periskop.id - Samsung resmi mengumumkan kehadiran chipset terbaru mereka, Exynos 2600, setelah sebelumnya hanya beredar melalui bocoran dan spekulasi. Konfirmasi ini disampaikan lewat sebuah video teaser singkat yang diunggah di kanal YouTube resmi Samsung pada 3 Desember 2025. 

Melansir Antara, Kamis (4/12) kehadiran chipset ini menjadi langkah penting bagi Samsung dalam memperbaiki reputasi lini Exynos yang sempat dianggap kurang memuaskan.

Dalam pembukaannya, Samsung menyampaikan pesan simbolik yang cukup kuat. Narasi “in silence, we listened” menegaskan bahwa perusahaan mendengar kritik dari pengguna atas performa generasi sebelumnya. 

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Exynos 2600 dirancang dengan pendekatan baru, lebih matang, dan berorientasi pada kebutuhan nyata konsumen.

Chipset ini disebut-sebut sebagai chip pertama di dunia yang menggunakan teknologi fabrikasi 2nm. Teknologi tersebut diyakini mampu meningkatkan efisiensi daya sekaligus memperkuat performa komputasi. Menurut riset dari TrendForce, adopsi teknologi 2nm diprediksi akan menjadi standar industri pada 2026, dengan potensi mengurangi konsumsi energi hingga 30% dibandingkan proses 3nm.

Samsung menegaskan bahwa Exynos 2600 telah “disempurnakan dari inti dan dioptimalkan di seluruh lapisan desain.” Klaim ini menunjukkan bahwa peningkatan tidak hanya terjadi pada sisi CPU dan GPU, tetapi juga pada sistem manajemen daya, kecerdasan buatan, serta integrasi modem 5G dan 6G yang lebih efisien.

Sejumlah hasil uji benchmark yang beredar memperlihatkan performa Exynos 2600 berada di level kompetitif. Chipset ini bahkan mampu menyamai Snapdragon 8 Elite Gen 5, flagship terbaru dari Qualcomm. Hal ini menarik karena selama bertahun-tahun Snapdragon selalu dianggap lebih unggul dibanding Exynos, terutama dalam hal stabilitas dan efisiensi.

Selain performa, Exynos 2600 juga diproyeksikan menjadi dapur pacu utama untuk seri Samsung Galaxy S26. Namun, seperti tradisi sebelumnya, distribusi chipset ini kemungkinan tidak merata di seluruh wilayah. Pasar Amerika Serikat misalnya, masih berpotensi mendapatkan varian dengan Snapdragon, sementara pasar Asia dan Eropa lebih banyak mengandalkan Exynos.

Dari sisi pasar, langkah Samsung menghadirkan chipset 2nm lebih awal memberi keuntungan strategis. Laporan dari Counterpoint Research menunjukkan bahwa penguasaan teknologi fabrikasi terbaru dapat meningkatkan daya saing produsen hingga 15% dalam segmen premium. Dengan demikian, Exynos 2600 bukan hanya sekadar komponen, melainkan strategi untuk memperkuat posisi Samsung di pasar global.

Selain itu, kehadiran Exynos 2600 juga menjadi bagian dari persaingan teknologi antara Samsung dan TSMC. TSMC sendiri dijadwalkan memproduksi chip 2nm pada 2026. Jika Samsung berhasil menjaga kualitas produksi massal, mereka berpotensi menjadi pionir dalam adopsi teknologi ini, sekaligus memperbaiki citra Exynos yang sempat tertinggal.

Dengan semua inovasi ini, Exynos 2600 bukan hanya menjanjikan performa tinggi, tetapi juga menjadi simbol transformasi Samsung dalam mendengarkan kritik dan menjawab kebutuhan pasar.