periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali jadi bintang utama di pasar modal. Pada penutupan perdagangan Rabu, indeks ini melejit 0,94% hingga menembus level 8.602,13. Angka tersebut bukan angka sembarangan, ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan saham di Indonesia.
Bagi investor, lonjakan ini seperti kabar manis di tengah kesibukan pasar. Nilai portofolio ikut naik, rasa percaya diri pun semakin tinggi. Sementara bagi perusahaan yang tercatat di bursa, kondisi ini bisa menjadi momen emas untuk melakukan ekspansi bisnis, menerbitkan saham baru, atau menggalang dana demi memperkuat strategi ke depan.
Lebih dalam lagi, kenaikan IHSG sebetulnya menunjukkan satu hal penting bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia sedang berada dalam jalur positif. Pasar modal yang menguat kerap menjadi cerminan bahwa pelaku usaha optimistis, kondisi keuangan perusahaan terjaga, dan prospek ekonomi nasional terlihat menjanjikan.
Indonesia Menuju Liga Raksasa Ekonomi Dunia
Momentum positif di pasar modal ini tentu bukan terjadi begitu saja. Kebangkitan IHSG menjadi bagian dari cerita besar tentang bagaimana ekonomi Indonesia terus menunjukkan taringnya di kancah global. Bahkan, berbagai proyeksi internasional menyebut Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang punya masa depan cerah.
Lalu, bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara lain? Menariknya, Indonesia masuk dalam daftar negara yang diprediksi bakal menjadi raksasa ekonomi dunia pada tahun 2075 menurut proyeksi Goldman Sachs Global Investment Research (2022), bersanding dengan pemain besar seperti China, India, dan Amerika Serikat. Berikut daftar lengkapnya.
1. China (US$57 triliun)
China diprediksi tetap menjadi raja ekonomi global pada 2075 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar US$57 triliun. Kekuatan utama China terletak pada inovasi teknologi yang terus berkembang, transformasi ekonomi menuju konsumsi domestik, dan investasi besar dalam proyek infrastruktur.
Meski menghadapi risiko seperti populasi yang menua dan tantangan lingkungan, China diperkirakan masih mampu mempertahankan posisi puncak selama inovasi dan adaptasi tetap berjalan.
2. India (US$52,5 triliun)
India berada di posisi kedua dengan perkiraan PDB mencapai US$52,5 triliun. Keunggulan India terletak pada demografi, populasi muda dan besar memberi potensi tenaga kerja produktif yang sangat tinggi.
Ditambah lagi, percepatan digitalisasi, kemajuan sektor jasa dan manufaktur, serta investasi asing, semuanya mendongkrak prospek pertumbuhan. Tantangannya adalah pembangunan infrastruktur, pemerataan ekonomi, serta perbaikan layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan.
3. Amerika Serikat (US$51,5 triliun)
Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap berada di jajaran atas ekonomi dunia dengan PDB sekitar US$51,5 triliun. Keunggulan AS datang dari kapasitas inovasi, basis teknologi maju, pasar konsumen besar, serta sistem ekonomi dan finansial yang mapan.
Namun, pertumbuhan relatif melambat dibanding negara-negara berkembang, hal ini disebabkan demografi yang menua, tantangan sosial-politik, dan perlunya adaptasi terhadap perubahan lanskap global.
4. Indonesia (US$13,7 triliun)
Indonesia menempati posisi keempat dengan proyeksi GDP mencapai US$13,7 triliun. Beberapa faktor pendukungnya adalah lokasi strategis di jalur perdagangan global, populasi besar dengan kelas menengah yang tumbuh, dan fokus pada pembangunan infrastruktur serta sektor manufaktur.
Jika dikelola dengan baik, termasuk stabilitas politik, perbaikan sistem pendidikan dan kesehatan, serta pengelolaan lingkungan, Indonesia berpeluang besar naik kelas menjadi kekuatan ekonomi global.
5. Nigeria (US$13,1 triliun)
Nigeria, mewakili benua Afrika diprediksi bisa berada di peringkat lima besar dunia pada 2075 dengan PDB sekitar US$13,1 triliun. Kekuatan utamanya berasal dari populasi yang besar dan muda, potensi di sektor energi dan agrikultur, serta munculnya sektor teknologi dan jasa baru.
Namun, Nigeria menghadapi sejumlah tantangan besar, perlu stabilitas politik, perbaikan infrastruktur, serta diversifikasi ekonomi agar tak terlalu bergantung pada minyak.
Sinyal optimismenya sudah jelas, pasar modal menguat, ekonomi diproyeksikan terus melaju, dan posisi Indonesia di peta dunia semakin strategis. Tantangannya besar, tetapi peluangnya jauh lebih besar. Kini tinggal bagaimana Indonesia menjaga kecepatan, mempertahankan stabilitas, dan memastikan seluruh masyarakat ikut merasakan manfaatnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar