periskop.id - Pada awal April 2026, suhu Gunung Slamet diketahui meningkat dan mencapai sekitar 464 derajat Celsius. Lonjakan suhu yang cukup tinggi di kawah Gunung Slamet membuat pihak berwenang meningkatkan kewaspadaan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun resmi memperluas jarak aman bagi masyarakat, dari yang sebelumnya lebih dekat kini menjadi sekitar 3 kilometer dari kawah puncak.
Langkah ini diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas gunung, baik yang terlihat secara langsung maupun dari alat pemantau dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini juga membuat seluruh jalur pendakian di Gunung Slamet resmi ditutup sejak 5 April 2026. Kenaikan suhu yang terdeteksi lewat pemantauan drone termal juga menjadi tanda kuat bahwa ada pergerakan magma yang semakin mendekati permukaan.
Dalam waktu singkat, suhu di area puncak naik cukup drastis, dari sekitar 200 derajat celsius menjadi 411 derajat, lalu kembali meningkat hingga mencapai 463 derajat Celsius pada 4 April 2026.
Penyebab Suhu Ekstrem Gunung Slamet, Ini Pemicunya
Penyebab utama naiknya suhu ekstrem di kawah Gunung Slamet hingga mencapai sekitar 464°C diduga karena meningkatnya tekanan gas dari magma di dalam gunung.
Berdasarkan data dari Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), ada beberapa faktor yang menjelaskan kondisi ini. Salah satunya adalah pergerakan magma atau fluida dari dalam bumi ke arah yang lebih dekat ke permukaan. Proses ini membuat suhu di sekitar kawah ikut meningkat.
Selain itu, kenaikan suhu juga berkaitan dengan proses pelepasan gas dari magma ke permukaan, yang dikenal sebagai degassing. Sejak awal April 2026, terlihat hembusan gas berwarna putih yang naik hingga sekitar 300 meter di atas kawah, menandakan aktivitas ini sedang berlangsung.
Di sisi lain, munculnya rekahan baru di dalam kawah juga ikut memperkuat keluarnya gas panas. Awalnya, panas hanya terpusat di bagian tengah kawah, tapi kini mulai menyebar hingga ke area sekitar dinding kawah.
Aktivitas ini terjadi karena suplai magma dari dalam bumi masih terus berlangsung dan terpantau melalui berbagai alat pemantauan. Kenaikan suhu ini tergolong cukup signifikan, mengingat dalam kondisi normal suhu kawah Gunung Slamet biasanya berada di bawah 200°C.
Selain itu, perubahan juga terdeteksi dari stasiun pemantauan di Blambangan yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Awalnya, kondisi menunjukkan adanya pengembangan atau pembengkakan tubuh gunung (inflasi). Namun sekarang, justru berubah menjadi penyusutan (deflasi), dengan titik perubahan terpantau di ketinggian sekitar 1.800 mdpl.
Sebagai langkah antisipasi, pihak berwenang telah menutup seluruh jalur pendakian dan memperluas zona aman menjadi sekitar 3 kilometer dari kawah puncak, guna mengurangi risiko jika terjadi aktivitas yang lebih besar.
Tinggalkan Komentar
Komentar