Periskop.id – Perushaan teknologi, Meta, mendorong terciptanya demokratisasi kecerdasan buatan (AI), melalui pengembangan teknologi yang lebih aman, transparan, dan dapat diakses oleh seluruh pengguna.

“Teknologi itu tidak boleh hanya dikuasai oleh segelintir orang. AI harus bisa dimanfaatkan semua orang, dan distribusi Meta AI yang sudah melampaui 1 miliar pengguna menunjukkan arah itu,” kata Country Director Meta untuk Indonesia Pieter Lydian dalam paparan perkembangan teknologi Meta AI yang digelar di Jakarta, Rabu (10/12). 

Pieter mengungkapkan, Meta telah mencatat lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan Meta AI sebagai bagian dari ekosistem aplikasi Meta yang menaungi 3,4 miliar pengguna global dari Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Ia menyebut, pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperluas akses masyarakat terhadap teknologi AI.

Ia menjelaskan, Meta membangun AI dengan lima prinsip utama, yakni mitigasi risiko, perlindungan privasi, transparansi dan kontrol pengguna, garis akuntabilitas yang jelas, serta akses yang terbuka bagi semua kalangan.Prinsip-prinsip ini disebut menjadi dasar pengambilan keputusan Meta dalam pengembangan produk berbasis AI.

Pieter mengatakan, perkembangan AI saat ini baru memasuki fase awal, meski pemanfaatannya sudah signifikan bagi pengguna. Meta melihat tren adopsi AI yang sangat cepat, terutama pada generative AI, multimodal AI yang mampu mengolah berbagai jenis input seperti teks dan gambar, serta agentic AI yang memungkinkan sistem menjalankan instruksi secara otomatis.

Ia menambahkan, Meta akan terus berinvestasi untuk membangun teknologi AI yang lebih inklusif, aman, dan relevan bagi pengguna dengan menghadirkan fitur yang bermanfaat dalam layanan sosial, komunikasi, hingga konsumsi informasi.

“Adopsinya sangat cepat, baik oleh pekerja maupun perusahaan. Kami ingin menjadi pelaku, bukan sekadar pengamat, karena AI akan membentuk masa depan interaksi digital,” ujar Pieter.

Investasi US$600 Miliar

Asal tahu saja, belum lama ini, Meta memang sudah mengumumkan rencana investasi sebesar US$600 miliar atau setara Rp10 kuadriliun di Amerika Serikat hingga 2028 yang sebagian besar akan difokuskan pada pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).

“Di Meta, kami berfokus pada pengembangan generasi berikutnya dari produk AI dan membangun personal superintelligence untuk semua orang. Pusat data menjadi komponen penting untuk mencapai tujuan tersebut dan membantu Amerika mempertahankan keunggulan teknologinya,” kata Meta dikutip dari Engadget beberapa waktu lalu. 

Istilah “superintelligence” yang digunakan Meta merujuk pada potensi perkembangan AI yang dapat melampaui kemampuan kognitif manusia. Nilai investasi yang sama sebelumnya disebutkan oleh CEO Meta Mark Zuckerberg, dalam jamuan makan malam di Gedung Putih bersama para pimpinan perusahaan teknologi besar pada September lalu.

Namun, momen tersebut sempat menjadi sorotan publik setelah sebuah rekaman hot mic memperdengarkan percakapan antara Zuckerberg dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Maaf, saya belum siap. Saya tidak yakin berapa angka yang anda inginkan,” ujar Zuckerberg kepada Trump, menyinggung angka investasi itu.

Meta menyebut investasi ini akan memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja di AS. Sejak 2010, pembangunan dan operasional pusat data Meta diklaim telah menciptakan lebih dari 30.000 pekerjaan di sektor konstruksi dan 5.000 pekerjaan operasional. 

Saat ini, Meta juga menggelontorkan lebih dari US$20 miliar kepada para subkontraktor di AS. Meta sendiri menempatkan perangkat kacamata pintar berbasis AI sebagai bagian penting dari visi masa depannya. 

Dalam pernyataannya pada Juli lalu, Zuckerberg mengatakan, di masa mendatang, individu yang tidak menggunakan kacamata pintar berbasis AI berisiko mengalami “kerugian kognitif yang signifikan.”