periskop.id - Saat ini, Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dunia. Hal tersebut dipicu oleh kebijakan luar negeri terhadap keputusannya melakukan serangan terhadap Venezuela yang menargetkan fasilitas militer. Trump berdalih bahwa tindakan tersebut didasarkan pada tuduhannya terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang ia anggap terlibat dalam perdagangan narkoba, pelanggaran senjata, dan menjalankan rezim narko-teroris.
Tidak hanya itu, Trump bahkan mengklaim dirinya sebagai acting president melalui unggahan di media sosial Truth Social. Sebelumnya, ia juga menyampaikan pernyataan bahwa pemerintah Amerika Serikat berencana mengelola sumber daya minyak Venezuela dengan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak AS.
Di sisi lain, Trump juga mengungkapkan rencana untuk mencaplok wilayah Greenland yang berada di bawah kekuasaan Denmark dengan alasan demi menjaga keamanan nasional Amerika Serikat.
Jika ditelaah dari rangkaian peristiwa tersebut, Donald Trump tampak menunjukkan kecenderungan untuk berkuasa. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan sudut pandang psikologis, salah satunya konsep narsisisme. Selain itu, sikap tersebut juga dapat dipahami melalui need for power, yaitu dorongan motivasional untuk mengendalikan, memengaruhi, dan mendominasi pihak lain.
Sikap Narsisisme yang Melekat pada Donald Trump
Sikap narsisisme yang dikaitkan dengan Donald Trump dibahas dalam artikel yang dipublikasikan di The Journal of Social Psychology, yang ditulis oleh Joshua Hart dan Nathaniel Steckler. Artikel tersebut mengulas teori kepribadian yang berkaitan dengan popularitas Trump. Melalui penelitian ini, peneliti menemukan bahwa narsisisme memiliki hubungan yang signifikan dengan meningkatnya dukungan terhadap Donald Trump.
Mengutip laporan dari Union College, Trump dinilai menunjukkan ciri-ciri narsisisme patologis. Sikap grandiositas, minimnya empati, serta kecenderungan bersikap keras terhadap pihak yang dianggap lebih lemah menjadi karakteristik yang kerap dilekatkan padanya. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa daya tarik kepribadian Trump diperkuat oleh dukungan dari individu-individu yang memiliki kecenderungan narsistik serupa.
Joshua Hart menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap figur dengan kepribadian narsistik mendorong individu untuk menyukai pandangan dunia yang bersifat tradisional, menekankan hukum dan ketertiban, dan mengedepankan prinsip “yang kuat akan menang” dalam perebutan kekuasaan.
Dalam penelitian yang dimuat di The Journal of Social Psychology tersebut, penulis melakukan survei terhadap lebih dari 300 orang dewasa di Amerika Serikat. Survei ini bertujuan untuk mengukur pandangan responden terkait isu ekonomi dan sosial, tingkat narsisisme, afiliasi politik, otoritarianisme, orientasi dominasi sosial, dan tingkat dukungan terhadap Donald Trump.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat narsisisme yang lebih tinggi cenderung memiliki sikap otoritarianisme dan orientasi dominasi sosial yang kuat. Sikap-sikap ini kemudian mendorong penerimaan terhadap kebijakan yang konservatif, baik secara sosial maupun ekonomi. Karakteristik tersebut juga kerap berkaitan dengan sikap antiimigrasi yang dikenal sebagai salah satu prediktor kuat dalam dukungan terhadap Trump.
Pembentukan Motivasi dan Konsep Diri
Melansir artikel berjudul “Donald Trump’s Political and Psychological Profile” karya Aybazova M. M., Donald Trump digambarkan sebagai sosok yang didominasi oleh motif pencapaian dan kebutuhan akan kekuasaan. Bagi Trump, daya tarik kekuasaan berkaitan erat dengan keberhasilan politik, kemampuan mendominasi individu maupun situasi, serta penolakannya untuk tunduk pada otoritas yang lebih tinggi.
Motif kekuasaan ini tercermin dari keinginannya untuk menempati posisi yang dominan, memiliki status sosial yang tinggi, dan tampil sebagai figur yang superior di hadapan orang lain. Dorongan tersebut juga terlihat dalam ambisinya merancang rencana-rencana besar dan berani. Salah satu contohnya adalah gagasan untuk menganeksasi Greenland yang dilandasi tujuan menguasai kawasan Arktik dan mengamankannya dari pengaruh Rusia dan Cina.
Dalam komunikasi publik, Trump kerap menampilkan gaya yang eksentrik dan terkadang memicu kontroversi. Ia meyakini dirinya memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin yang baik dan secara konsisten menegaskan sikap siap melakukan serangan balik agar negara lain tidak ingin menantangnya. Bagi Trump, pekerjaan, negosiasi, dan kesepakatan bisnis merupakan prioritas utama, sementara hubungan sosial cenderung tidak menjadi perhatian utamanya.
Sikap Politik
Donald Trump dapat dikategorikan sebagai sosok dengan karakter ekstrovert dan tingkat dominasi yang tinggi. Ia menunjukkan kecenderungan untuk membentuk ulang tatanan politik sesuai dengan pandangan dan kepentingannya sendiri. Dalam menyampaikan gagasan, Trump kerap menggunakan seruan politik yang tegas, mencolok, dan penuh penekanan.
Ketika menghadapi kegagalan, ia tidak serta-merta meluapkan kemarahan, melainkan terus berupaya mencari alternatif strategi lain. Sikap inilah yang mencerminkan ambisi kuatnya terhadap kekuasaan. Dorongan akan kekuasaan yang melekat pada dirinya membuat Trump selalu menemukan cara untuk memposisikan diri sebagai figur pemimpin yang berpengaruh.
Tinggalkan Komentar
Komentar