periskop.id - Kita mungkin sering mendengar komentar seperti, “Makanya jangan pakai baju begitu,” atau pertanyaan seperti, “Kenapa nggak melawan?”, “Kenapa nggak teriak?”, “Kamu sih berpakaian kayak begitu, ya pantas saja kalau kamu mengalami pelecehan seksual”, “Siapa suruh kamu keluar malam-malam? Kalau kamu nggak keluar pasti perampokan itu nggak akan terjadi”.
Banyak yang menganggap kalimat-kalimat ini sebagai bentuk nasihat atau kepedulian. Padahal, tanpa disadari, ucapan tersebut justru menempatkan korban di posisi yang salah. Pola pikir inilah yang disebut victim blaming, yaitu kebiasaan menyalahkan korban atas kekerasan yang mereka alami. Ini bukan hal baru, tapi dampaknya sangat nyata. Alih-alih mendapat dukungan dan rasa aman, korban justru harus menghadapi penilaian, kritik, bahkan tudingan.
Sering kali, korban dianggap mengundang kekerasan hanya karena cara berpakaian, sikap, atau karena berada di tempat tertentu. Padahal, apa pun situasinya, kekerasan tetap sepenuhnya tanggung jawab pelaku. Menyalahkan korban bukan solusi justru bisa memperparah trauma dan membuat korban nggak mau bicara.
Apa Itu Victim Blaming?
Victim blaming adalah situasi ketika korban malah disalahkan dan diminta bertanggung jawab atas kejadian buruk yang dialaminya, padahal ia sama sekali tidak bersalah. Bukannya mendapat empati dan dukungan, korban justru kerap dianggap sebagai sumber masalah, bahkan ada yang sampai menjadi target revenge porn.
Perilaku ini bisa terjadi dalam banyak kasus, seperti bullying, pemerkosaan, kekerasan fisik, pelecehan emosional, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ironisnya, sikap menyalahkan korban masih sering dianggap hal biasa, baik di lingkungan sekitar maupun di media sosial.
Victim blaming bisa menimpa siapa saja. Namun, risikonya lebih tinggi pada mereka yang pendiam, kurang percaya diri, memiliki disabilitas, dianggap “berbeda”, atau berasal dari kelompok minoritas. Meski begitu, orang yang berprestasi, terlihat kuat, atau bahkan figur publik pun tetap bisa mengalaminya. Pada akhirnya, siapa pun bisa menjadi korban victim blaming dan yang perlu diingat, itu bukan kesalahan korban.
Mengapa Perempuan Lebih Sering Menjadi Sasaran?
1. Norma Patriarki
Dalam banyak budaya, perempuan masih sering dianggap sebagai penjaga moral keluarga. Ketika terjadi kekerasan atau pelanggaran, rasa malu dan aib justru dibebankan kepada perempuan, meskipun jelas ia adalah korban.
2. Minimnya Literasi Hukum dan Seksualitas
Tak sedikit orang yang belum paham bahwa anak di bawah umur secara hukum tidak bisa memberikan persetujuan seksual. Ketidaktahuan ini membuat korban, termasuk anak dan remaja, justru disalahkan atas kejadian yang sama sekali bukan kesalahan mereka.
3. Budaya Menyalahkan yang Terlihat
Masyarakat cenderung lebih mudah menyalahkan korban yang terlihat dan berani bersuara, daripada mengejar pelaku yang sering kali bersembunyi atau dilindungi oleh sistem dan relasi kuasa.
Akibatnya, victim blaming membuat banyak korban memilih menghilang keluar dari sekolah, pindah tempat tinggal, atau menutup diri dari lingkungan sekitar. Kondisi ini memutus akses mereka terhadap bantuan psikologis, pendidikan, dan dukungan sosial yang sebenarnya sangat dibutuhkan.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketika korban memilih diam, pelaku justru semakin leluasa dan berpotensi mengulangi perbuatannya kepada korban lain tanpa hambatan.
Dampak Victim Blaming
Victim blaming bisa berdampak besar ke kondisi mental korban. Banyak yang akhirnya merasa malu, marah, frustasi, bahkan kesepian. Tekanan ini kadang dilampiaskan dengan cara yang kurang sehat, seperti minum alkohol atau pakai narkoba. Kalau terus dibiarkan, situasinya bisa makin berat mulai dari stres berkepanjangan, depresi, sampai muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Kalau kamu jadi korban victim blaming, jangan hadapi sendirian. Cerita ke orang yang kamu percaya bisa sangat membantu. Kalau kamu merasa butuh bantuan lebih, nggak ada salahnya juga ngobrol dengan psikolog supaya kamu nggak terus terbebani dan bisa lebih terlindungi dari dampak buruknya.
Menghentikan Victim Blaming Dimulai dari Diri Sendiri
Yang paling dibutuhkan saat ini sebenarnya sederhana, yaitu keberpihakan yang nyata, bukan cuma rasa kasihan. Kita perlu lingkungan yang mau percaya dan mendukung korban, bukan justru sibuk meragukan cerita mereka. Sekolah dan kampus seharusnya jadi tempat belajar empati, bukan ruang yang ikut menghakimi. Begitu juga media sosial idealnya jadi ruang aman untuk bersuara, bukan tempat orang bebas melempar komentar pedas. Karena pada dasarnya, luka seseorang bukan bahan penilaian publik.
Walaupun tidak semua orang pernah mengalami kekerasan seksual, kita semua tetap bisa ikut ambil bagian dalam perubahan. Mulai dari hal kecil berhenti menghakimi, mau mendengarkan, dan pelan-pelan mengubah cara pandang dari menyalahkan korban menjadi melindungi mereka. Ingat, yang salah selalu pelaku, bukan korban. Menghentikan budaya victim blaming bisa jadi langkah awal agar korban merasa lebih aman dan punya ruang untuk pulih.
Tinggalkan Komentar
Komentar