periskop.id - Sering dicap jauh dari agama karena sibuk dengan gadget, Gen Z justru membuktikan sebaliknya. Fakta mengejutkan ini terungkap dalam Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang dirilis oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Alvara Strategic Research.
Riset dalam temuan ini melibatkan 1.208 responden Muslim di 34 provinsi melalui wawancara tatap muka. Menggunakan teknik multistage random sampling dengan margin of error sebesar 2,89%, survei ini menegaskan bahwa Gen Z tidak hanya melek digital, tetapi juga memimpin dalam literasi Al-Qur'an dan toleransi. Berikut ulasannya.
Gen Z Ternyata Generasi Paling Fasih Mengaji
Selama ini, Gen Z kerap dicap menjauh dari nilai-nilai agama karena terlalu larut dalam dunia digital. Namun, data justru berbicara sebaliknya. Pada indikator literasi Al-Qur’an yang tidak sekadar menilai kemampuan mengenali huruf hijaiyah, tetapi juga membaca secara tartil, yaitu fasih, benar sesuai tajwid, dan lancar, Gen Z tampil sebagai juara.
Dengan skor 56,29, Gen Z menempati peringkat tertinggi, mengungguli generasi Milenial yang mencatat skor 54,06. Ironisnya, generasi Baby Boomers justru berada di posisi terbawah dengan skor 50,95. Angka ini menegaskan satu hal penting bahwa di tengah derasnya arus hiburan digital, Gen Z tetap menunjukkan inisiatif kuat untuk mendalami kitab suci.
Kunci dari fenomena ini terletak pada demokratisasi akses belajar. Jika generasi sebelumnya bergantung pada kehadiran guru ngaji di lingkungan sekitar, Gen Z memiliki ruang belajar yang jauh lebih luas. Aplikasi tahsin, kanal YouTube, hingga kelas daring memungkinkan mereka belajar kapan saja dan dari siapa saja. Literasi digital yang mereka kuasai ternyata tidak menjauhkan dari agama, justru menjadi jembatan menuju literasi Al-Qur’an yang lebih baik.
Juara Toleransi: Gen Z Ungguli Milenial dan Baby Boomers
Selama ini, semangat beragama yang kuat pada anak muda kerap dikhawatirkan melahirkan sikap fanatik dan tertutup. Namun, Gen Z justru mematahkan kekhawatiran tersebut. Kepiawaian mereka dalam mengaji tidak membuat cara bergaul menjadi kaku atau eksklusif.
Riset ini menunjukkan bahwa tingginya pemahaman agama Gen Z berjalan seiring dengan kuatnya sikap toleransi. Pada indikator toleransi beragama, khususnya penolakan terhadap pembubaran kegiatan ibadah agama lain, Gen Z mencatat skor tertinggi, yakni 80,03.
Sebagai perbandingan, skor toleransi generasi Milenial berada di angka 78,77, disusul Generasi X dengan 78,97, dan Baby Boomers sebesar 78,81. Meski selisihnya tidak terpaut jauh, Gen Z tetap berada di posisi teratas.
Angka-angka ini menegaskan satu hal penting bahwa Gen Z berada di barisan depan dalam menjaga kebebasan beribadah. Bagi mereka, setiap orang berhak menjalankan ibadah tanpa gangguan, apa pun agamanya. Agama dipahami sebagai sumber kedamaian, bukan alat pemecah belah. Jika ada generasi yang paling terbuka terhadap keberagaman di Indonesia hari ini, Gen Z layak disebut sebagai jawabannya.
Duel Tipis Gen X dan Gen Z dalam Kerukunan
Memasuki aspek kerukunan umat beragama, data survei menghadirkan kejutan yang tak kalah menarik. Jika selama ini perhatian sering tertuju pada generasi muda, hasil riset justru menunjukkan persaingan ketat di papan atas antara generasi senior dan junior. Generasi X menempati posisi pertama dengan skor 79,67, tetapi langsung dibayangi Gen Z yang hanya terpaut tipis di angka 79,65.
Selisih yang nyaris tak terlihat, tetapi menyiratkan pesan penting. Kematangan emosional dan pengalaman hidup Gen X berpadu dengan cara pandang Gen Z yang terbuka dan inklusif. Dua kekuatan ini membentuk kombinasi ideal dalam menjaga harmoni sosial hari ini.
Sementara itu, generasi Milenial berada di posisi ketiga dengan skor 79,07, disusul Baby Boomers di urutan terakhir dengan 78,63. Posisi Milenial yang berada di bawah generasi sebelum dan sesudahnya cukup mengejutkan, kemungkinan dipengaruhi tekanan peran sebagai sandwich generation yang membagi fokus sosial mereka. Adapun, skor terendah pada Baby Boomers menguatkan kecenderungan sikap yang lebih konservatif dalam menyikapi perbedaan.
Efek Internet: Membentuk Generasi yang Kritis, Bukan Fanatis
Lalu, apa yang membuat fenomena ini bisa muncul? Kuncinya ada pada cara Gen Z menyerap dan mengolah informasi. Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, mereka sejak kecil terbiasa menghadapi arus informasi dari berbagai belahan dunia.
Paparan ini membentuk pola pikir yang lebih kritis dan terbuka. Gen Z tidak mudah menerima ajaran keagamaan secara kaku tanpa penjelasan. Mereka cenderung membandingkan, memverifikasi lewat mesin pencari, serta menyaksikan langsung keberagaman budaya dan keyakinan melalui media sosial. Dalam belajar agama, mereka mencari sosok guru yang rasional, menenangkan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pergaulan, mereka terbiasa berteman lintas agama, ras, dan latar belakang tanpa sekat.
Perpaduan antara akses teknologi yang luas dan nalar kritis inilah yang melahirkan corak religiusitas baru. Gen Z bisa sangat taat dalam praktik ibadah personal, tetapi tetap fleksibel, inklusif, dan menghargai perbedaan dalam kehidupan sosial. Inilah wajah religiusitas hibrida, saleh secara individual, sekaligus saleh secara sosial, sebuah modal budaya baru yang mungkin terasa asing bagi generasi yang tumbuh di lingkungan yang lebih seragam.
Tinggalkan Komentar
Komentar