periskop.id - Bukber yang seharusnya untuk silaturahmi dan temu kangen dengan teman lama, kini dipandang sebagai momen flexing atau pamer kehidupan.

Masuk minggu kedua Ramadan, agenda buka puasa bersama biasanya mulai bermunculan. Restoran dan kafe dipadati pengunjung menjelang waktu berbuka, bahkan banyak tempat yang sudah penuh reservasi sehingga tak lagi menerima tamu.

Di saat yang sama, grup-grup WhatsApp pun ikut ramai, dipenuhi obrolan soal rencana bukber hingga penentuan lokasi yang dianggap paling cocok untuk berkumpul.

Ajang Flexing Pencapaian

Belakangan ini, nggak sedikit acara bukber yang berubah menjadi ajang flexing pencapaian pribadi. Percakapan sering berubah dari sekadar melepas rindu menjadi saling membandingkan pekerjaan, besaran gaji, posisi karier, hingga pengalaman liburan dan barang-barang mahal yang dimiliki. Situasi seperti ini tanpa sadar menciptakan suasana kompetitif, bukan lagi kebersamaan yang santai.

Akibatnya, sebagian orang justru merasa nggak nyaman berada di situasi obrolan semacam itu. mereka yang tidak terbiasa dengan budaya pamer, suasana bukber bisa memicu rasa cemas, minder, bahkan menurunkan kepercayaan diri.

Alih-alih menikmati pertemuan, mereka lebih banyak diam, kehilangan mood, dan berharap acara segera selesai. Lingkungan yang dipenuhi flexing membuat momen yang seharusnya hangat justru terasa melelahkan secara emosional.

Ajang Adu Outfit

Selain tempat dan menu, penampilan juga kerap menjadi sorotan dalam acara buka puasa bersama. Banyak orang mempersiapkan outfit terbaiknya jauh-jauh hari-mulai dari baju baru, tas favorit, hingga sepatu yang paling stylish.

Bukber pun terasa seperti momen “tampil maksimal”, bukan sekadar datang untuk makan dan berkumpul. Tanpa disadari, muncul semacam kompetisi gaya yang tidak pernah diucapkan secara langsung. Ada yang ingin terlihat paling rapi, paling modis, atau paling standout di antara yang lain.

Apalagi jika lokasi bukber berada di tempat yang estetik atau populer, dorongan untuk tampil “niat” semakin besar, terlebih demi foto bersama yang untuk diunggah di media sosial.

Jadi, Bukber Itu Tentang Apa?

Di situasi perubahan yang terjadi, bukber sejatinya bukan di wajibkan tempat mewah, outfit terbaik, atau seberapa “terlihat” kehidupan seseorang di mata orang lain. Buka puasa bersama adalah kebersamaan, duduk satu meja, berbagi makanan, saling mendengar cerita, dan merasakan hangatnya hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan.

Ramadan sendiri mengajarkan kesederhanaan, empati, dan kemampuan menahan diri, bukan justru melihatkan siapa yang paling unggul. Bukber itu menjadi ruang di mana semua orang merasa diterima apa adanya, tanpa tekanan untuk tampil sempurna atau menunjukkan pencapaian tertentu. Bahkan bukber paling sederhana sekalipun bisa terasa sangat berkesan jika dipenuhi tawa, kejujuran, dan rasa saling menghargai.