Periskop.id - Dalam beberapa tahun terakhir, politik global menunjukkan tren yang menarik. Sejumlah tokoh kuat semakin mendominasi panggung politik di berbagai negara besar.
Fenomena ini terlihat di banyak negara dengan populasi besar seperti India, China, Amerika Serikat, Indonesia, dan Pakistan.
Di India, Narendra Modi kembali memperoleh momentum politik setelah lebih dari satu dekade mendominasi pemerintahan.
Di China, Xi Jinping menjadi pemimpin paling berpengaruh sejak era Mao Zedong. Di Amerika Serikat, Donald Trump dikenal sebagai sosok yang mengubah arah politik domestik maupun kebijakan luar negeri secara drastis.
Di Indonesia, Prabowo Subianto dinilai berupaya membangun kembali citra politik yang pernah dikaitkan dengan rezim militer di masa lalu. Sementara di Pakistan, Jenderal Asim Munir terus memperkuat konsolidasi kekuasaan.
Munculnya figur figur kuat ini tidak terjadi secara kebetulan. Banyak peneliti melihat fenomena ini sebagai bagian dari dinamika psikologi manusia dan cara masyarakat merespons situasi sosial, ekonomi, serta politik.
Mengapa Manusia Cenderung Mengikuti Pemimpin Kuat?
Untuk memahami fenomena ini, penting melihat bagaimana masyarakat manusia terbentuk. Pada dasarnya, masyarakat dibangun oleh individu individu dengan karakter dan cara berpikir yang sama sebagai manusia. Dalam hampir semua masyarakat, hierarki sosial selalu muncul secara alami.
Hierarki sosial adalah struktur yang menempatkan individu pada posisi tertentu dalam kelompok. Ada orang yang memimpin, dan ada yang mengikuti.
Otak manusia secara alami sangat peka terhadap hierarki ini. Dalam kehidupan sehari hari, manusia terus mengamati siapa yang memiliki pengaruh, siapa yang memiliki kekuasaan, dan siapa yang menjadi panutan dalam kelompok.
Dalam konteks ini, mengacu pada artikel “The Evolution of Prestige: Freely Conferred Deference as A Mechanism for Enhancing The Benefits of Cultural Transmission”, kepemimpinan biasanya muncul melalui dua jalur utama.
Pertama adalah dominasi. Pemimpin memperoleh posisi tinggi karena kekuatan, pengaruh, atau kemampuan memaksa orang lain mengikuti mereka.
Kedua adalah prestise. Dalam model ini, seseorang dihormati karena kompetensi, pengetahuan, atau kemampuan yang dikagumi orang lain.
Kedua jenis kepemimpinan ini telah lama menjadi bagian dari struktur sosial manusia. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang cenderung mengikuti pemimpin, terutama ketika mereka merasa tidak ingin memikul tanggung jawab memimpin kelompok sendiri.
Dengan kata lain, kecenderungan mengikuti pemimpin bukan hanya faktor politik. Hal itu juga berkaitan dengan cara kerja otak manusia dalam kehidupan sosial.
Dominasi dan Prestise Dalam Politik Modern
Penjelasan mengenai dua jenis kepemimpinan ini juga dibahas dalam artikel jurnal berjudul “When Do People Prefer Dominant Over Prestigious Political Leaders?”.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti membedakan dua tipe status sosial dalam kepemimpinan politik.
Dominasi didefinisikan sebagai status tinggi yang diperoleh melalui paksaan, kekuatan, atau rasa takut. Sementara prestise didefinisikan sebagai status tinggi yang diperoleh melalui kompetensi, keahlian, dan kekaguman masyarakat.
Penelitian sebelumnya sering mengaitkan keberhasilan pemimpin populis sayap kanan dengan gaya kepemimpinan dominan. Tokoh seperti Donald Trump misalnya sering dianggap sebagai contoh pemimpin yang memanfaatkan citra kekuatan dan ketegasan dalam politik.
Beberapa penelitian juga menyebut bahwa masyarakat cenderung lebih menyukai pemimpin dominan ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi atau konflik antarkelompok.
Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa realitas politik jauh lebih kompleks.
Ideologi Politik Lebih Berpengaruh Daripada Ekonomi
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menguji kembali teori yang menyebut bahwa krisis ekonomi membuat masyarakat lebih memilih pemimpin dominan.
Hasilnya menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi tidak selalu menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan politik.
Data dari World Values Survey (WVS) menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi dan konflik antarkelompok dapat meningkatkan dukungan terhadap kepemimpinan secara umum, baik pemimpin dominan maupun pemimpin berprestise.
Artinya, dalam situasi sulit, masyarakat cenderung mencari pemimpin secara umum, bukan hanya pemimpin yang kuat secara dominan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa persepsi masyarakat terhadap seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh ideologi politik mereka.
Seseorang yang memiliki pandangan politik konservatif cenderung melihat pemimpin konservatif sebagai pemimpin berprestise dan melihat pemimpin liberal sebagai pemimpin dominan.
Sebaliknya, pemilih liberal cenderung memandang pemimpin liberal sebagai figur berprestise dan melihat pemimpin konservatif sebagai dominan.
Hal ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap karakter pemimpin tidak sepenuhnya objektif, tetapi sangat dipengaruhi oleh kesamaan ideologi antara pemimpin dan pemilih.
Peran Emosi dalam Keberhasilan Politik
Penelitian tersebut juga menemukan faktor lain yang mungkin menjelaskan keberhasilan pemimpin populis dalam politik modern, yaitu cara mereka menyampaikan pesan politik.
Pesan politik yang sederhana, konkret, emosional, atau bernada negatif cenderung lebih mudah menyebar dan lebih mudah diingat masyarakat.
Wacana politik populis sering kali memiliki karakteristik ini. Pesannya biasanya sederhana, langsung, dan penuh emosi.
Namun karakteristik ini tidak hanya dimiliki oleh politisi populis sayap kanan. Beberapa tokoh dari kelompok lain juga menggunakan gaya komunikasi yang serupa.
Contohnya adalah pidato aktivis lingkungan Greta Thunberg di Perserikatan Bangsa Bangsa yang juga memiliki muatan emosional tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa emosi memainkan peran penting dalam komunikasi politik modern.
Fenomena Global yang Masih Terus Berkembang
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa meningkatnya popularitas pemimpin populis tidak bisa dijelaskan hanya dengan faktor ekonomi atau gaya dominasi semata.
Faktor ideologi, identitas kelompok, dan cara komunikasi politik juga memainkan peran besar dalam membentuk preferensi pemilih.
Para peneliti menekankan bahwa memahami fenomena ini membutuhkan pendekatan lintas disiplin yang melibatkan psikologi, ilmu politik, serta ilmu sosial lainnya.
Dengan kata lain, dominasi individu dalam politik global saat ini bukan sekadar soal kekuatan pribadi seorang pemimpin. Fenomena ini merupakan hasil interaksi kompleks antara psikologi manusia, dinamika sosial, serta perubahan cara masyarakat berkomunikasi dan memahami politik.
Tinggalkan Komentar
Komentar