periskop.id - Nvidia Corporation berhasil menggalang dana senilai US$25 miliar melalui penerbitan obligasi di pasar Amerika Serikat, Selasa (16/6). Ini menjadi aksi pendanaan perdana perusahaan di pasar utang sejak 2021.

Minat investor terhadap surat utang tersebut jauh melampaui target awal. Target penghimpunan semula dipatok sekitar US$20 miliar, namun derasnya permintaan mendorong Nvidia menaikkan nilai penerbitan hingga US$25 miliar.

Advertisement

Total permintaan yang masuk bahkan menyentuh sekitar US$85 miliar, atau lebih dari tiga kali lipat nilai obligasi yang diterbitkan. Mayoritas minat itu disebut berasal dari investor domestik Amerika Serikat.

Obligasi diterbitkan dalam tujuh seri dengan tenor berbeda, dengan masa jatuh tempo terjauh hingga tahun 2056. Penerbitan ini dinilai cukup mengejutkan pasar, mengingat Nvidia tidak banyak memberikan sinyal sebelumnya.

Tercatat, perusahaan sudah lima tahun tidak menyentuh pasar obligasi berperingkat investasi. Penerbitan terakhir Nvidia di pasar utang terjadi pada Juni 2021, senilai US$5 miliar.

Juru bicara Nvidia menyampaikan, dana hasil penerbitan obligasi ini akan dipakai untuk keperluan umum perusahaan. Termasuk di dalamnya pelunasan dan refinancing surat utang yang masih beredar.

Namun, salah satu sumber mengungkapkan tujuan utama yang lebih strategis di balik langkah tersebut. Menurut sumber itu, aksi korporasi ini lebih bertujuan membangun tolok ukur biaya kredit (credit benchmark) yang likuid, bukan semata-mata mendanai belanja modal dalam jumlah besar.

Nvidia juga disebut sengaja membatasi nilai penerbitan di angka US$25 miliar guna menjaga spread kredit tetap rendah. Strategi ini berbeda dengan sejumlah perusahaan teknologi raksasa atau hyperscalers yang tengah agresif mencari pendanaan untuk memperbesar investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Tren penerbitan obligasi di kalangan raksasa teknologi memang sedang menggeliat. Meta Platforms pada Oktober lalu mengajukan penerbitan obligasi hingga US$30 miliar, sementara Alphabet bulan lalu mengungkap rencana obligasi berdenominasi yen Jepang untuk pertama kalinya.

Lonjakan minat terhadap pendanaan AI juga tercermin dari proyeksi belanja global. Pengeluaran gabungan untuk pengembangan AI diperkirakan melampaui US$700 miliar sepanjang 2026, naik dari sekitar US$400 miliar pada 2025.

Meski tidak membangun pusat data berskala masif seperti para hyperscalers, Nvidia tetap menikmati lonjakan permintaan berkat dominasi chip AI-nya. Prosesor buatan Nvidia menjadi tulang punggung pelatihan dan pengoperasian model kecerdasan buatan yang kian canggih.

Untuk mempertahankan posisi tersebut, Nvidia terus mempercepat siklus inovasi dengan meluncurkan generasi chip terbaru setiap tahun. Per kuartal yang berakhir April 2026, kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar US$13,24 miliar.

Saham Nvidia ditutup menguat 3,3% pada perdagangan Senin (15/6). Dalam transaksi penerbitan obligasi ini, Goldman Sachs, JPMorgan, dan Morgan Stanley bertindak sebagai bookrunner atau penjamin emisi.