periskop.id - Istilah salah jurusan sering kali terdengar dalam percakapan sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun media sosial. Keluhan ini ternyata bukan sekadar curahan hati sesaat, melainkan sebuah tren nyata yang dialami oleh banyak lulusan universitas. Rasa tidak puas terhadap pilihan studi di masa lalu kini terkonfirmasi oleh data statistik yang cukup memprihatinkan.

Fakta Mengejutkan: 44% Sarjana Ternyata Merasa Salah Jurusan

Menurut data, hampir separuh lulusan sarjana ternyata tidak sepenuhnya puas dengan gelar yang mereka miliki. Temuan ini berasal dari survei ZipRecruiter terhadap lebih dari 1.500 lulusan perguruan tinggi yang sedang aktif mencari pekerjaan. Hasilnya cukup mencolok, 44% responden mengaku menyesali jurusan yang mereka pilih saat kuliah.

Penyesalan ini bukan semata karena beban akademik atau pengalaman kuliah yang berat, melainkan karena faktor yang lebih realistis. Banyak lulusan merasa kecewa ketika berhadapan langsung dengan dunia kerja, mulai dari gaji awal yang rendah, peluang karier yang terbatas, hingga ketidakpastian masa depan profesi. Setelah lulus, idealisme sering kali berbenturan dengan kebutuhan hidup. Tak sedikit yang akhirnya menyadari bahwa jurusan yang mereka ambil kurang diminati pasar atau tidak sebanding dengan biaya dan waktu yang telah diinvestasikan selama kuliah.

Jika hampir separuh lulusan merasakan hal yang sama, muncul pertanyaan penting, jurusan apa saja yang paling banyak menyumbang angka penyesalan ini?

Daftar 10 Jurusan yang Paling Disesali

Dari berbagai program studi yang ada, jurusan di rumpun humaniora dan ilmu sosial ternyata paling banyak menyumbang rasa penyesalan. Temuan ini mencatat 10 jurusan kuliah yang paling sering disesali, berikut daftarnya:

  1. Jurnalisme: 87%
  2. Sosiologi: 72%
  3. Liberal Arts / Studi Umum: 72%
  4. Komunikasi: 64%
  5. Pendidikan: 61%
  6. Manajemen Pemasaran dan Riset: 60%
  7. Asisten Medis/Klinis: 58%
  8. Ilmu Politik/Pemerintahan: 56%
  9. Biologi: 52%
  10. Bahasa dan Sastra Inggris: 52%

Angka 87% pada jurusan jurnalisme menjadi sorotan utama. Disrupsi industri media, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta persaingan ketat di ranah digital membuat stabilitas karier di bidang ini semakin sulit diraih. 

Kondisi serupa juga dialami lulusan sosiologi dan liberal arts yang berada di angka 72%. Banyak dari mereka merasa jurusannya terlalu umum dan belum dibekali keterampilan teknis (hard skill) yang bisa langsung dipakai di dunia kerja tanpa pelatihan tambahan.

Meski begitu, data ini bukan vonis akhir bagi siapa pun yang sudah terlanjur mengambil jurusan-jurusan tersebut. Justru di sinilah pentingnya melihat konteks yang lebih luas. Jadi, apakah benar salah jurusan berarti masa depan karier tertutup? Belum tentu. Mari kita lihat sisi lainnya.

Mengubah Penyesalan Menjadi Peluang Karier

Data jurusan yang paling disesali memang bisa memicu kecemasan, tetapi perlu diingat, menyesal tidak sama dengan gagal. Tingginya rasa penyesalan biasanya muncul karena lulusan merasa keterampilan yang diperoleh kurang spesifik.

Kabar baiknya, jurusan seperti komunikasi, bahasa Inggris, jurnalisme, dan ilmu politik memiliki keunggulan pada transferable skills, mulai dari berpikir kritis, menulis, riset, hingga komunikasi publik yang dibutuhkan di banyak industri. Banyak lulusan jurnalisme kini sukses di content marketing atau public relations, sementara lulusan sosiologi banyak berkarier di human resources berkat pemahaman perilaku manusia. Kuncinya adalah adaptasi. Dengan menambah keterampilan relevan di era digital, seperti digital marketing atau analisis data, peluang karier tetap terbuka lebar.