periskop.id - Narasi tentang betapa beratnya beban kerja masa kini sepertinya sudah menjadi menu sarapan kita sehari-hari. Keinginan untuk berteriak di kantor atau kabur healing di akhir pekan adalah cerita yang terlalu akrab di telinga. Namun, sebuah ironi besar baru saja dilemparkan oleh Gallup melalui laporan State of the Global Workplace 2025. Ternyata, tingkat stres harian pekerja Indonesia tergolong sangat rendah, bahkan jauh di bawah rata-rata global. Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar, di mana sebenarnya posisi mental kita jika dibandingkan dengan negara maju dan berkembang lainnya di ASEAN?

Angka Stres Indonesia Paling Rendah di ASEAN

Dalam laporan tahunan ini, Gallup mengukur tingkat stres harian (daily stress) dengan bertanya kepada responden apakah mereka mengalami perasaan stres yang intens pada hari sebelumnya. Hasil untuk kawasan Asia Tenggara sungguh membuka mata. Ketika rata-rata tingkat stres global berada di kisaran 40%, Indonesia mencatatkan angka hanya 15%.

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat stres terendah kedua di ASEAN, hanya sedikit di bawah Vietnam yang memimpin dengan 13%. Perbandingan dengan negara tetangga membuat kontrasnya semakin jelas. Di Filipina, hampir sekitar 47% mengaku mengalami stres tinggi. Singapura yang kerap dipandang sebagai simbol kemajuan ekonomi juga mencatat angka mengkhawatirkan dengan 43%. Sementara itu, Myanmar berada di posisi teratas sebagai negara dengan pekerja paling stres (50%), kemungkinan besar dipengaruhi oleh situasi politik yang belum stabil.

Data ini menunjukkan kesenjangan yang sangat lebar. Di saat hampir separuh pekerja di Singapura dan Filipina pulang ke rumah dengan membawa beban pikiran yang berat, mayoritas pekerja Indonesia tampaknya lebih mampu meninggalkan beban tersebut di kantor. Apakah ini berarti beban kerja kita lebih ringan? Belum tentu. Bisa jadi, ini adalah indikasi ketahanan mental yang unik atau cara kita merespons tekanan yang berbeda secara kultural dibandingkan negara lain.

Saat Kebersamaan Menjadi Tameng Stres Pekerja Indonesia

Fakta mengejutkan ini menimbulkan tanda tanya mengenai resep ketahanan mental pekerja Indonesia di tengah badai ekonomi. Ternyata, jawabannya kembali pada akar tradisi kita, yaitu konsep kolektivisme atau hangatnya kebersamaan.

Temuan dalam Journal of Ethnic and Cultural Studies menunjukkan bahwa Indonesia memiliki orientasi kolektivisme yang kuat. Dalam budaya ini, kebersamaan, harmoni sosial, dan kepentingan kelompok sering kali lebih diutamakan dibanding pencapaian individual. Pola tersebut membentuk cara pekerja Indonesia berinteraksi, merespons tekanan, sekaligus mencari dukungan saat menghadapi stres kerja.

Tak heran jika relasi di kantor kerap melampaui batas profesional. Rekan kerja sering diperlakukan sebagai keluarga kedua. Kebiasaan sederhana seperti makan siang bersama, nongkrong sepulang kerja, atau bercanda di grup WhatsApp kantor berfungsi sebagai coping mechanism yang efektif. Dukungan sosial yang kuat membuat beban pekerjaan terasa lebih ringan karena dipikul bersama, bukan sendirian.

Rendahnya tingkat stres pekerja Indonesia memang terlihat positif. Namun, dalam kondisi tertentu, stres yang terlalu rendah justru bisa menjadi tanda keterputusan emosional dari pekerjaan.

Gallup menegaskan bahwa employee engagement merupakan faktor kunci dalam kesejahteraan dan kinerja. Karyawan yang benar-benar terlibat cenderung memiliki stres yang terkelola dan makna kerja yang jelas. Sebaliknya, mereka yang tidak terlibat sering kali tidak merasa tertekan karena tidak lagi memiliki keterikatan emosional terhadap hasil kerja. Kondisi inilah yang dikenal sebagai quiet quitting, bekerja sekadar memenuhi kewajiban minimum. Secara global, Gallup mencatat sekitar 59% pekerja berada dalam kategori tidak terlibat.