periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup solid di level 6.232,25, melesat 224,59 poin atau setara 3,74% dari penutupan sebelumnya. Reli ini didukung likuiditas besar dan aksi beli yang konsisten sepanjang sesi.
Sejak pembukaan di level 6.118,7, indeks bergerak dalam zona hijau tanpa sempat menyentuh teritori negatif. IHSG sempat menembus level tertinggi harian di 6.345,80 sebelum terkoreksi tipis akibat aksi ambil untung pada sesi sore, namun mampu mempertahankan sebagian besar kenaikannya hingga penutupan.
Aktivitas transaksi turut mencerminkan antusiasme pelaku pasar. Nilai perdagangan tercatat mencapai Rp28,5 triliun, dengan volume melampaui 526 juta lot dan frekuensi transaksi menembus 3,19 juta kali sepanjang hari.
Di jajaran saham big cap, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampil sebagai salah satu penopang utama indeks. Saham perbankan terbesar di Indonesia itu naik 5,49% ke posisi Rp6.250, setelah dibuka di Rp6.100 dan sempat menyentuh harga tertinggi Rp6.425 dalam sesi tersebut.
Nilai transaksi BBCA sepanjang hari mencapai sekitar Rp2,8 triliun dengan volume lebih dari 4,4 juta lot, menjadikannya salah satu saham dengan likuiditas terbesar di antara seluruh emiten yang diperdagangkan.
Dari kelompok saham lapis kedua, PT Dewa Andalan Energi Tbk (DEWA) turut mencuri perhatian pasar. Saham sektor energi ini melonjak 12,12% ke level Rp370 setelah dibuka di Rp348, sempat menyentuh Rp406 di puncak sesi. Nilai transaksinya melampaui Rp771 miliar dengan volume 20,63 juta lot.
Penguatan paling spektakuler datang dari PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Saham ini melesat 24,53% hanya dalam satu hari perdagangan, dari harga pembukaan Rp560 hingga ditutup di Rp660 yang sekaligus menjadi level tertinggi harian.
Selama sesi berlangsung, tekanan beli mendominasi pergerakan BRMS tanpa memberikan ruang berarti bagi aksi jual. Nilai transaksi saham ini tercatat mencapai Rp446 miliar dengan volume lebih dari 7 juta lot.
Di tengah euforia pasar, tidak semua saham ikut menguat. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) justru bergerak berlawanan arah, terkoreksi 1,21% ke level Rp815. Saham ini sempat dibuka di Rp875 dan menyentuh tertinggi Rp895, sebelum tekanan jual membawanya turun hingga Rp810.
Tekanan lebih dalam dialami PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ASPR). Saham ini anjlok 8,80% ke Rp197 setelah dibuka di Rp216. Harga sempat menyentuh Rp184 sebelum sedikit pulih menjelang penutupan, dengan nilai transaksi lebih dari Rp1,3 miliar dan volume sekitar 6,36 juta lot.
Penutupan IHSG di atas level 6.200 dinilai sebagai modal penting untuk membangun kepercayaan pasar jangka pendek. Selama likuiditas tetap terjaga dan saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi tujuan utama aliran dana investor, peluang indeks melanjutkan penguatan disebut masih terbuka.
Meski demikian, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan dalam beberapa hari ke depan. Pelaku pasar dinilai akan terus memantau rotasi sektor dan potensi aksi ambil untung yang bisa muncul sewaktu-waktu setelah reli yang cukup tajam ini.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar