periskop.id - Selama lebih dari 20 tahun, search engine optimization (SEO) menjadi tulang punggung strategi pemasaran digital. Namun kini, praktik tersebut menghadapi tantangan besar dengan hadirnya kecerdasan buatan generatif (gen AI) yang mampu memberikan jawaban langsung tanpa daftar link sumber informasi.
Melansir Silicon Angle, para ahli menilai, prinsip SEO tradisional masih relevan, tetapi perlu penyesuaian agar konten tetap muncul di sistem seperti ChatGPT dan Gemini. Optimasi kini bukan sekadar kata kunci, melainkan bagaimana sebuah entitas dikenali dan dipercaya oleh mesin AI.
Perubahan ini mulai terasa sejak Mei 2024, ketika Google meluncurkan fitur AI Overviews. Fitur tersebut kini muncul di sekitar 30% pencarian di Amerika Serikat dan menyebabkan penurunan klik yang signifikan bagi banyak situs.
Kevin Roy, CEO GreenBanana SEO, menegaskan fenomena ini memicu perilaku zero-click. Akibatnya, banyak brand kehilangan kendali atas visibilitas mereka.
“AI menghasilkan jawaban instan, melewati situs web sepenuhnya,” ujarnya.
Menurut riset theCUBE Research, pada 2030 lebih dari 70% riset perangkat lunak B2B akan dilakukan melalui asisten AI, bukan mesin pencari. Bahkan, mulai tahun depan mayoritas pembeli diperkirakan lebih memilih AI untuk membandingkan vendor.
Scott Hebner, analis utama AI di theCUBE Research, menulis: “Strategi SEO tradisional kehilangan visibilitas dan kontrol karena AI menentukan merek mana yang ditampilkan dalam jawaban sintetis.”
Keunggulan utama platform AI generatif adalah efisiensi waktu. Alih-alih menampilkan daftar tautan, sistem ini langsung menyajikan jawaban ringkas sehingga pengguna tidak perlu membuka banyak halaman.
Jika mesin pencari menilai relevansi dari jumlah dan kualitas tautan, AI generatif bekerja dengan cara berbeda. Struktur dan konsistensi kini menjadi faktor utama.
“AI belajar dari data terstruktur, kutipan, dan hubungan antar-entitas,” jelas Roy.
Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia domain yang dirujuk oleh ChatGPT adalah 17 tahun. Hal ini menandakan AI lebih mempercayai entitas lama dan mapan dibanding situs baru yang belum memiliki struktur kuat.
Don Dodds, pendiri M16 Marketing, menulis di Forbes: “Optimasi entitas berfokus pada identitas yang dapat dibaca mesin, koneksi semantik lintas platform otoritatif, dan konsistensi konteks merek.” Dengan kata lain, AI lebih peduli pada siapa dan apa sebuah brand, bukan sekadar kata kunci.
“Mereka berusaha memahami secara holistik siapa Anda, apa yang Anda lakukan, dan apakah Anda penting menulis tentang suatu topik,” tambah Roy. Inilah pergeseran besar dari SEO berbasis teks ke AI Engine Optimization (AEO).
AEO memiliki dua komponen utama. Pertama, struktur konten. AI membutuhkan sumber yang jelas, ringkas, dan mudah diekstrak. Format FAQ dan tanya-jawab singkat kini menjadi standar agar konten lebih mudah dipahami mesin.
Komponen kedua adalah otoritas. AI mencari sinyal konsistensi dari sumber kredibel lain. Di sinilah schema markup berperan penting. Schema dulu hanya tambahan, sekarang hampir wajib. Dengan format JSON standar, AI dapat mengenali penulis, organisasi, produk, dan tanggal publikasi tanpa ambigu.
Faktor lain yang semakin penting adalah kepengarangan. Roy menyarankan setiap konten dilampirkan pada penulis nyata dengan profil yang diverifikasi. Praktik ini disebut entity stacking, yang membantu AI memastikan konten berasal dari individu kredibel.
Framework yang dikembangkan Roy, Entity Authority Engineering, menekankan konsistensi data terstruktur, pemetaan kutipan merek di berbagai sumber otoritatif, serta pengujian lintas model AI. Tujuannya bukan sekadar ranking, melainkan agar brand diakui sebagai entitas yang layak dikutip.
“Pemenangnya adalah mereka yang tidak mengabaikan ini. Mereka fokus pada struktur, schema, dan otoritas nyata. Jalan pintas tidak lagi bekerja,” pungkas Roy.
Pada akhirnya, AEO bukanlah pengganti absolut SEO, melainkan redefinisi taktik agar brand tetap relevan di era jawaban instan AI.
Tinggalkan Komentar
Komentar