Periskop.id - Masa kehamilan adalah momen yang magis, tapi jujur saja, kadang juga bikin pusing. Bukan hanya karena morning sickness atau punggung pegal, tapi karena banjir nasihat dari orang sekitar, "Jangan makan ini!", "Jangan lakukan itu!", "Nanti bayinya begini lho!". Niat mereka mungkin baik, tapi sering kali nasihat tersebut hanyalah mitos turun-temurun yang tidak punya dasar medis. Nah, supaya kamu bisa menjalani kehamilan dengan tenang dan bahagia tanpa rasa takut yang tidak perlu, mari kita bedah lima mitos paling legendaris dengan kacamata medis.
1. Makan Nanas Saat Hamil, Aman atau Bahaya?
Kita mulai dari mitos yang paling sering terdengar di telinga ibu hamil Indonesia, makan nanas bisa menyebabkan keguguran. Benarkah demikian?
Faktanya, nanas sebenarnya aman dikonsumsi, Girls. Ketakutan ini muncul karena nanas mengandung enzim bernama bromelain. Mengutip dari Healthline, bromelain memang bisa memecah protein dan jika dalam dosis sangat tinggi, dapat memicu pelunakan leher rahim yang berisiko kontraksi dini. Namun, kuncinya ada pada dosis.
Jumlah bromelain dalam satu porsi nanas segar sangatlah kecil. Untuk mencapai efek yang membahayakan kandungan, seorang ibu hamil harus memakan sekitar 7 hingga 10 buah nanas utuh sekaligus dalam satu waktu.
Justru, nanas adalah sumber nutrisi yang hebat. Buah ini kaya akan vitamin C yang penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh kamu dan janin. Selain itu, nanas mengandung serat yang bisa membantu mengatasi sembelit, masalah klasik saat hamil. Jadi, selama kamu memakannya dalam porsi wajar, nikmati saja kesegarannya tanpa rasa bersalah.
Ngomong-ngomong soal makanan segar, biasanya setelah makan buah paling enak minum yang dingin-dingin, kan? Tunggu dulu! Katanya, air es bikin ukuran bayi jadi sangat besar? Yuk, kita cek faktanya di poin kedua!
2. Stop Menyalahkan Air Es! Ini Penyebab Bayi Lahir Besar yang Sebenarnya
Pernahkah kamu dilarang minum air es karena takut bayinya nanti susah keluar karena terlalu besar atau gemuk? Mitos ini sangat populer, padahal secara fisiologis tubuh manusia itu sangat canggih, Girls.
Faktanya, suhu air yang masuk ke dalam tubuh tidak akan membekukan janin atau membuat lemak janin menumpuk. Saat air es melewati kerongkongan dan masuk ke lambung, suhu tubuh kamu akan secara otomatis menghangatkannya hingga sesuai dengan suhu internal tubuh sebelum diserap. Jadi, air es tidak punya andil dalam ukuran bayi.
Lalu, kenapa ada bayi yang terlahir besar? Musuh sebenarnya bukan es batunya, melainkan gula. Sering kali, saat kita ingin minum es, kita tidak minum air putih dingin, melainkan es teh manis, es sirup, atau es campur. Dikutip dari Biology Insights, Kalori dari gula itulah yang jika dikonsumsi berlebihan akan meningkatkan kadar gula darah ibu dan memicu kenaikan berat badan janin secara drastis.
Jika kamu minum air putih dingin (0 kalori), itu justru sangat disarankan untuk menjaga hidrasi tubuh agar air ketuban tetap cukup dan suhu tubuh ibu tetap sejuk. Jadi, jangan musuhi es batunya, tapi waspadai gulanya, ya!
3. Membunuh Hewan saat Istri Hamil Bikin Bayi Cacat
Mitos ini sering kali membuat ibu hamil stres berat. Konon, jika suami memancing ikan, membunuh kecoa, atau menyakiti hewan saat istri hamil, bayinya akan lahir dengan cacat fisik menyerupai luka hewan tersebut.
Girls, mari kita luruskan dengan sains. Menurut World Health Organization (WHO), cacat lahir adalah kondisi medis serius yang terjadi karena kelainan kromosom atau genetik, paparan zat kimia berbahaya, kekurangan nutrisi penting seperti asam folat, atau infeksi virus. Tidak ada jalur biologis apa pun yang menghubungkan tindakan karma membunuh nyamuk atau memancing ikan dengan pembentukan organ janin di dalam rahim.
Hal yang perlu diwaspadai adalah interaksi langsung dengan kotoran hewan, bukan tindakan membunuhnya. Misalnya, Toxoplasmosis yang bisa menyebabkan cacat janin itu ditularkan melalui parasit pada kotoran kucing, bukan karena suami kamu mengusir kucing.
Jadi, berhentilah merasa cemas berlebihan. Fokuslah pada pemeriksaan rutin untuk memantau perkembangan organ janin secara medis, bukan berdasarkan takhayul. Ketenangan pikiranmu jauh lebih penting untuk kesehatan janin daripada memikirkan mitos ini.
Bicara soal fisik bayi, biasanya tebak-tebakan paling seru adalah soal jenis kelamin. Katanya bisa dilihat dari bentuk perut, lho. Masa sih?
4. Saat Bentuk Perut Dijadikan Ramalan Jenis Kelamin
"Wah, perutnya mancung ke depan, pasti cowok nih!" atau "Perutnya melebar ke samping, fix cewek!". Sering dengar tebakan seperti ini? Meskipun seru buat bahan obrolan, faktanya bentuk perut ibu sama sekali tidak menentukan jenis kelamin bayi.
Dikutip dari Healthline, bentuk perut ibu hamil ditentukan oleh faktor fisik ibu itu sendiri, Girls. Pertama, kekuatan otot perut. Jika ini kehamilan pertama dan otot perutmu masih kencang, perut cenderung terlihat tinggi dan mancung. Kedua, posisi janin. Jika punggung bayi menghadap ke depan, perut akan terlihat lebih lancip. Ketiga, postur tubuh dan tinggi badan ibu. Ibu yang bertubuh pendek mungkin akan terlihat lebih lebar perutnya karena ruang rahim yang terbatas ke atas.
Jenis kelamin bayi ditentukan sejak pembuahan oleh kromosom sperma ayah, dan hanya bisa dilihat akurat melalui pemeriksaan medis seperti ultrasonografi (USG), biasanya di atas usia 14 sampai 20 minggu.
Terakhir, setelah membahas soal bayi, jangan lupa soal ibunya. Banyak yang bilang ibu hamil gak boleh potong rambut karena pamali. Apakah benar?
5. Ibu Hamil Dilarang Potong Rambut
Ada kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa memotong rambut saat hamil bisa memotong umur bayi, membuang rezeki, atau membuat bayi lahir botak. Kedengarannya menyeramkan. Namun faktanya, ini murni mitos budaya tanpa dasar ilmiah.
Secara biologis, rambut adalah sel mati yang tersusun dari protein keratin. Memotong ujung rambut tidak akan mempengaruhi saraf, aliran darah, atau nutrisi yang masuk ke plasenta. Janin di dalam rahim tidak merasakan apa pun saat ibunya potong rambut. Justru, memotong rambut bisa menjadi bagian dari perawatan diri yang sangat positif.
Dikutip dari Medical News Today, saat hamil, hormon estrogen kamu melonjak tinggi yang membuat fase pertumbuhan rambut menjadi lebih panjang dan rontoknya berkurang. Makanya, rambut ibu hamil sering terlihat badai dan tebal. Namun, karena gerah dan perubahan suhu tubuh, memotong rambut menjadi lebih pendek sering kali membuat ibu merasa lebih segar, nyaman, dan percaya diri. Ingat Girls, ibu yang bahagia akan menghasilkan hormon-hormon baik yang justru menyehatkan janin.
Tinggalkan Komentar
Komentar