Periskop.id - Perayaan besar di Indonesia, seperti Imlek dan tahun baru, tidak pernah lepas dari kemilau kembang api di angkasa. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat data perdagangan internasional yang menarik untuk dibedah.
Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan data pembanding dari UN Comtrade, industri kembang api Indonesia yang terdaftar dengan kode HS 36041000 menunjukkan dinamika yang cukup kontras antara aktivitas ekspor dan impor sepanjang tahun 2025.
Performa Ekspor
Pada 2025, ekspor kembang api Indonesia mencatatkan angka sebesar US$81,9 ribu dengan total berat mencapai sekitar 7,82 ton. Jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang hanya bernilai US$11,5 ribu, secara nominal terjadi peningkatan fantastis sebesar 609%.
Meskipun nilai dolarnya melonjak tajam, terdapat fakta unik pada sisi volume. Secara berat, ekspor Indonesia sebenarnya mengalami penurunan dari 9,18 ton di tahun 2024 menjadi 7,827 ton di 2025.
Hal ini mengindikasikan adanya kenaikan harga jual per unit atau pergeseran ekspor ke jenis kembang api yang lebih bernilai tinggi namun lebih ringan.
Berikut adalah rincian negara tujuan ekspor kembang api Indonesia pada 2025:
| Negara Tujuan | Nilai Ekspor (US$) | Berat Ekspor (Kg) |
|---|---|---|
| Papua Nugini | 64.069,40 | 5.054,30 |
| Timor Leste | 17.421,30 | 2.748,50 |
| Emirat Arab | 413,72 | 15,00 |
| Total | 81.904,42 | 7.817,80 |
Data ini menunjukkan bahwa pasar utama Indonesia masih berada di negara tetangga, dengan Papua Nugini sebagai konsumen terbesar, disusul oleh Timor Leste.
Dalam peta persaingan global, posisi Indonesia sebagai eksportir kembang api masih tergolong kecil. Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia menduduki peringkat ke 49 dunia.
Posisi puncak tentu saja dikuasai oleh Tiongkok dengan nilai ekspor menembus angka US$1,16 miliar. Di level regional ASEAN, Indonesia bahkan masih tertinggal jauh di bawah Kamboja yang menempati peringkat ke 9 dunia dengan nilai ekspor mencapai US$3,49 juta.
Berikut adalah daftar 10 negara pengekspor kembang api terbesar di dunia dan peringkat Indonesia:
| Peringkat | Negara | Ekspor Kembang Api 2024 (US$) |
| 1 | Tiongkok | 1.161.871.063 |
| 2 | Belanda | 38.450.809 |
| 3 | Polandia | 23.085.715 |
| 4 | Jerman | 22.912.770 |
| 5 | Spanyol | 19.559.768 |
| 6 | Ceko | 17.916.082 |
| 7 | Italia | 11.058.618 |
| 8 | Amerika Serikat | 6.668.486 |
| 9 | Kamboja | 3.493.983 |
| 10 | Swis | 3.460.160 |
| 49 | Indonesia | 11.552 |
Ketergantungan Impor
Berbanding terbalik dengan angka ekspor yang mungil, nafsu impor Indonesia terhadap kembang api justru sangat besar.
Pada 2025, nilai impor kembang api Indonesia mencapai sekitar US$17,6 juta. Angka ini meningkat 14,17% dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara volume, peningkatan impor jauh lebih terasa, yakni naik 23,45% dari 10,6 ribu ton pada 2024 menjadi 13,08 ribu ton pada 2025. Hal yang sangat mencolok adalah seluruh pasokan impor kembang api Indonesia pada 2025 berasal dari satu negara saja, yaitu Tiongkok.
Besarnya volume impor ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain besar dalam mengonsumsi kembang api global. Pada tahun 2024, Indonesia tercatat sebagai negara importir kembang api terbesar ke 13 di dunia.
Posisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sama dengan negara negara maju yang memiliki perayaan besar, seperti Jepang dan Prancis. Di kawasan ASEAN, Indonesia hanya kalah dari Malaysia yang berada di peringkat ke 8 sebagai importir terbesar dunia.
| Peringkat | Negara | Impor Kembang Api 2024 (US$) |
| 1 | Amerika Serikat | 581.204.249 |
| 2 | Jerman | 186.957.018 |
| 3 | Belanda | 72.702.192 |
| 4 | Italia | 42.636.876 |
| 5 | Polandia | 37.775.633 |
| 6 | Britania Raya | 31.035.997 |
| 7 | Jepang | 28.265.749 |
| 8 | Malaysia | 27.990.149 |
| 9 | Prancis | 19.928.456 |
| 10 | Ceko | 19.624.861 |
| 13 | Indonesia | 15.472.858 |
Tingginya angka impor yang menyentuh angka US$17,6 juta pada 2025 ini menunjukkan bahwa permintaan domestik untuk acara-acara besar dan hari raya, seperti tahun baru dan Imlek, masih sangat bergantung pada produk luar negeri.
Tantangan ke depan bagi industri lokal adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi agar defisit perdagangan pada komoditas kembang api ini tidak semakin melebar di tahun-tahun mendatang.
Tinggalkan Komentar
Komentar