Periskop.id - Selama bertahun-tahun, kelas menengah hidup dalam sebuah narasi keuangan yang menyesatkan. Pembelian gaya hidup kerap diposisikan seolah setara dengan investasi pembentuk kekayaan.
Rumah, mobil, gelar pendidikan, hingga produk keuangan tertentu dimasukkan ke dalam neraca keuangan pribadi sebagai aset, padahal kenyataannya justru menguras arus kas setiap bulan.
Melansir New Trader U, secara definisi sederhana, aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantong Anda, sementara liabilitas adalah sesuatu yang mengeluarkan uang.
Namun dalam praktiknya, jutaan rumah tangga dengan bangga mencatat berbagai kepemilikan sebagai aset meski benda-benda tersebut terus menimbulkan biaya rutin tanpa menghasilkan pendapatan.
Kesalahpahaman ini bukan kebetulan. Industri pemasaran, lembaga keuangan, hingga berbagai sektor konsumsi diuntungkan dari narasi bahwa konsumsi adalah tanda kemajuan dan bagian dari membangun kekayaan.
Akibatnya, kelas menengah terjebak dalam siklus membeli barang yang terasa seperti pencapaian, tetapi sejatinya menjadi jangkar finansial yang menahan pertumbuhan kekayaan bersih.
Berikut lima hal yang paling sering disalahartikan sebagai aset, padahal justru bekerja melawan kesehatan finansial jangka panjang.
Rumah
Bagi banyak keluarga, rumah terasa sebagai aset terbesar. Nilainya dipantau di situs properti, cicilan KPR dianggap sebagai tabungan paksa, dan kenaikan harga rumah sering dirayakan sebagai keuntungan. Namun kenyataannya jauh lebih kompleks.
Rumah terus mengeluarkan uang melalui pajak properti, asuransi, perawatan rutin, perbaikan besar, serta bunga KPR. Rata-rata pemilik rumah menghabiskan sekitar 1% hingga 4% dari nilai rumah setiap tahun hanya untuk perawatan. Ketika digabung dengan pajak dan bunga, arus kas keluar menjadi signifikan tanpa adanya arus kas masuk.
Secara historis, kenaikan harga rumah dalam jangka panjang hanya sedikit di atas inflasi. Setelah memperhitungkan biaya transaksi, perawatan, serta biaya peluang dari modal yang terkunci di properti, banyak pemilik rumah sebenarnya akan berada di posisi finansial lebih baik jika menginvestasikan dananya ke instrumen produktif lain.
Keuntungan riil baru terasa jika pemilik rumah pindah ke hunian yang lebih kecil atau wilayah berbiaya lebih rendah, sesuatu yang jarang dilakukan.
Orang kaya memahami perbedaan ini. Mereka melihat rumah utama sebagai biaya gaya hidup yang memberi kenyamanan, bukan sebagai kendaraan utama pembentuk kekayaan. Aset produktif mereka berada di tempat lain.
Mobil Baru
Begitu keluar dari dealer, mobil baru kehilangan sekitar 20% nilainya. Ini adalah mekanisme depresiasi, bukan opini. Namun mobil tetap dianggap aset karena nilainya masih bisa dijual kembali dan harganya mahal.
Masalah utama ada pada biaya berkelanjutan. Asuransi, bahan bakar, pajak, servis, dan perbaikan menciptakan arus kas keluar yang terus berjalan.
Mobil mewah memperparah kondisi ini dengan biaya suku cadang premium dan premi asuransi lebih tinggi. Tidak ada arus kas masuk, hanya pengeluaran.
Cicilan mobil kini begitu dinormalisasi hingga banyak orang menganggapnya kebutuhan wajib. Selama periode cicilan, jutaan rupiah yang seharusnya bisa diinvestasikan justru habis, sementara nilai mobil terus menurun dan sering kali lebih rendah dari sisa pinjaman.
Mobil memang berguna, tetapi kegunaan tidak otomatis menjadikannya aset. Orang kaya cenderung mengendarai mobil lama yang andal atau menyewa secara strategis, lalu menginvestasikan selisih dananya. Kelas menengah justru membiayai depresiasi dan menyebutnya investasi.
Gelar Pendidikan
Pendidikan sering dipromosikan sebagai investasi terbaik, dan dalam banyak kasus hal itu benar. Namun gelar pendidikan itu sendiri bukan otomatis aset.
Asetnya adalah peningkatan daya penghasilan yang dihasilkan, dan hasil ini sangat bergantung pada bidang studi, institusi, serta kemampuan individu memonetisasi keterampilannya.
Gelar yang mahal tetapi berujung pada pekerjaan bergaji rendah tidak bisa disebut aset. Ia menjadi liabilitas yang menuntut cicilan pinjaman pendidikan bertahun-tahun. Utangnya nyata dan langsung, sementara potensi penghasilannya belum tentu terwujud.
Banyak keluarga kelas menengah mengejar pendidikan karena gengsi, minat pribadi, atau tekanan sosial, dengan asumsi bahwa semua gelar menjamin stabilitas finansial. Asumsi ini mungkin berlaku pada generasi sebelumnya, tetapi tidak sepenuhnya relevan dalam ekonomi saat ini.
Pendidikan tetap bernilai untuk pengembangan diri dan pemikiran kritis. Namun dari sudut pandang finansial murni, pendidikan hanya layak disebut aset jika peningkatan pendapatannya melampaui total biaya yang dikeluarkan.
Tinggalkan Komentar
Komentar