periskop.id - Akhir-akhir ini, istilah super flu ramai diperbincangkan publik seiring meningkatnya kasus influenza di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Fenomena ini dikaitkan dengan virus influenza A (H3N2) Subclade K. Lonjakan kasus tersebut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat karena bisa mengancam kesehatan sehingga membuat masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai penyakit.
Menanggapi hal tersebut, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar, dr. Nurmila, M.Kes, Sp.PD mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan meningkatkan upaya pencegahan. Ia menjelaskan, berdasarkan laporan lembaga kesehatan, belum ada bukti kuat yang menyatakan virus ini bersifat mematikan. Virus tersebut lebih berpotensi meningkatkan jumlah kasus dengan penyebaran yang lebih cepat. Menurutnya, istilah super flu tidak dikenal dalam dunia medis, tapi label yang digunakan media. Secara ilmiah, virus ini dikenal sebagai influenza A (H3N2) Subclade K.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan super flu? Mengapa fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat?
Apa Itu Super Flu?
Super flu adalah istilah populer yang merujuk pada influenza dengan gejala yang lebih berat dan pencegahan yang lebih lama. Secara ilmiah, istilah ini lebih merujuk pada varian influenza A (H3N2) subclade K yang sebenarnya sudah lama beredar selama puluhan tahun.
Melansir dari situs gavi.org, varian baru ini sudah diidentifikasi oleh para ilmuwan sejak bulan Juni. Kemudian, diamati penyebarannya yang terjadi dengan sangat cepat selama musim flu di belahan bumi selatan dan sejumlah negara di belahan bumi utara. Menurut Prof. Nicola Lewis, Direktur World Influenza Centre di Francis Crick Institute, London, Inggris belum terlihat ada tanda-tanda yang menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dari cara virus ini berkembang.
Bagaimana Fenomena Ini Bisa Terjadi?
Melansir dari situs WHO, berdasarkan data sekuens genetik yang ada di Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), adanya campuran berbagai klade dan subklade haemagglutinin (HA) virus A (H3N2) di seluruh dunia. Hal ini terjadinya adanya peningkatan yang cepat pada subklade tertentu, yaitu A (H3N2) J.2.4.1 atau subklade K.
Virus ini mengalami pergeseran genetik dibandingkan virus J.2.4 dan terjadi perubahan asam amino pada protein HA. Virus ini pun terus menyebar di berbagai wilayah dunia.
Gejala yang Muncul dari Fenomena Ini
Melansir situs Newsweek, dr. Imamu Tomlinson, seorang dokter sekaligus CEO Vituity, menyebutkan bahwa kasus super flu banyak ditemukan di wilayah dengan tingkat vaksinasi yang rendah sehingga masyarakatnya lebih rentan terjerat penyakit ini.
Pasien yang mengalami kondisi tersebut dilaporkan merasakan gejala yang cukup berat, mulai dari demam tinggi, nyeri tubuh yang sangat kuat, kelelahan ekstrem, batuk berkepanjangan, sakit tenggorokan, hingga sakit kepala berat. Selain itu, penderita juga bisa mengalami sesak napas, nyeri dada, gangguan pencernaan, dan rasa lemas yang berlangsung lama.
Bahkan, kondisi ini bisa bertahan hingga berminggu-minggu. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan menerapkan langkah pencegahan, seperti mengenakan masker saat berada di ruang tertutup yang ramai dan mengonsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Tinggalkan Komentar
Komentar