periskop.id - Pernah merasa sudah bekerja keras, punya kemampuan, dan hasil kerja bagus, tapi karier tetap mentok di situ-situ saja? Bisa jadi masalahnya bukan pada kamu, melainkan ada fenomena glass ceiling batas tak kasat mata yang diam-diam menahan langkah perempuan dan minoritas di dunia kerja. Hambatan ini sering datang tanpa disadari, dibungkus rapi dalam sistem dan budaya kerja, tapi dampaknya sangat nyata bagi perjalanan karier.
Apa Itu Glass Celling?
Istilah glass ceiling pertama kali muncul pada 1986 untuk menggambarkan penghalang tak terlihat yang sering menghentikan langkah perempuan menuju posisi yang lebih tinggi di dunia kerja. Disebut kaca karena tidak tampak jelas, tapi sangat nyata dampaknya.
Dilansir dari Investopedia, glass ceiling adalah metafora atas hambatan yang dihadapi perempuan dan kelompok minoritas ketika ingin naik ke jabatan yang lebih strategis di dalam perusahaan.
Masalahnya, glass ceiling bukan soal kurang pintar, kurang kompeten, atau kurang kerja keras. Justru di sinilah letak kekesalannya banyak orang sudah berusaha maksimal, punya kemampuan, dan pengalaman, tapi tetap mentok karena bias dan aturan tak tertulis. Diskriminasi ini halus dan sering dianggap wajar, tapi jelas merugikan karena yang dibatasi bukan potensinya, melainkan aksesnya.
Menurut laporan dari Pew Research Center, faktanya perempuan dan kelompok minoritas masih tertinggal dibandingkan kelompok kulit putih dalam dunia kerja. Ini bukan soal kurang usaha, tapi soal lapangan permainan yang memang belum rata.
Mau tidak mau harus diakui, sampai sekarang glass ceiling masih jadi hantu yang membuntuti perempuan dan minoritas di dunia profesional. Akan tetapi, tidak semua perusahaan terdapat fenomena glass ceiling ini.
Selain itu, menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kesenjangan upah berdasarkan gender di Indonesia masih nyata dan bahkan memburuk. Pada 2022, gender wage gap mencapai 22,09%, naik 1,7 poin persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 20,39%.
Artinya, upah buruh laki-laki rata-rata 22,09% lebih tinggi dibandingkan buruh perempuan. Laki-laki bisa mengantongi sekitar Rp3,33 juta, sementara perempuan harus puas di kisaran Rp2,59 juta padahal beban kerja bisa sama, bahkan kadang lebih.
Bentuk Glass Ceiling yang Sering Dialami Perempuan
Sulit Naik Jabatan dan Mandek di Posisi Menengah
Meski kinerjanya bagus, banyak perempuan berhenti di level manajerial menengah. Pintu ke posisi eksekutif seolah tertutup rapat.
Kesenjangan Gaji
Untuk pekerjaan yang sama atau setara, perempuan sering dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Stereotip dan Bias Gender
Perempuan kerap dicap kurang tegas, tidak cocok memimpin, atau dianggap seharusnya lebih fokus pada urusan rumah tangga daripada jabatan strategis.
Minim Representasi Perempuan
Perempuan masih jarang terlihat di bidang sains, teknologi, teknik (STEM), serta posisi kepemimpinan penting, seperti pimpinan lembaga atau pejabat tinggi.
Sulit Membangun Jaringan Profesional
Akses perempuan ke relasi dan lingkaran profesional yang mendukung karier sering kali lebih terbatas.
Dampak ke Kepercayaan Diri
Tekanan stereotip dan hambatan yang terus berulang dapat membuat perempuan ragu mengambil peran kepemimpinan sehingga hambatan datang dari luar sekaligus dari dalam diri.
Faktor Penyebab Glass Ceiling
Berdasarkan penelitian Muslim dan Perdhana (2017), glass ceiling tidak muncul begitu saja, tapi dipengaruhi oleh beberapa anggapan dan stigma yang masih melekat kuat. Terdapat beberapa faktor, yaitu:
- Dianggap Kurang Mampu Mengaktualisasikan Diri
Perempuan sering dicap tidak cukup menonjol atau siap memimpin, sehingga peluang promosi ke jabatan lebih tinggi jadi tertutup padahal kemampuannya ada. - Dianggap Sulit Membangun Jaringan (networking)
Ada anggapan bahwa perempuan kurang piawai membangun relasi profesional, meski faktanya akses dan kesempatan networking sering kali memang tidak setara. - Stereotip Gender yang Masih Kuat
Perempuan masih dipandang lebih ideal jika fokus di rumah atau menjadi ibu rumah tangga. Ditambah bias sadar atau tidak yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih unggul di dunia kerja. - Konflik Peran Kerja dan Keluarga
Perempuan sering dianggap tidak bisa bekerja maksimal karena harus membagi fokus antara karier dan keluarga, seolah tanggung jawab domestik hanya urusan mereka.
Cara Menghadapi Glass Ceiling
Ini tips realistis yang bisa kamu lakukan supaya nggak terus-terusan jadi korban diskriminasi di tempat kerja.
1. Stand out, Jangan Cuma Kerja Diam-Diam
Kerja bagus saja sering kali belum cukup. Tunjukkan pencapaianmu, bagikan hasil kerja dan portofolio secara profesional supaya orang lain nggak bisa pura-pura nggak lihat. Prestasi layak dapat spotlight.
2. Konsisten Kasih Hasil Terbaik
Bukan cuma sekali dua kali, tapi terus-menerus. Fokus pada kualitas kerja karena konsistensi adalah bukti nyata bahwa kamu memang layak naik level bukan sekadar coba-coba.
3. Bangun Jaringan, Jangan Kerja Sendirian
Relasi itu penting, mau diakui atau tidak. Perluas jaringan lewat komunitas profesional, organisasi, atau serikat pekerja. Networking yang kuat bisa jadi penyelamat saat karier mulai mentok karena bias sistem.
4. Berani Bersuara Soal Kebijakan
Kalau ada aturan yang tidak adil, jangan diam. Dorong kebijakan antidiskriminasi dan ikut terlibat dalam diskusi dengan HRD atau manajemen. Lingkungan kerja yang inklusif tidak akan tercipta kalau semua orang memilih diam.
Tinggalkan Komentar
Komentar