periskop.id - Langkah Prilly Latuconsina mengaktifkan status #OPENTOWORK di LinkedIn dan terjun langsung bekerja sebagai sales di Bekasi menarik perhatian publik. Respons pun terbelah, dari apresiasi hingga kritik.
Bagi sebagian orang, langkah ini dipandang sebagai keberanian mencoba pengalaman baru di luar dunia hiburan. Namun bagi yang lain, keputusan tersebut memunculkan pertanyaan tentang kepekaan sosial, terutama di tengah pasar kerja yang belum sepenuhnya pulih dan angka pengangguran yang masih tinggi.
Apakah ini kisah inspiratif tentang keberanian keluar dari zona nyaman, atau justru cermin ketimpangan akses di dunia kerja?
Dobrak Zona Nyaman, Prilly Jajal Jadi Sales di Bekasi
Apa yang dialami Prilly bisa dibilang langka, sekaligus jadi impian banyak pengguna LinkedIn. Baru beberapa hari mengaktifkan status #OPENTOWORK, akunnya langsung dibanjiri respons. Tercatat, lebih dari 32.744 permintaan koneksi masuk, disertai berbagai pesan dan tawaran peluang kerja dari berbagai pihak.
Prilly menegaskan, langkah ini bukan karena minim pekerjaan di dunia hiburan, melainkan bentuk keinginannya untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba pengalaman baru. Ia bahkan secara terbuka menyebut ketertarikannya pada peran di luar panggung, termasuk posisi di bidang penjualan dan pemasaran.
Tak berhenti sebagai wacana, pada 30 Januari, Prilly benar-benar turun langsung bekerja sebagai offline sales di sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting bahwa di era digital, personal branding punya daya tawar yang sangat kuat.
Prilly tak perlu mengirim puluhan lamaran atau menunggu panggilan HRD. Reputasi yang ia bangun selama bertahun-tahun sebagai figur publik yang profesional, berpendidikan tinggi, dan memiliki ketertarikan pada dunia bisnis menjadi modal utama yang membuka banyak pintu.
Kisah ini menegaskan bahwa di dunia kerja modern, nilai diri dan rekam jejak personal sering kali berbicara lebih lantang daripada selembar ijazah.
Inspirasi atau Gimmick? Pro-Kontra Status LinkedIn Prilly
Namun, respons publik terhadap langkah Prilly tidak sepenuhnya bernada pujian. Di tengah gelombang dukungan, muncul pula kritik dari sebagian warganet yang menilai aksinya kurang peka terhadap kondisi sosial saat ini. Pasar kerja tengah berada dalam situasi yang tidak mudah.
Banyak pencari kerja harus bersaing ketat untuk posisi magang maupun pekerjaan tetap, di saat perusahaan melakukan efisiensi dan jumlah lowongan semakin terbatas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2025 terdapat 7,46 juta orang atau 4,85% dari total angkatan kerja yang masih berstatus pengangguran.
Dalam konteks tersebut, keputusan seorang figur publik yang sudah mapan secara finansial untuk mencoba-coba dunia kerja demi pengalaman baru memunculkan kontras yang bagi sebagian orang terasa menyesakkan.
Kritik semakin menguat ketika muncul dugaan bahwa langkah ini hanyalah bagian dari strategi pemasaran. Sejumlah warganet menilai status #OPENTOWORK yang viral itu tak lebih dari gimmick promosi, mengingat praktik influencer marketing kerap menggunakan narasi “turun ke level rakyat biasa” untuk menarik perhatian publik.
Bagi mereka yang berdesakan di bursa kerja dan menunggu kabar dengan penuh kecemasan, aksi semacam ini dinilai berpotensi meromantisasi realitas pahit yang bagi banyak orang adalah soal bertahan hidup.
Perdebatan pun mengemuka, apakah langkah Prilly layak dibaca sebagai inspirasi untuk berani keluar dari zona nyaman, atau justru contoh strategi pemasaran yang kurang peka terhadap kegelisahan para pencari kerja?
Pelajaran di Balik Hak Istimewa dan Kelincahan Karier
Kegaduhan ini sebenarnya menjadi cermin besar bagi publik. Fenomena Prilly menyentak kesadaran kita bahwa hak istimewa atau privilege tetap menjadi jalan pintas yang tidak dimiliki semua orang. Ada perbedaan besar ketika seseorang menjadi karyawan sales untuk mencari tantangan baru dibandingkan dengan mereka yang melakukannya sebagai satu-satunya cara untuk bisa makan esok hari.
Rasa kesal publik mungkin bukan kepada sosok Prilly secara pribadi, melainkan pada sistem yang terasa tidak adil bagi pejuang kerja biasa.
Meski penuh kontroversi, ada sisi positif yang bisa kita ambil. Prilly sedang mempraktikkan kelincahan berkarier atau career agility, yaitu kemampuan untuk fleksibel berpindah peran di tengah dunia yang makin tidak pasti.
Daripada hanya menunggu peluang di dunia film, ia menciptakan ruangnya sendiri di industri lain. Pelajaran pahitnya adalah kita dipaksa sadar bahwa untuk bertahan di masa depan, membangun nilai jual diri adalah harga mati agar kita tidak sekadar menjadi angka dalam statistik pengangguran.
Tinggalkan Komentar
Komentar