periskop.id - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Modal yang diincar dari aksi ini mencapai Rp4,76 triliun.
Pada aksi rights issue kali ini, perseroan akan menerbitkan sebanyak 89,91 miliar saham baru Seri E dengan harga pelaksanaan Rp53 per saham. Jumlah saham yang ditawarkan itu setara 34,15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Dengan demikian, setiap pemegang 27 saham lama berhak memperoleh 14 HMETD.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/5) dua pemegang saham utama BNBR, yakni Port Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltd, disebut tidak akan melaksanakan seluruh haknya dan mengalihkan HMETD kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) selaku pembeli siaga. Secara total, BCI akan menerima sekitar 40,08 miliar HMETD dengan nilai pelaksanaan sekitar Rp2,12 triliun.
Selain itu, BCI juga menyatakan kesiapan menyerap seluruh sisa saham yang tidak diambil pemegang saham lain dengan nilai maksimal mencapai Rp4,76 triliun.
Manajemen BNBR menjelaskan mayoritas dana rights issue akan digunakan untuk memperbaiki struktur keuangan grup. Sekitar Rp4,36 triliun dialokasikan untuk memberikan pinjaman kepada anak usaha BTI guna melunasi kewajiban kepada Hartman International Pte. Ltd. sebesar Rp3,66 triliun dan utang kepada PT Bank Nationalnobu Tbk senilai Rp700 miliar.
Sementara itu, Rp200 miliar akan digunakan untuk modal kerja proyek anak usaha BCONS, sedangkan Rp40 miliar dipakai sebagai penyertaan modal proyek pembangunan rest area di jalan tol Cimanggis–Cibitung melalui entitas CCT. Sisanya akan digunakan untuk modal kerja perseroan.
Dari sisi kinerja, BNBR membukukan laba bersih Rp502,7 miliar pada 2025, naik 49,6% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp336 miliar. Namun, total liabilitas perseroan melonjak tajam menjadi Rp18,89 triliun dari Rp2,91 triliun pada 2024.
Total aset BNBR juga meningkat signifikan menjadi Rp23,56 triliun pada 2025, terutama ditopang pengakuan hak konsesi jalan tol sebesar Rp15,02 triliun.
Perseroan mengingatkan pemegang saham lama yang tidak melaksanakan HMETD akan mengalami dilusi kepemilikan hingga 34,15% setelah rights issue berlangsung. Perdagangan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni hingga 13 Juli 2026.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar