periskop.id – Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Ismail, mengungkapkan tingkat penerimaan masyarakat Indonesia terhadap teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tergolong cukup tinggi.
Ismail menyebut survei memperlihatkan sebagian besar publik tidak mempersoalkan kehadiran teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“70% hasil survei menunjukkan masyarakat di Indonesia itu fine-fine aja dengan AI. Gak papa nih AI, dateng-dateng baik-baik aja,” ucapnya saat menghadiri Digiforum 2025 di Senayan, Jakarta, Jumat (28/11).
Adopsi teknologi ini melaju pesat khususnya pada kalangan generasi muda. Kelompok ini dinilai memiliki kemampuan adaptasi jauh lebih cepat terhadap berbagai inovasi digital baru.
Fenomena ini menjadi indikator positif keterbukaan masyarakat terhadap perubahan zaman. Publik semakin siap berdampingan dengan instrumen digital mutakhir untuk menunjang aktivitas.
Kendati demikian, Ismail menekankan urgensi pemanfaatan teknologi secara bijak. Kehadiran kecerdasan buatan jangan sampai menciptakan ketergantungan berlebihan atau meninabobokan pengguna.
Ia mengingatkan fungsi utama teknologi sebagai alat bantu semata, bukan pengganti peran aktif manusia. Efisiensi waktu harus dimanfaatkan untuk menyelesaikan lebih banyak tugas.
“Ini kan alat. Tools. Jadi tools itu bukan membuat males, tapi membuat suatu pekerjaan yang tadinya lama bisa diselesaikan cepat, sehingga bisa melakukan pekerjaan lain lebih cepat lagi,” tegas Ismail.
Perkembangan teknologi merupakan keniscayaan yang sulit dihindari di era modern. Harapannya, kemudahan akses digital ini memicu lonjakan produktivitas kerja, bukan sebaliknya.
Pemerintah kini tengah merancang berbagai riset pengembangan AI secara mendalam. Langkah ini bertujuan menciptakan teknologi yang selaras dengan kebutuhan spesifik dalam negeri.
Upaya kustomisasi teknologi ini mencakup penyesuaian konteks sosial hingga bahasa. Hal ini penting agar AI benar-benar relevan saat diterapkan di tengah masyarakat.
“Kami sedang berusaha melakukan riset dan penelitian yang bisa membuat AI itu untuk customizing kebutuhan Indonesia,” paparnya.
Komdigi menargetkan inisiatif ini mampu mendongkrak efisiensi serta kreativitas masyarakat luas. Aspek etika dan keamanan data tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan ekosistem digital nasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar