periskop.id - Tren berpikir positif menjadi semakin populer dalam berbagai aspek kehidupan. Sayangnya, tidak semua penerapannya berdampak baik. Ketika kebahagiaan dijadikan satu-satunya emosi yang diterima, hadirlah toxic positivity yang mengganggu keseimbangan emosional.

Perbedaan Optimisme dengan Toxic Positivity 

Optimisme adalah sikap yang menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki harapan meskipun sedang menghadapi tantangan. Ia mengakui bahwa perasaan sedih, khawatir, marah, dan kecewa adalah bagian dari kehidupan yang perlu diterima. Dengan optimisme, kita berusaha bangkit secara perlahan tanpa mengabaikan kenyataan yang sedang terjadi. Misalnya, seseorang yang gagal dalam ujian penting akan merasa sedih, tetapi tetap berusaha mencari strategi belajar yang lebih baik untuk kesempatan berikutnya.

Berbeda dengan itu, toxic positivity menempatkan kebahagiaan sebagai satu-satunya emosi yang boleh diperlihatkan. Banyak contoh toxic positivity yang terjadi dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, seseorang bercerita tentang kesulitan ekonomi, tetapi malah dibalas dengan anggapan bahwa orang lain lebih susah sehingga ia tidak boleh mengeluh. 

Jadi, perbedaan utamanya adalah bagaimana emosi dihadapi. Optimisme sehat memberikan ruang dan penerimaan terhadap perasaan. Toxic positivity menolak realitas emosional yang sebenarnya sedang terjadi. Padahal, menurut penelitian “The Psychological Health Benefits of Accepting Negative Mental Experiences”, menerima emosi negatif seperti stres dan kesedihan tanpa menghakimi justru berhubungan dengan kesehatan psikologis jangka panjang. Mengakui emosi menjadi langkah penting menuju pemulihan dan perkembangan diri.

Dampak toxic positivity terhadap kesehatan mental bisa sangat serius. Jurnal “Analysis of Toxic Positivity Behavior and Its Impact on Individual Mental Health in the Workplace" menyatakan ketika seseorang terus-menerus menekan atau menolak emosi negatif, seperti sedih, kecewa, atau marah tanpa memberi ruang untuk memprosesnya, maka hal itu dapat memicu stres berkepanjangan, kecemasan, gangguan tidur, hingga gejala depresi.

Ciri-Ciri Toxic Positivity yang Perlu Diwaspadai

Sikap positif sebenarnya baik untuk menjaga kesehatan mental. Namun, ketika dorongan untuk selalu terlihat bahagia dan kuat justru menekan emosi asli yang sedang dirasakan, di situlah toxic positivity muncul. Ada beberapa tanda umum yang bisa membantu Anda mengenalinya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Mengabaikan Perasaan Negatif 

Orang yang terjebak dalam toxic positivity sering menolak mengakui rasa sedih, kecewa, atau marah. Mereka berpura-pura baik-baik saja meskipun di dalam hati sedang terluka. Kalimat seperti “Aku harus tetap kuat” atau “Gak boleh sedih” sering muncul, bukan untuk memotivasi, tetapi menekan emosi yang semestinya diakui.

2. Menyepelekan Masalah Orang Lain 

Misalnya, ketika seseorang bercerita tentang masa sulitnya, respons yang diberikan justru diminta untuk bersyukur atau “Jangan dipikirin, hidup kan harus bahagia”. Kalimat seperti ini terdengar positif, tetapi dapat membuat orang yang sedang kesulitan merasa tidak valid untuk merasakan emosi mereka.

3. Menghindari Pembicaraan yang Dianggap Negatif 

Orang akan memilih mengalihkan topik begitu suasana mulai serius karena merasa takut suasana jadi tidak menyenangkan. Padahal, pembicaraan semacam itu dibutuhkan untuk saling memahami dan memberi dukungan.

Apabila beberapa ciri di atas mulai Anda temui dalam dirimu atau lingkunganmu, bisa jadi toxic positivity sedang berlangsung. Mengenali gejala sejak awal adalah langkah penting agar kita bisa lebih jujur dengan perasaan sendiri dan lebih empati terhadap perasaan orang lain karena sesekali merasa tidak baik-baik saja itu sangat manusiawi.

Cara Menghindari Toxic Positivity agar Emosi Lebih Sehat

Setiap orang pasti ingin terlihat kuat dan ceria. Namun, kita tetap perlu mengakui bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus. Untuk itu, penting memahami cara menghindari toxic positivity agar emosi tetap sehat dan hubungan sosial lebih hangat.

1. Menerima Emosi Apa Adanya 

Tidak apa-apa merasa sedih, cemas, marah, atau kecewa. Emosi tersebut adalah bagian dari manusia. Menurut penelitian berjudul “Acceptance beliefs about negative emotions and psychological well-being over time”, menerima bahwa emosi negatif termasuk bagian alami kehidupan, bukan sesuatu yang harus dihapus.

2. Berhenti Memberi Tekanan pada Diri Sendiri untuk Selalu Terlihat Bahagia 

Ingatlah bahwa standar hidup setiap orang berbeda. Tidak perlu membandingkan hidupmu dengan orang lain. Jika membutuhkan waktu untuk istirahat dari tuntutan sosial, berikan saja pada dirimu.

3. Belajar Memberikan Respons yang Lebih Empati kepada Orang Lain 

Saat seseorang bercerita tentang masalahnya, dengarkan dulu tanpa langsung menggurui. Respon seperti, “Aku ngerti kok perasaanmu” atau “Kalau butuh cerita, aku siap dengar” jauh lebih membantu dibanding memaksa mereka segera merasa baik.

4. Penting untuk Mengenali Batas Diri 

Jika Anda tidak mampu menyelesaikan semua hal sendiri, keluarkan suara dan minta bantuan. Konsultasi dengan profesional kesehatan mental seperti psikolog juga merupakan pilihan yang baik ketika tekanan terasa semakin berat.

5. Gunakan Media Sosial dengan Bijak 

Jangan terlalu terpaku pada unggahan orang lain yang terlihat sempurna. Sering kali, apa yang ditampilkan hanyalah bagian terbaik hidup mereka, bukan kenyataan sepenuhnya.

Menghindari toxic positivity bukan berarti hidup dalam kesuraman, tetapi memberi ruang bagi setiap emosi. Dengan memahami dan menerima emosi secara sehat, Anda bisa tumbuh sebagai pribadi yang lebih kuat dan lebih peka terhadap orang lain.