Periskop.id - Ketegangan geopolitik kembali meningkat di kawasan Timur Tengah setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut kembali menyeret kawasan yang selama ini rawan konflik itu ke dalam konfrontasi militer baru.

Dalam dinamika geopolitik Timur Tengah, kehadiran militer Amerika Serikat memainkan peran penting. Negeri itu memiliki sejumlah pangkalan militer strategis yang tersebar di berbagai negara kawasan untuk mendukung operasi militer, pengintaian, serta kerja sama pertahanan dengan sekutu regional.

Melansir Reuters dan Visual Capitalist, berikut sejumlah pangkalan militer utama Amerika Serikat di Timur Tengah yang menjadi bagian dari jaringan pertahanan dan operasi militer global Washington.

Bahrain

Bahrain menjadi salah satu pusat penting kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Negara kecil di Teluk Persia ini menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Armada tersebut memiliki wilayah tanggung jawab yang sangat luas. Cakupannya meliputi Teluk Persia, Laut Merah, Laut Arab, serta sebagian wilayah Samudra Hindia.

Di Bahrain terdapat dua fasilitas militer utama yang digunakan oleh Amerika Serikat, yaitu NSA Bahrain yang sepenuhnya dikendalikan oleh AS dan Pangkalan Udara Sheikh Isa yang berada di bawah kendali pemerintah Bahrain.

Qatar

Qatar menjadi lokasi salah satu pangkalan militer Amerika Serikat paling penting di kawasan, yaitu Pangkalan Udara Al Udeid.

Pangkalan yang terletak di gurun di luar ibu kota Doha ini memiliki luas sekitar 24 hektare. Al Udeid berfungsi sebagai markas depan Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command atau CENTCOM).

CENTCOM bertanggung jawab atas operasi militer AS di wilayah yang sangat luas, mulai dari Mesir di bagian barat hingga Kazakhstan di bagian timur.

Al Udeid juga menjadi pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah dengan kapasitas sekitar 10.000 personel militer. Fasilitas ini sepenuhnya dikendalikan oleh militer Amerika Serikat.

Kuwait

Kuwait juga menjadi lokasi sejumlah instalasi militer penting milik Amerika Serikat. Negara ini berfungsi sebagai pusat logistik dan persiapan bagi pasukan AS yang bertugas di kawasan.

Beberapa pangkalan militer AS yang berada di Kuwait antara lain:

  • Camp Buehring
  • Pangkalan Udara Al Jaber
  • Pangkalan Udara Ali Al Salem
  • Camp Arifjan
  • Pangkalan Udara Al Mubarak

Camp Arifjan berfungsi sebagai markas depan U.S. Army Central, sementara Pangkalan Udara Ali Al Salem terletak sekitar 40 kilometer dari perbatasan Irak. Pangkalan ini dijuluki “The Rock” karena lokasinya yang terpencil dan kondisi lingkungan yang keras.

Sementara itu, Camp Buehring didirikan selama Perang Irak pada 2003 dan berfungsi sebagai titik persiapan bagi unit Angkatan Darat AS sebelum dikerahkan ke Irak maupun Suriah.

Seluruh fasilitas militer tersebut berada di bawah kendali penuh Amerika Serikat.

Uni Emirat Arab

Di Uni Emirat Arab, Amerika Serikat mengoperasikan Pangkalan Udara Al Dhafra yang terletak di selatan ibu kota Abu Dhabi.

Pangkalan ini digunakan bersama oleh Angkatan Udara UEA dan militer Amerika Serikat. Fasilitas tersebut menjadi pusat penting bagi operasi udara AS, termasuk misi melawan kelompok ISIS serta operasi pengintaian di kawasan.

Selain itu, Pelabuhan Jebel Ali di Dubai juga memiliki peran strategis bagi militer AS. Walaupun bukan pangkalan militer resmi, pelabuhan ini menjadi tempat persinggahan terbesar bagi Angkatan Laut AS di Timur Tengah.

Kapal induk dan kapal perang Amerika Serikat secara rutin singgah di pelabuhan ini.

Pangkalan Udara Al Dhafra berada di bawah kendali Amerika Serikat, sementara Pelabuhan Jebel Ali dikelola oleh pemerintah Uni Emirat Arab.

Irak

Amerika Serikat juga mempertahankan kehadiran militernya di Irak melalui beberapa pangkalan penting.

Salah satunya adalah Pangkalan Udara Ain Al Asad yang berada di Provinsi Anbar, Irak bagian barat. Pangkalan ini digunakan untuk mendukung pasukan keamanan Irak dan mendukung berbagai misi NATO di kawasan.

Pangkalan tersebut juga pernah menjadi target serangan rudal Iran pada 2020 sebagai balasan atas pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani oleh militer AS.

Selain itu terdapat Pangkalan Udara Erbil yang berada di wilayah semi otonom Kurdistan di Irak utara. Pangkalan ini menjadi pusat operasi bagi pasukan Amerika Serikat dan koalisi internasional.

Fasilitas ini juga mendukung berbagai kegiatan militer seperti pelatihan, pertukaran intelijen, serta koordinasi logistik di wilayah Irak utara.

Kedua pangkalan ini berada di bawah kendali pemerintah Irak.

Arab Saudi: Dukungan Pertahanan Udara dan Rudal

Amerika Serikat juga menempatkan personel militernya di Arab Saudi. Berdasarkan surat Gedung Putih pada 2024, terdapat sekitar 2.321 personel militer AS yang bertugas di negara tersebut.

Kehadiran militer Amerika di Arab Saudi berfokus pada kerja sama pertahanan udara dan sistem pertahanan rudal.

Sebagian pasukan ditempatkan di Pangkalan Udara Prince Sultan, yang berada sekitar 60 kilometer di selatan Riyadh. Pangkalan ini mendukung operasi berbagai sistem pertahanan militer AS seperti Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Selain itu, terdapat pula Pangkalan Udara King Faisal yang juga digunakan oleh militer Amerika Serikat.

Kedua pangkalan ini berada di bawah kendali pemerintah Arab Saudi.

Yordania

Di Yordania, militer Amerika Serikat menggunakan Pangkalan Udara Muwaffaq al Salti yang terletak di kota Azraq, sekitar 100 kilometer timur laut ibu kota Amman.

Pangkalan ini menjadi markas bagi 332nd Air Expeditionary Wing dari U.S. Air Forces Central.

Unit ini menjalankan berbagai misi militer di kawasan Levant, termasuk operasi pengawasan udara dan dukungan bagi operasi militer regional.

Menurut laporan Library of Congress tahun 2024, pangkalan ini memainkan peran penting dalam koordinasi operasi militer Amerika Serikat di kawasan.

Pangkalan udara tersebut berada di bawah kendali pemerintah Yordania.

Dengan berbagai daftar tersebut, kehadiran jaringan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah menunjukkan betapa strategisnya kawasan tersebut dalam kepentingan geopolitik global.