periskop.id - Di distrik Changping, Beijing, Xiaomi meresmikan sebuah fasilitas manufaktur yang disebut sebagai “dark factory”. Pabrik ini berdiri di atas lahan seluas 81.000 meter persegi dan beroperasi 24 jam penuh tanpa kehadiran manusia.
Melansir BGR, tidak ada lampu, tidak ada pergantian sif, dan tidak ada waktu istirahat. Semua proses produksi dikendalikan oleh robot, sensor, dan sistem kecerdasan buatan (AI).
Xiaomi menggunakan Hyper Intelligent Manufacturing Platform (HyperIMP) sebagai otak pabrik. Sistem ini mampu memantau produksi secara real-time, memperbaiki kesalahan secara mandiri, dan menjaga standar kualitas.
Dengan 11 lini produksi otomatis, kecepatan produksi pabrik ini luar biasa mencengangkan, mereka dapat menghasilkan satu smartphone setiap detik, atau sekitar 10 juta unit per tahun.
Konsep “dark factory” muncul karena robot tidak membutuhkan cahaya untuk bekerja. Dengan menghilangkan kebutuhan pencahayaan, pemanas, dan tenaga manusia, Xiaomi berhasil menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan konsistensi produksi.
Namun, di balik inovasi ini, muncul pertanyaan besar tentang masa depan tenaga kerja manufaktur.
Menurut data International Federation of Robotics (IFR), China memasang lebih dari 290.000 robot industri pada 2025, menjadikannya negara dengan adopsi robot terbesar di dunia. Tren ini memperlihatkan bahwa jutaan pekerjaan manufaktur tradisional berisiko hilang, digantikan oleh mesin yang lebih efisien.
Dampaknya tidak hanya pada pekerja pabrik, tetapi juga pada struktur sosial-ekonomi. Daerah yang bergantung pada manufaktur padat karya bisa mengalami penurunan lapangan kerja, memperlebar kesenjangan antara tenaga kerja terampil dan tidak terampil.
Sementara itu, kebutuhan akan spesialis baru seperti teknisi robotik, insinyur AI, dan analis data semakin meningkat.
Di sisi lain, para pakar masih mencoba menghibur banyak pihak dengan menilai masa depan manufaktur akan bermodel hibrida: robot menangani pekerjaan berulang dan berisiko tinggi, sementara manusia berfokus pada supervisi, pemeliharaan, dan inovasi.
Kehadiran dark factory Xiaomi sedikit banyak menjadi gambaran paling masuk akal yang mungkin terjadi di masa depan pada banyak industri manufaktur, karena efisensi menjadi salah satu hal paling diagungkan di industri ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar