Periskop.id - Dunia saat ini sedang dihebohkan oleh fenomena kesehatan yang dikenal dengan label Super Flu. Istilah ini mendadak ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial dan pemberitaan internasional seiring dengan puncaknya kasus infeksi di penghujung tahun 2025.
Penting untuk dipahami bahwa Super Flu bukanlah sebuah istilah medis resmi yang baku dalam buku teks kedokteran. Label ini merupakan sebutan yang dipopulerkan oleh media untuk menggambarkan varian virus influenza yang muncul dengan karakter jauh lebih agresif, memiliki daya tular yang sangat cepat, serta menimbulkan dampak klinis yang lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Melansir informasi dari Antara pada Senin (29/12), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara resmi telah mengeluarkan peringatan agar masyarakat mewaspadai peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut yang signifikan.
Salah satu pemicu utama dari kekhawatiran ini adalah kemunculan varian H3N2 yang kini viral dengan sebutan tersebut.
Apa Itu Super Flu dan Mengapa Begitu Cepat Menular?
Super Flu pada dasarnya adalah varian dari influenza A subtipe H3N2, khususnya dari garis keturunan atau subklade K.
Berdasarkan penjelasan klinis, virus ini mendapatkan julukan super karena kemampuan transmisinya yang luar biasa. Satu orang yang terinfeksi dilaporkan memiliki potensi untuk menulari dua hingga tiga orang lain di sekitarnya.
Kecepatan penularan ini menjadi jauh lebih masif terutama di wilayah atau negara yang sedang mengalami musim dingin atau memiliki suhu lingkungan yang rendah.
Mekanisme penularannya terjadi melalui droplet atau percikan ludah yang keluar saat penderita batuk maupun bersin. Selain itu, kontak langsung dengan cairan pernapasan orang yang terinfeksi juga menjadi jalur utama penyebaran virus ini.
Karakteristik H3N2 sendiri memang sudah dikenal dalam dunia medis sebagai varian influenza yang cenderung lebih parah dan membutuhkan waktu pemulihan yang jauh lebih lama bagi penderitanya.
Sebaran Wabah di Berbagai Negara
Berdasarkan laporan dari Fox 8 dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Super Flu awalnya menjadi perhatian serius di Inggris sebelum akhirnya terdeteksi menyebar luas ke Amerika Serikat.
Dampak yang dirasakan di Inggris tergolong cukup berat dan kemudian diikuti oleh lonjakan kasus di daratan Eropa hingga Australia.
Di Amerika Serikat, virus ini telah mencapai tingkat infeksi yang sangat tinggi di beberapa wilayah seperti New York, New Jersey, Rhode Island, Louisiana, dan Colorado. Sebagai gambaran betapa cepatnya penyebaran ini, di wilayah Manhattan saja, kasus flu tercatat mengalami peningkatan drastis hingga 104% pada awal bulan Desember 2025.
Negara lain juga melaporkan kondisi yang serupa. Di Jepang, data dari Nippon TV menyebutkan bahwa kasus flu di Tokyo meningkat hampir enam kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kondisi darurat ini memaksa lebih dari 2.300 sekolah dan pusat penitipan anak untuk menghentikan sebagian kegiatannya guna memutus rantai penularan.
Sementara itu di Inggris, James Mackey selaku Kepala Layanan Kesehatan Nasional (NHS) mencatat bahwa angka kasus flu tahun ini mencapai tiga kali lipat lebih tinggi dari data tahun lalu.
Gejala Klinis yang Perlu Diwaspadai
Subklade K dari virus H3N2 ini memicu serangkaian gejala yang mungkin tampak seperti flu biasa namun dengan intensitas yang jauh lebih kuat. Masyarakat diminta untuk mengenali tanda tanda infeksi berikut ini:
- Demam tinggi yang muncul secara mendadak.
- Nyeri tubuh yang parah dan terasa hingga ke tulang.
- Kelelahan ekstrem yang membuat penderita sulit beraktivitas.
- Batuk yang terus menerus dan menetap.
- Sakit tenggorokan dan sakit kepala yang hebat.
Selain gejala umum tersebut, beberapa pasien juga melaporkan adanya gangguan sesak napas, nyeri di area dada, gangguan pada sistem pencernaan, serta rasa lemas yang berlangsung dalam durasi yang cukup lama meskipun demam sudah mereda.
Dalam skenario terburuk, infeksi ini dapat berkembang menjadi pneumonia atau sindrom gangguan pernapasan akut.
Belajar dari Sejarah: Pandemi H3N2 Tahun 1968
Kehadiran Super Flu di tahun 2025 ini membangkitkan ingatan pada catatan sejarah kelam pandemi dunia. Merujuk pada studi berjudul Pandemics and Economic Growth: Evidence from the 1968 H3N2 Influenza, virus subtipe ini merupakan aktor utama di balik pandemi global pada tahun 1968.
Saat itu, H3N2 menjadi pandemi pertama yang menyebar dengan sangat cepat berkat bantuan perjalanan udara internasional yang mulai berkembang pesat.
Estimasi medis menunjukkan bahwa pada tahun 1968, pandemi tersebut memengaruhi sekitar 30 hingga 57% populasi dunia. Meskipun tingkat kematiannya berkisar antara 0,02 hingga 0,03% yang berarti lebih rendah dibandingkan pandemi flu Spanyol tahun 1918, dampak ekonominya tetap sangat terasa.
Pandemi tersebut tercatat menurunkan laju pertumbuhan output global sebesar 2,4% serta menurunkan produktivitas kerja sebesar 1,9% akibat banyaknya populasi yang jatuh sakit.
Kelompok Paling Berisiko
Publikasi ilmiah dalam jurnal berjudul H3N2 Virus Outbreak: A Latest Global Threat menegaskan bahwa meskipun semua kelompok usia dapat terinfeksi, terdapat kelompok tertentu yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat hingga kematian. Kelompok rentan tersebut meliputi:
- Ibu hamil dan anak anak di bawah usia lima tahun (di bawah 59 bulan).
- Lansia atau orang lanjut usia.
- Individu dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti gangguan jantung, ginjal, hati, atau penyakit metabolik seperti diabetes.
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk pasien yang menjalani kemoterapi atau penderita HIV AIDS.
Selain itu, tenaga kesehatan menempati posisi risiko tinggi karena frekuensi interaksi yang sangat sering dengan pasien. Tenaga medis tidak hanya berisiko tertular, tetapi juga memiliki potensi menjadi perantara penularan bagi pasien lain yang sedang dalam kondisi rentan.
Mengingat bahayanya komplikasi seperti pneumonia bakteri dan infeksi sinus yang dapat memperburuk kondisi medis sebelumnya, para ahli kesehatan menekankan pentingnya menjaga protokol kesehatan, melakukan vaksinasi influenza secara rutin, serta segera melakukan isolasi mandiri jika merasakan gejala-gejala yang merujuk pada infeksi Super Flu.
Tinggalkan Komentar
Komentar