matahari dan polusi, lalu gunakan retinol di malam hari untuk membantu regenerasi kulit dan mengangkat sel kulit mati.

3. Benzoil Peroksida dan Hydroquinone

Hidrokuinon berfungsi untuk mencerahkan kulit dan mengatasi hiperpigmentasi, sedangkan benzoil peroksida biasanya digunakan untuk mengobati jerawat. Meski sama-sama bermanfaat, keduanya nggak boleh dipakai bersamaan.

Menggabungkan hidrokuinon dan benzoil peroksida bisa memicu efek yang cukup serius, mulai dari munculnya noda gelap, kulit kemerahan, hingga iritasi parah. Supaya kulit tetap aman, sebaiknya hindari mencampur kedua bahan ini dalam satu rangkaian skincare.

4. Retinol dan Asam Salisilat

Pada dasarnya, mencampur retinol dan asam salisilat justru bikin kinerjanya kurang maksimal. Nggak cuma itu, dua bahan ini juga sama-sama punya efek mengeringkan kulit. Kalau kulit terlalu kering, produksi minyak bisa meningkat dan ujung-ujungnya bikin wajah rentan berjerawat.

Biar aman, kamu bisa pakai asam salisilat di pagi hari dan retinol di malam hari. Kalau masih ingin mengombinasikan keduanya, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter kulit.

5. Vitamin C dan AHA/BHA

Kombinasi skincare yang nggak disarankan dipakai barengan adalah vitamin C dengan AHA/BHA. Meski sama-sama bisa bantu mencerahkan kulit, mencampur ketiganya justru bisa jadi bumerang.

Soalnya, vitamin C punya pH yang cukup rendah. Saat dipakai bersamaan dengan AHA/BHA, pH vitamin C bisa berubah dan bikin efektivitas ketiganya menurun. Hasilnya, manfaat yang didapat jadi nggak maksimal. Lebih aman pakai bergantian supaya kulit tetap aman.

6. Retinol dan AHA

Kombinasi skincare lain yang nggak disarankan dipakai barengan adalah retinol (vitamin A) dan AHA. Padahal, keduanya sama-sama terkenal ampuh untuk melawan tanda-tanda penuaan karena bisa mempercepat regenerasi sel kulit.

Masalahnya, retinol dan AHA bekerja dengan cara yang sama, yaitu mengelupas lapisan terluar kulit. Kalau dipakai bersamaan, kulit bisa jadi kaget dan berujung iritasi, kemerahan, sampai mengelupas. Biar aman, sebaiknya pakai retinol dan AHA di waktu atau hari yang berbeda.

7. Asam Salisilat dan Asam Glikolat

Asam glikolat dan asam salisilat sama-sama berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati. Bedanya, asam glikolat bekerja di permukaan kulit, sedangkan asam salisilat bisa menembus lebih dalam untuk membersihkan pori-pori yang tersumbat.

Walaupun manfaatnya bagus, keduanya nggak disarankan dipakai bersamaan. Menggabungkan dua eksfoliator sekaligus justru bisa bikin kulit over eksfoliasi yang efeknya kulit jadi mengelupas parah, merah, perih, dan kering. Lebih aman kalau dipakai bergantian, bukan dalam satu waktu.

8. Retinoid atau Retinol dan Benzoil Peroksida

Banyak orang tergoda pakai benzoil peroksida dan retinol sekaligus karena sama-sama ampuh buat jerawat. Sayangnya, dua bahan ini nggak cocok dipakai barengan.

Benzoil peroksida bisa menonaktifkan retinol. Jadi, bukannya jerawat berkurang, hasilnya malah nggak maksimal. Biar tetap efektif, lebih baik gunakan secara bergantian. Kalau masih ragu, nggak ada salahnya konsultasi ke dokter kulit supaya pemakaiannya lebih aman dan tepat.

9. Retinol dan Asam Glikolat

Asam glikolat berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati di permukaan kulit, sedangkan retinol dikenal ampuh sebagai eksfoliator yang membantu mengatasi sekaligus mencegah jerawat.

Namun, kalau dipakai bersamaan, kombinasi ini justru bisa bikin kulit kering, merah, dan iritasi. Supaya lebih aman, sebaiknya gunakan secara bergantian, misalnya asam glikolat di pagi hari dan retinol di malam hari.

10. Vitamin C dan Asam Glikolat

Vitamin C dan asam glikolat sebaiknya jangan dipakai bersamaan karena dua kandungan ini punya sifat asam yang bisa bikin pH kulit jadi nggak seimbang.

Kalau dipaksakan, kulit bisa jadi merah, gatal, kering, bahkan muncul ruam. Biar aman, pakai saja bergantian. Misalnya, satu di pagi hari dan satunya lagi di malam hari. Kulit pun tetap sehat tanpa ada iritasi.