periskop.id - Menjelang datangnya puasa Ramadan 2026, banyak umat Muslim mulai memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) untuk melaksanakan ziarah kubur. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk doa bagi anggota keluarga atau kerabat yang telah meninggal dunia. Selain berdoa, para peziarah juga membersihkan area makam dan menabur bunga.

Tradisi ini bukan sekadar berkunjung ke makam lalu pulang begitu saja. Di balik kegiatan tersebut, terdapat manfaat sosial yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Misalnya, pedagang bunga dapat menjual dagangannya, begitu juga pedagang makanan yang memperoleh penghasilan dari para peziarah yang merasa lapar setelah selesai berziarah.

Berdasarkan beberapa hadis, ziarah kubur mengandung berbagai hikmah, salah satunya sebagai pengingat akan kematian. Kesadaran akan kematian ini dapat mendorong manusia untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Salah satu ibadah wajib yang harus dijalankan oleh umat Muslim adalah puasa.

Namun demikian, di kalangan umat Muslim masih terdapat pertanyaan mengenai hukum tradisi ziarah kubur. Oleh karena itu, pada pembahasan berikut akan dijelaskan ketentuan hukumnya berdasarkan hadis.

Hukum Ziarah Kubur

Melansir dari situs BMM, pada masa awal Islam Rasulullah SAW melarang melakukan ziarah kubur. Hal ini karena akidah umat Muslim masih lemah dan baru lepas dari masa jahiliyah sehingga dikhawatirkan mereka akan menyembah kuburan. Akan tetapi, setelah akidah umat Muslim sudah kuat, larangan itu berubah menjadi sebuah anjuran.

Hukum ziarah kubur adalah sunnah, karena tradisi ini mendatangkan hikmah bagi manusia untuk mengingat kematian. Pengingat kematian mendorong individu untuk memperbaiki diri dan menyempurnakan ibadahnya.

Melansir dari situs MUI, anjuran ini tertuang di dalam salah satu sabda Nabi Muhammad SAW:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُهَا فَإِنَّهَا تَرِقُ الْقَلْبِ، وَتَدْمَعُ الْعَيْنِ، وَتَذْكِرُ الْآخِرَةِ، وَلاَ تَقُوْلُوْا هَجْرًا

Artinya: “Aku (Nabi SAW) dulu melarang kamu ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah kamu sekalian, karena sesungguhnya ziarah kubur itu bisa melunakkan hati, menjadikan air mata bercucuran, dan mengingatkan terhadap adanya alam akhirat. Janganlah kamu berkata buruk.” (HR. Hakim)

Berdasarkan hadis di atas, para ulama menganjurkan untuk melakukan ziarah kubur karena tradisi ini mengandung hikmah sebagai pengingat adanya alam akhirat.

Syekh Muhammad Amin al-Kurdi (wafat 1332 H) menegaskan dalam kitabnya:

تُسَنُّ زِيَارَةُ قُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِلرِّجَالِ لِأَجْلِ تَذْكِرِ الْمَوْتِ وَالْآخِرَةِ وَإِصْلاَحِ فَسَادِ الْقَلْبِ وَنَفْعِ الْمَيِّتِ بِمَا يُتْلَى عِنْدَهُ مِنَ الْقُرْآنِ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُهَا. وَلِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الْصَّلاَةُ وَالسَّلاَمَ: اطَّلِعْ فِي الْقُبُوْرِ وَاعْتَبِرْ فِي النُّشُوْرِ. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُ خُصُوْصًا قُبُوْرَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَأَهْلِ الصَّلاَحِ

Artinya: “Disunnahkan menziarahi makam orang-orang Muslim bagi laki-laki untuk mengingat kematian dan adanya alam akhirat, memperbaiki hati, serta memberikan manfaat pada orang yang telah meninggal dengan membacakan ayat-ayat Alquran. Karena terdapat hadis riwayat Imam Muslim: ‘Aku (Nabi) pernah melarang kamu berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah.’ Dan juga sabda Rasulullah SAW: ‘Berziarahlah ke kubur dan ambillah teladan tentang adanya hari kebangkitan.’ (HR. Al-Baihaqi). Terlebih kuburan para nabi, wali, dan orang-orang saleh.” (Tanwir al-Qulub fi Mu’amalah ‘Allam al-Ghuyub [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah], h. 261)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ziarah kubur adalah tradisi yang diperbolehkan dalam hukum Islam. Ziarah kubur memiliki hikmah penting sebagai pengingat kematian bagi umat Muslim yang masih hidup. Oleh karena itu, perbaikilah diri dengan meningkatkan kualitas ibadah, salah satunya menjalani ibadah puasa Ramadan.

Bacaan Doa Ziarah Kubur

Berikut bacaan doa ziarah kubur yang dilansir situs NU Lampung.

1. Ucapkan salam kepada ahli kubur “Assalamu ‘ala ahlid diyar minal mu’minîna wal muslimîn wa yarhamullahul-mustaqdimîn minkum wa minna wal musta’khirîn, wa inna insya-Allahu bikum lahiqun”

Artinya: “Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian serta kami. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian.”

2. Baca Al-Fatihah Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Kau anugerahi nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Amin.”

3. Surah Al-Ikhlas (3 kali) Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”

4. Tahlil dan Takbir Artinya: “Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar.”

5. Surah Al-Falaq Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang dengki apabila ia mendengki.”

6. Surah An-Nas Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, baik dari jin maupun manusia.”

7. Tahlil dan Takbir Artinya: “Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar.”

8. Surah Al-Baqarah ayat 163 Artinya: “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

9. Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) Artinya: “Allah, tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Dia, Yang Hidup kekal lagi berdiri sendiri. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat menjaga keduanya. Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

10. Surah Al-Baqarah ayat 284–286 Artinya: “Hanya milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi. Jika kamu menyatakan atau merahasiakan apa yang ada di hatimu, Allah tetap memperhitungkannya. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasulullah dan orang-orang beriman mempercayai apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata, ‘Kami mendengar dan kami menaati. Ampunan-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami harapkan. Hanya kepada-Mu tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. Ia mendapat balasan atas apa yang diperbuat dan siksaan atas apa yang dilakukan. ‘Tuhan kami, janganlah Kau hukum kami jika kami lupa atau salah. Tuhan kami, jangan Kau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Kau bebankan kepada orang sebelum kami. Jangan pula Kau bebankan kepada kami sesuatu yang kami tidak mampu. Ampunilah kami, kasihanilah kami. Engkaulah pemimpin kami. Tolonglah kami menghadapi kaum kafir.’”