periskop.id - Australia kini menjadi negara demokrasi pertama di dunia yang menerapkan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan yang berlaku sejak 10 Desember 2025 itu langsung berdampak besar pada perusahaan teknologi global, terutama Meta.
Melansir Antara, Rabu (14/1), Meta mengumumkan telah menutup hampir 550 ribu akun milik anak-anak di Australia. Rinciannya, sekitar 330 ribu akun Instagram, 173 ribu akun Facebook, dan 40 ribu akun Threads dinyatakan melanggar aturan usia.
“Pemenuhan aturan ini akan menjadi proses berlapis yang akan terus kami perbaiki, meskipun kami tetap memiliki kekhawatiran mengenai penentuan usia secara daring tanpa adanya standar industri,” tulis Meta.
Kebijakan ini tidak hanya menyasar Meta, tetapi juga sepuluh platform besar lain seperti TikTok, Snapchat, X, Reddit, dan Twitch. Semua diwajibkan menutup akses bagi pengguna di bawah umur atau menghadapi denda hingga A$49,5 juta. Untuk menegakkan aturan, perusahaan menggunakan metode verifikasi usia beragam, mulai dari analisis swafoto hingga inferensi perilaku akun.
Namun, kebijakan tersebut menuai kontroversi. Reddit bahkan menggugat pemerintah Australia dengan alasan platformnya bukan media sosial, serta menilai aturan ini berpotensi mengganggu privasi dan kebebasan berekspresi.
Meta pun menyuarakan keberatan serupa. Menurut mereka, pembatasan ini bisa mengisolasi remaja dari komunitas daring yang memberi dukungan, sekaligus mendorong mereka ke ruang internet yang kurang terawasi.
Meski demikian, fakta bahwa hampir 550 ribu akun ditutup hanya dalam sebulan menunjukkan dampak nyata kebijakan ini terhadap operasi perusahaan teknologi.
Data riset dari eSafety Commissioner Australia pada 2024 mencatat bahwa 27% anak berusia 13–15 tahun di negara tersebut aktif menggunakan media sosial secara rutin, meski batas usia resmi platform biasanya 13 tahun. Angka ini memperlihatkan betapa besar tantangan dalam menegakkan aturan baru.
Di sisi lain, penelitian dari UNICEF (2023) menekankan bahwa interaksi digital dapat memberi manfaat bagi remaja, seperti dukungan sosial dan akses informasi. Namun, risiko paparan konten berbahaya, cyberbullying, hingga eksploitasi daring juga meningkat signifikan.
Tinggalkan Komentar
Komentar