Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo melaporkan jumlah pengguna transportasi publik naik 9,7% secara year-on-year pada triwulan II 2026. Pengguna Transjakarta, MRT, dan LRT tercatat mencapai 230,8 juta penumpang selama periode tersebut.

Pramono menyebutkan, tingkat konektivitas warga yang memakai transportasi umum kini sudah menembus angka 93%. Menurutnya, kenaikan ini tergolong signifikan dibandingkan kondisi awal masa jabatannya.

"Jadi kenaikan yang cukup tinggi dengan konektivitas yang hampir lebih 93% yang menggunakan transportasi umum sekarang ini kalau kenaikannya 9,7% sudah mendekati angka 27, 28 atau hampir 30%," ujar Pramono dalam konferensi pers laporan APBD Triwulan II di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/7).

Ia mengungkapkan, saat baru menjabat bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, konektivitas transportasi publik di ibu kota masih berada di kisaran 21-22%. Pramono juga melaporkan kinerja riil ekonomi Jakarta tumbuh 8,9% yoy per Juni 2026.

Sektor pariwisata turut mencatat pertumbuhan. Wisatawan nusantara naik 6,97% dengan 8,82 juta kunjungan per Mei 2026 secara yoy, sementara wisatawan mancanegara tumbuh 8,17% atau 1,04 juta kunjungan pada periode yang sama.

Pramono menilai capaian tersebut tidak lepas dari posisi Jakarta sebagai kota bisnis sekaligus pusat pemerintahan.

"Maka untuk menjaga momentum tersebut, Pemerintah DKI Jakarta terus meningkatkan layanan transportasi publik dan infrastruktur pendukung yang semakin baik dan terintegrasi melalui MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, dan sebagainya," katanya.

Untuk mendongkrak mobilitas warga, Pemprov DKI Jakarta menargetkan jumlah penumpang harian LRT Jakarta mencapai sekitar 80.000 orang setelah rute Pegangsaan atau Kelapa Gading hingga Manggarai resmi beroperasi. Pada tahap awal, jumlah penumpang diperkirakan berkisar 50.000 hingga 60.000 per hari sebelum bertahap naik menuju target tersebut.

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI-Kota juga terus berjalan dan ditargetkan mulai tersambung pada tahun ini, menurut Pramono.

Di luar sektor transportasi, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong aktivitas ekonomi lewat insentif fiskal bagi penyelenggara berbagai kegiatan dan acara. Pramono menyebutkan, insentif fiskal selama rangkaian Jakarta Festival berhasil mendorong transaksi ekonomi hingga Rp67,5 triliun.

Ke depan, Pemprov DKI memastikan kegiatan serupa akan terus digelar demi menjaga pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat.

"Kami meyakini bahwa ketika mobilitas ini menjadi lebih baik, mudah-mudahan ini menjadi trigger ekonomi di Jakarta juga menjadi semakin baik karena transportasi adalah salah satu penanda bagaimana perekonomian Jakarta tumbuh dengan baik," kata Pramono.